Zio memilih taman setelah beberapa kali membicarakan keinginannya kepada Laura. Ia ingin bertemu Brian sambil menggambar, bukan duduk menunggu makanan dan mencari percakapan seperti di kafe. Paling lama satu jam, dengan ibunya tetap berada di dekatnya.
Fiona tidak ingin ikut. Ia meminta dapat pergi ke toko buku bersama Vania jika sahabat ibunya mempunyai waktu. Laura menanyakan kesediaan Vania sebelum mengatur jadwal pertemuan, lalu memastikan Fiona mengetahui tempat, jam, dan cara menghubungi ibunya.
Brian menerima rencana taman melalui pesan. Ia menyetujui tidak membawa tamu tambahan, tidak mengambil foto tanpa izin, dan tidak menawarkan hadiah besar yang membuat Zio merasa harus tinggal lebih lama. Laura meminta ia memberi kabar jika terlambat, supaya mereka tidak menunggu tanpa kejelasan.
Pada pagi yang dipilih, Laura dan Zio berangkat setelah Fiona bersama Vania sesuai rencana. Zio membawa map gambar, pensil, air, dan topi. Ia beberapa kali memeriksa apakah pensil sudah diraut. Laura bertanya apakah ingin berhenti menyiapkan sebentar, dan putranya tertawa karena menyadari telah membuka map yang sama berkali-kali.
Mereka tiba dan memilih bangku yang dapat dilihat dari jalur taman. Laura duduk dekat, tidak menyembunyikan diri seolah kehadirannya akan merusak kesempatan Brian mengenal anaknya. Zio mengeluarkan kertas, lalu menunggu sambil memandang orang yang berjalan melewati pepohonan.
Brian datang tepat waktu. Ia menyapa Laura, kemudian bertanya apakah boleh duduk di sisi bangku yang masih kosong. Zio mengangguk. Tidak ada pelukan yang diminta sebelum mereka mulai berbicara.
'Mau menggambar apa?' tanya Brian.
'Belum tahu. Mungkin pohon itu.'
Zio menunjuk batang yang terlihat dari tempat duduk. Brian memandang arahnya dan mengatakan bentuknya menarik, lalu berhenti. Ia tidak langsung mengambil pensil atau menunjukkan bagaimana seharusnya garis dibuat.
Sekitar dua puluh menit mereka duduk dengan percakapan yang terputus-putus. Zio menggambar, Brian menanyakan bagian yang memang sedang dikerjakan, dan Laura sesekali mengingatkan air minum. Tidak semua keheningan perlu diisi dengan pertanyaan tentang sekolah atau kerinduan.
Angin sempat membuat satu kertas kosong jatuh dari map. Brian berdiri mengambilnya sebelum terlalu jauh, lalu mengembalikan kepada Zio tanpa membuka lembar lain yang masih tersimpan. Zio mengucapkan terima kasih dan menindih sudut map dengan tempat pensil. Laura melihat gerakan kecil itu sambil menahan keinginan menyiapkan semuanya agar tidak ada gangguan sedikit pun. Taman memang mempunyai angin, orang lewat, dan suara yang tidak dapat mereka atur. Yang penting putranya tetap mengetahui ia dapat meminta berhenti, bukan harus duduk sampai semua gambar selesai demi memenuhi rencana orang dewasa.
Ketika kertas hampir penuh, Zio meletakkan pensil. Brian mengatakan ia pernah banyak memikirkan masa lalu dan ingin menjelaskan beberapa hal. Laura menatap anaknya, memberi kesempatan menentukan apakah ingin mendengar.
'Tentang apa?' tanya Zio.
'Tentang kenapa dulu banyak hal terjadi.'
Zio memegang sudut map. Ia berkata belum ingin membicarakan itu hari ini. Brian terlihat kecewa, tetapi mengangguk dan tidak melanjutkan kalimat yang sudah disiapkan. Laura tidak menjawab alasan perceraian atas nama siapa pun di bangku taman tersebut.
'Kita bisa tetap lihat gambar,' kata Zio setelah beberapa saat.
'Baik,' jawab Brian.
Putranya menunjukkan garis cabang yang belum disukai. Brian menanyakan apakah ia ingin komentar atau hanya memperlihatkan. Zio mengatakan hanya ingin menunjukkan. Brian menerima, dan Laura merasakan ketegangan pada bahunya perlahan berkurang.
Mereka kemudian berjalan pendek di jalur yang dipilih Zio, tetap bersama Laura. Brian tidak mengajak pergi lebih jauh untuk membeli sesuatu. Ketika melewati penjual makanan, ia bertanya apakah Zio ingin berhenti. Anak itu menjawab tidak dan melanjutkan berjalan.
Di dekat tempat yang lebih teduh, Zio bertanya apakah ayahnya masih menerima pesan kalau ia tidak ingin menelepon. Brian menjawab iya. Ia akan menunggu ketika Zio ingin menyampaikan sesuatu, tanpa menjadikan satu pertemuan sebagai persetujuan menerima panggilan setiap hari.
'Aku kadang tidak tahu mau cerita apa,' kata Zio.
'Kalau belum ada, tidak harus mencari cerita,' jawab Brian.
Laura mendengarkan dengan hati-hati. Ia tidak ingin satu kalimat yang baik membuatnya menyatakan semua kepercayaan sudah kembali. Namun tindakan Brian menahan penjelasan yang tidak diminta dan mengikuti jalur yang dipilih Zio adalah hal nyata yang dapat dilihat hari itu.
Belum satu jam berlalu ketika Zio mengatakan ingin pulang. Laura menanyakan apakah sudah yakin, lalu membantu merapikan kertas setelah putranya mengangguk. Brian mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia bertemu dan tidak meminta tambahan waktu untuk mengganti bagian yang tadi ditolak.
Zio memilih memberi salam singkat. Ia tidak menyerahkan gambar dan tidak menjanjikan akan mengirimkannya. Laura berpamitan setelah memastikan kendaraan pulang, lalu meninggalkan taman bersama putranya.
Dalam perjalanan, Zio mengatakan ia senang dapat menggambar tanpa harus mendengar penjelasan yang belum siap diterima. Ia juga merasa capek. Laura menerima keduanya dan bertanya apakah ingin langsung menjemput Fiona atau pulang lebih dulu sesuai waktu yang masih memungkinkan.
Mereka menghubungi Vania sebelum mengubah rencana. Sahabatnya mengatakan Fiona masih memilih buku dan dapat selesai pada jam yang sudah ditentukan. Laura mempertahankan jadwal semula, tidak membuat orang lain mendadak mengakhiri kegiatan hanya karena pertemuan taman lebih pendek.
Setelah bertemu kembali di tempat yang disepakati, Fiona memperlihatkan buku pilihannya. Ia tidak ditanya apakah kini ingin ikut pertemuan Brian berikutnya. Zio juga tidak diminta menceritakan taman untuk meyakinkan adiknya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Beberapa minggu kemudian, Zio memilih mengirim gambar pohon yang dibuatnya kepada Brian. Ia menulis bahwa ia ingin berbagi hasilnya, bukan membuat janji bertemu lagi. Brian membalas terima kasih tanpa menambahkan permintaan foto dirinya.
Laura melihat pesan itu ketika Zio sendiri memperlihatkan. Ia tersenyum dan mengembalikan ponsel, membiarkan percakapan menjadi milik anaknya. Pertemuan kedua telah berlangsung dengan bentuk yang berbeda dari kafe. Ada hal yang bergerak sedikit, ada hal yang tetap ditolak, dan keduanya dapat berada dalam satu hari tanpa harus diberi nama pulih sepenuhnya.