Pasar loak besi tua di ujung kawasan itu paling ramai pada Sabtu pagi, ketika para penadah dan tukang membongkar tumpukan baja bekas dari truk yang baru datang. Arka biasa ke sana untuk berburu bahan murah—as bekas, pelat sisa, kuningan yang masih bisa dibubut ulang. Tapi pagi ini ia datang bukan untuk membeli. Ia datang menemani Pak Wira.
Dua bulan sejak surat kerja sama itu diteken di hadapan tim verifikasi, kemitraan yang dulu terdengar mustahil itu pelan-pelan berjalan. Bukan tanpa canggung. Pak Wira masih lelaki keras dengan suara yang gampang naik, masih memanggil anak-anak Bengkel 7 dengan nada datar seolah enggan mengakui mereka. Tapi pembagian kerja itu nyata. Order receh—satu-dua ring, bushing kecil, mur khusus yang tak terjual di toko—mengalir ke sekolah, pekerjaan yang dulu cuma membuat Pak Wira rugi waktu setel mesin. Sementara order presisi tinggi, volume besar yang butuh CNC dan tangan berpengalaman, ditangani bengkel Pak Wira dengan ketenangan orang yang tahu mesinnya sanggup.
"Kamu lihat itu," kata Pak Wira sambil menunjuk ke gerobak seorang penjual baja, suaranya parau di antara dentang besi. "Dulu saya beli bahan dari dia tiap minggu. Setahun terakhir dia hampir gulung tikar. Pabrik tutup, nggak ada yang butuh besi tua. Sekarang gerobaknya jalan lagi. Tahu kenapa?"
Arka menggeleng, meski ia bisa menebak.
"Karena bengkel saya jalan. Karena bengkel kalian jalan. Karena ada order. Satu mesin hidup, sepuluh perut ikut makan." Pak Wira menyeka keringat di tengkuknya. "Saya dulu pikir kalian mau ngerampok pasar saya. Bocah-bocah SMK, kerja gratisan, banting harga. Ternyata pasar ini cukup besar buat kita berdua, asal nggak saling cekik."
Itu sedekat-dekatnya Pak Wira pernah mengaku salah. Arka tak menjawab. Ia tahu lelaki seperti Pak Wira tak butuh kemenangan diumumkan; cukup tahu pasar di bawah kakinya tak lagi goyah.
Mereka berhenti di lapak penjual baja itu. Pak Wira menawar segepok as bekas dengan gaya yang sudah hafal di luar kepala, lalu menyisihkan separuhnya. "Ini buat bengkel sekolah," katanya pada si penjual. "Tagih ke saya. Nanti dipotong dari order yang kalian kerjain."
Arka mengerutkan kening. "Pak, nggak usah—"
"Diam. Kamu pikir saya baik hati?" Pak Wira menyeringai, sesuatu yang jarang muncul di wajahnya. "Bahan murah, kerjaan kalian lancar, order receh saya cepat selesai. Saya untung. Jangan ge-er."
Tapi Arka tahu lebih dari itu. Ia sudah cukup lama bekerja dengan orang dewasa untuk memahami bahwa gengsi sering jadi bungkus dari kebaikan yang malu mengaku.
Di bengkel Pak Wira siang itu, ada pemandangan yang setahun lalu takkan terbayang. Tiga anak Bengkel 7—Bayu, Sari, dan seorang murid baru jurusan otomotif—berdiri di samping seorang pekerja Pak Wira yang tengah menjelaskan cara membaca toleransi gambar industri. Pelatihan bersama, begitu mereka menyebutnya. Pekerja Pak Wira berbagi pengalaman pabrik; anak-anak sekolah membawa kedisiplinan keselamatan yang justru sudah lama longgar di bengkel komersial. Saling mengisi. Pengaman mesin yang dulu sering dilewati pekerja Pak Wira demi cepat, kini dipasang lagi—bukan karena diperintah, tapi karena Bayu, dengan suaranya yang pelan dan telaten, menjelaskan apa yang bisa hilang kalau pengaman itu absen. Bayu, yang tahu betul harga sebuah tangan.
Arka memandangi semua itu dari sudut bengkel, dan ia teringat kata-kata Pak Damar dulu, di hari-hari paling gelap ketika bengkel masih digembok dan masa depan terasa seperti pintu besi tanpa kunci. "Kawasan ini sekarat, Ka," kata gurunya waktu itu. "Tapi yang sekarat belum mati. Kadang cuma butuh satu orang yang nggak mau ikut mati."
Satu orang membuka gembok satu malam. Lalu lima tangan. Lalu satu sekolah. Lalu, pelan-pelan, satu kawasan. Bukan bangkit megah seperti dalam pidato pejabat—pabrik-pabrik raksasa tak tiba-tiba kembali, gang-gang sempit tetap sempit, kos buruh masih bocor atapnya. Tapi ada napas yang kembali. Gerobak yang jalan lagi. Mesin yang berputar di tempat yang dulu sunyi. Order kecil yang berputar dari tangan ke tangan, dari sekolah ke bengkel, dari bengkel ke penjual besi, dari penjual besi ke warung nasi tempat para pekerja makan siang.
Sore harinya, ketika Arka pulang melewati pasar loak yang mulai sepi, ia berhenti sebentar di depan lapak penjual baja tadi. Lelaki itu sedang menghitung uang receh dengan jari yang hitam oleh karat, dan ada sesuatu di raut wajahnya—bukan kekayaan, jauh dari itu, tapi semacam ketenangan orang yang dagangannya laku hari itu, yang besok pagi punya alasan untuk membuka lapak lagi.
Arka menganggukkan kepala. Si penjual mengangkat tangan, mengenalinya. "Anak bengkel sekolah, ya? Yang bikin kawasan ini rame lagi?"
Arka mau menyangkal, mau berkata bahwa ia cuma satu dari banyak, bahwa pasar tak dihidupkan oleh satu orang. Tapi kalimat itu tertahan. Ia teringat betapa dulu ia gengsi mengaku apa pun tentang dirinya—gengsi mengaku miskin, gengsi mengaku tukang, gengsi mengaku bahwa keahliannya berarti. Sekarang ia hanya tersenyum.
"Sama-sama nyari makan, Pak," jawabnya akhirnya. "Kita semua."
Dan ia berjalan pulang melewati kawasan yang dulu meredup, kini dengan satu-dua jendela bengkel yang masih menyala terang sampai petang—bukti kecil bahwa di tempat yang sudah ditinggalkan banyak orang, masih ada yang memilih bertahan, dan dari bertahan itu, perlahan, sesuatu tumbuh lagi.