“I-Ibu?” Terbata-bata Bang Haris memanggil Ibu.
“Pulang!” teriak Ibu. Aku memijat pelipis. Pikiranku seharian ini benar-benar pusing.
“Siapa sih, Maaaas?” Terdengar suara manja wanita itu lagi. Aku menggelengkan kepala. Tak menyangka, suami yang selama ini aku puja, yang selalu aku banggakan, tega berbuat hal keji dan menjijikkan. Semakin bulat keputusanku untuk berpisah dengannya.
Di saat seperti ini, aku bersyukur, karena belum dikaruniai buah hati. Benar, Allah lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.
“Ibu. Kamu diem dulu.” Bang Haris menjawab pada wanitanya.
“Ibu bilang, pulang sekarang! Ada hal penting yang mau Ibu omongin!” Sejak mendengar desahan wanitanya Bang Haris, Ibu sudah tidak menangis lagi.
Syukurlah, setidaknya malam ini aku bisa tidur nyenyak. Tanpa mendengar tangisan Ibu dan melupakan segala masalah serta kekecewaan yang baru saja aku alami.
“Iya, Bu, iya ... Ibu kenapa pake nomor Bi Inah, sih? Bikin Haris keder aja.” Aku menoleh. Heran. Kenapa Bang Haris berkata demikian. Ibu menatapku gusar.
“Kontak Laila kamu kasih nama Bi Inah?”
“Laila?” Laki-laki culas itu betul-betul membuatku geram. Dia malah ketawa.
Aku menarik napas, menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Pokoknya saat ini gak boleh terpancing emosi. Sambungan telepon itu sedang merekam. Biarkan saja, dia mau berkata apa pun juga. Nanti akan kalian rasakan sendiri akibatnya.
“Ini nomor, Laila, Haris ....” Ibu mempertegas.
“Iya, Bu, iya, Haris lupa. Haris emang sengaja, namain kontak Laila kayak gitu. Soalnya ... takut cewek-cewek Haris curiga. Oh iya, Bu, Laila ada di dekat Ibu gak?”
Ibu menoleh padaku.
“Ada. Dia dengar semua yang kamu omongin. Dia juga dengar ... suara wanita itu.”
“Apa? Kenapa Ibu gak kasih kode sih?” Aku memutar bola mata malas.
Heleh ... ketahuan kan kamu belangnya! Selama ini selalu bilang aku menuduh. Selalu beralasan ingin punya anak. Ternyata bukan ingin punya anak, tapi emang aja pengen nikah lagi! Dasar b******k!
“Sudah, jangan takut. Laila gak marah kok. Tuh mukanya biasa-biasa aja. Laila itu cinta mati sama kamu, Nak ....”
Tanganku mengepal. Tak terima dibilang aku cinta mati sama anaknya. Cih! Gak sudi lagi memberikan cinta pada laki-laki b******n macam si Haris. Mereka berdua sudah gak punya urat malu. Gak tahu diri!
Rasanya ingin sekali kuluapkan amarah detik ini juga. Tapi tidak! Aku harus tetap menahannya. Rekaman ditelepon itu masih berjalan. Sebisa mungkin, aku tidak boleh mengeluarkan suara.
“Serius, Bu?”
“Iya. Udah cepetan kamu pulang.”
“Oke, oke. Ibu tunggu ya, sebentar lagi Haris pulang.”
Kurebut handphone dari tangan Ibu, memutuskan sambungan telepon.
Ibu dan Bang Haris sudah tidak menghargai perasaanku sebagai istri dan menantunya lagi. Seenaknya mereka merendahkanku seperti ini. Lihat saja nanti! Allah akan memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan kalian.
“Ibu tunggu saja! Bentar lagi, anak semata wayang Ibu yang tukang selingkuh itu pulang. Udah jangan nangis lagi!” Aku bangkit hendak ke kamar. Baru saja beberapa langkah, ucapan Ibu terpaksa menghentikanku.
“Haris selingkuh karena kamu juga, Laila! Kamu yang gak becus ngurus suami! Gak bisa ngasih pelayanan yang memuaskan! Gak bisa ngasih keturunan! Mandul! Gak berguna!” Begitu lancarnya caci maki yang keluar dari mulut Ibu.
