Lestari, adik Arka, baru sepuluh tahun, dan punya kebiasaan bertanya pada saat-saat paling tak terduga—di tengah makan, sebelum tidur, atau seperti sore itu, ketika Arka sedang membersihkan tangannya dari oli di bak cuci belakang rumah dengan sabun colek yang baunya tajam.
"Mas," katanya, duduk di bibir bak dengan kaki menjuntai, "kapan jadi insinyur?"
Arka berhenti menggosok. Pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama yang Lestari ajukan setahun lalu, dan dua tahun lalu, dan entah berapa kali sebelumnya—pertanyaan polos anak kecil yang menyerap mimpi-mimpi besar dari sinetron sore dan poster di dinding kelas, yang membayangkan kakaknya kelak memakai helm proyek dan jas, menggambar gedung pencakar langit.
Dulu, tiap kali Lestari bertanya begitu, ada sesuatu yang mengempis di dada Arka. Dulu ia akan menjawab dengan tawa getir, tawa yang ia pakai untuk mendahului ejekan sebelum orang lain mengejeknya—"Insinyur apaan, Tar. Mas mah tukang. Bisa lulus aja udah bagus." Tawa yang sebenarnya menyembunyikan luka: keyakinan bahwa anak penarik gerobak rosok tak berhak bermimpi setinggi itu, bahwa menyebut kata 'insinyur' di mulutnya sendiri adalah semacam lelucon yang menyakitkan.
Sekarang, dengan tangan masih berbusa sabun, Arka memandangi adiknya. Lestari menatapnya dengan mata bulat yang penuh harap, mata yang belum tahu apa-apa tentang akreditasi, merger, kemiskinan, gengsi—mata yang cuma tahu bahwa kakaknya pintar dan baik dan pasti akan jadi orang hebat.
Ia membilas tangannya, mematikan keran, dan duduk di samping adiknya di bibir bak.
"Tar," katanya pelan, "Mas mau cerita sesuatu, ya."
Lestari mengangguk.
"Kamu tahu Bu Marni? Yang jual alat-alat dapur di pasar?" Lestari mengangguk lagi. "Mesin produksinya pernah rusak. Ada komponen kecil di dalamnya yang patah, nggak bisa beli di toko mana pun karena bentuknya khusus. Kalau komponen itu nggak ada, mesinnya mati, Bu Marni nggak bisa kerja, sepuluh pekerjanya nggak dapat upah." Arka mengangkat tangan kanannya, menunjukkan telapak yang masih ada bekas hitam oli di sela kuku. "Komponen itu Mas yang bikin. Pakai tangan ini. Di mesin bubut tua di sekolah. Mas ukur, Mas bubut, Mas haluskan sampai pas seperseratus milimeter. Sekarang mesin Bu Marni jalan lagi. Pekerjanya makan lagi."
Lestari mengerutkan kening, mencerna. "Jadi Mas... tukang?"
"Iya. Mas tukang." Arka mengucapkannya tanpa tawa getir, tanpa malu, untuk pertama kali dalam hidupnya kata itu keluar dari mulutnya seperti nama yang ia banggakan. "Mas tukang yang bikin barang yang dipakai orang. Yang bikin mesin orang lain hidup. Itu bukan hal kecil, Tar. Itu hal besar."
Ia teringat Pak Damar, yang seumur hidup jadi guru praktik, yang dianggap jadul oleh sekolah, yang namanya sempat ternoda tuduhan—tapi yang tangannya telah membentuk puluhan murid, yang ilmunya menghidupkan kembali sebuah bengkel mati, yang diam-diam, satu malam, membuka gembok dan dengan itu menyelamatkan sebuah sekolah. Pak Damar tak pernah jadi insinyur. Pak Damar tukang. Dan tak ada orang yang Arka hormati lebih dari beliau.
"Tapi insinyur kan lebih hebat," Lestari berkeras, dengan logika anak sepuluh tahun. "Pakai jas. Punya kantor."
Arka tertawa—tapi tawa yang ringan kali ini, hangat, bukan tawa yang menyembunyikan apa-apa. "Mungkin suatu hari Mas sekolah lagi, Tar. Mbak Wening, temen Mas, sekarang lanjut ke politeknik. Mas juga bisa, kalau Mas mau, nanti. Jadi insinyur itu mungkin saja. Tapi tahu nggak yang lebih penting?"
Lestari menggeleng.
"Insinyur yang bagus itu insinyur yang ngerti tangannya. Yang pernah jadi tukang dulu. Yang tahu rasanya logam panas, tahu bunyi mesin yang mau rusak, tahu kenapa ukuran bisa meleset. Banyak orang punya jas tapi nggak pernah pegang besi." Arka mengacak rambut adiknya. "Mas mulai dari tangan, Tar. Dari bawah. Dan itu nggak bikin Mas malu lagi. Itu bikin Mas bangga."
Lestari diam sebentar, lalu wajahnya cerah dengan keputusan polos seorang anak. "Berarti Mas udah jadi orang hebat, dong?"
Arka merasakan sesuatu menghangat di dadanya, sesuatu yang dulu ia kira tak akan pernah ia rasakan ketika menjawab pertanyaan adiknya. "Mas lagi belajar jadi orang yang berguna, Tar. Itu udah cukup buat sekarang."
Malam itu, ketika ia membaringkan Lestari dan adiknya sudah hampir terlelap, gadis kecil itu bergumam, setengah tidur, "Mas, nanti Tari mau jadi tukang juga, ah. Kayak Mas."
Arka membenahi selimut adiknya, dan untuk waktu yang lama ia duduk di samping tempat tidur, memandangi wajah Lestari yang damai dalam tidur. Setahun lalu, kalimat itu mungkin akan membuatnya cemas—takut adiknya juga terjebak dalam siklus yang sama, takut mimpinya juga dipangkas kemiskinan. Tapi sekarang ia tak cemas. Karena ia tahu, apa pun yang Lestari pilih kelak—tukang, insinyur, atau apa saja—ia akan mengajari adiknya satu hal yang ia pelajari mahal di Bengkel 7: bahwa tak ada pekerjaan yang membuatmu kecil, selama kau melakukannya dengan jujur, dengan tangan sendiri, dan tanpa malu pada siapa kau berasal.