Oh, Ibu ... apa kau tidak ingat dosa? Apa kau merasa akan selamanya di dunia? Seharian ini Ibu sudah menzalimiku dengan sedemikian rupa.
Astaghfirullah ... sudah cukup penghinaan dan caci maki yang mereka berikan padaku. Ternyata usahaku selama ini menjadi istri dan menantu yang baik, di mata mereka cuma dianggap Nol!
Aku tidak boleh membiarkan orang lain menghinaku lagi. Apalagi penghinaan dan tuduhan itu jelas tidak terbukti.
Penuh luapan emosi aku berbalik menghampiri wanita yang kedua matanya sembab. Ibu duduk santai, tanpa sedikit pun ada rasa bersalah. Aku membungkukkan tubuh di depan wajah Ibu.
“Ibu bilang aku gak berguna? Aku gak becus ngurus suami? Aku mandul? Iya?”
Ibu berdiri, menyejajarkan tubuhnya denganku. Tatapan kami sama-sama berkilat. Dipenuhi oleh amarah yang tertahankan. Terutama aku. Dari tadi wajah ini terasa panas. Mendengar pengkhianatan, penghinaan, tuduhan Bang Haris dan Ibunya.
“Iya. Emang itu kan faktanya?”
Aku mengambil napas dalam-dalam. Lalu dengan tegas dan keras aku katakan,
“Angkat kaki, sekarang juga!”
Kedua bola mata Ibu melebar. “Kamu usir Ibu lagi, Laila?”
“Apa Ibu tuli? Laila bilang, keluar! Bi Inah ... Bi ....” Napasku memburu. Wanita yang sudah renta itu datang tergopoh-gopoh.
“Tolong bantu Ibu kemasin barang-barangnya malam ini juga. Pastikan Ibu dan anaknya si Haris pergi dari rumahku. Sekalian suruh Mang Karman panggilkan satpam penjaga kompleks buat memastikan kalau mereka berdua benar-benar tidak ada lagi di lingkungan ini!” perintahku dengan sangat tegas. Aku masih menatap nyalang ke wajah Ibu.
“Baik, Non, baik. Bibi suruh Mang Karman dulu ya?” Aku mengangguk.
“Laila, kamu keterlaluan!”
“Ibu yang keterlaluan! Bukankah Ibu wanita? Di mana perasaan wanita Ibu, saat aku diselingkuhin oleh suami di depan mata Ibu sendiri? Bukannya ikut simpati, ini malah nyalahin? Bukannya menenangkan, ini malah memanaskan suasana? Apa Ibu gak pernah mikir, bagaimana kalau Ibu yang ada di posisi aku? Diselingkuhin suami, dan direndahin mertua? Hah? Aku sudah muak sama kalian!” kataku setengah berteriak. Menatap nyalang pada Ibu mertua yang tampak mengejek.
“Ooh ... jadi kamu cemburu sama Haris?”
Astaghfirullah, malah menuduhku cemburu.
“Enggak sama sekali! Lihat kedua mataku! Apa ada satu tetes air mata yang keluar? Gak ada! Justru sekarang aku jijik punya suami culas, tukang bohong, tukang selingkuh macam anak Ibu! Sudahlah aku capek! Lebih baik sekarang Ibu berkemas.” Sudah hilang rasa sabarku. Selama ini selalu mengabulkan keinginan ibu dan suami tapi di mata mereka seolah tidak ada apa-apanya.
Aku berlalu meninggalkan Ibu yang dulu sangat aku sayangi. Ibu yang sudah aku anggap sebagai ibu kandung sendiri. Tapi ternyata, kebaikan mereka selama ini cuma kedok, topeng belaka. Dibelakangku berbagai rencana jahat telah mereka susun bahkan aku tak menyangka kalau ibu dan suami berniat menguasai rumahku.
Kenyataannya, bertahun-tahun mereka baik hanya ingin memanfaatkan dan mengambil semua hartaku. Aku bersyukur kepada Allah, karena sebelum semuanya terlambat, Allah telah memberiku petunjuk yang jelas.