Bu Endah datang pada sebuah pagi yang mendung, tanpa pemberitahuan jauh hari, persis seperti kunjungannya yang pertama.
Pengawas dinas itu turun dari mobil dinas berwarna pudar dengan map kerja di tangan dan ekspresi yang sama seperti dulu: dingin, teliti, tak mudah terkesan. Arka, yang kebetulan sedang menyeberangi halaman, merasakan jantungnya mengencang. Kunjungan Bu Endah yang pertama dulu adalah pemeriksaan atas aduan Pak Wira—dan dari kunjungan itu, Arka belajar pelajaran pahit bahwa melawan birokrasi bukan dengan semangat, melainkan dengan dokumen, bukti, dan ketertiban yang membosankan namun menentukan. Kali ini, Bu Endah datang untuk menutup pemeriksaan itu. Dan tutupnya bisa berarti dua hal: pembebasan, atau hukuman.
Mereka menerimanya di ruang kepala sekolah. Pak Hartono hadir, Pak Damar hadir—statusnya yang masih digantung membuat kehadirannya terasa seperti terdakwa yang menunggu vonis. Arka dan Wening diizinkan ikut, karena merekalah yang menyiapkan sebagian besar berkas.
Bu Endah membuka mapnya dan menata berkas-berkas di atas meja dengan gerakan yang efisien. "Saya datang untuk menutup pemeriksaan atas aduan Saudara Wira Santosa," katanya tanpa basa-basi. "Aduannya berisi tiga hal: bahwa sekolah ini menjalankan praktik usaha ilegal, bahwa bengkel yang digunakan membahayakan murid, dan bahwa kepala bengkel—Saudara Damar—lalai dalam keselamatan kerja, merujuk pada kecelakaan lama."
Setiap kata seperti palu kecil yang mengetuk meja. Pak Damar duduk diam, punggungnya bungkuk, matanya menunduk.
"Saya sudah memeriksa berkas yang sekolah ajukan," lanjut Bu Endah. Ia mengeluarkan satu per satu. "Surat kerja sama resmi dengan Bu Marni. Surat kerja sama bertahap dengan PT Sinar Logam Perkasa. Sertifikat kelayakan mesin yang ditandatangani teknisi bersertifikat, Saudara Broto. Dokumen unit teaching factory yang disusun guru-guru. Daftar prosedur keselamatan. Dan—" ia berhenti, mengangkat sebuah berkas tua yang menguning, "—laporan kerusakan pengaman yang diajukan lima belas tahun lalu oleh seorang murid bernama Tarno Wijoyo, lengkap dengan catatan disposisi yang menunjukkan laporan itu tertahan di meja pejabat sekolah saat itu, bukan di tangan Saudara Damar."
Ruangan itu hening. Arka menahan napas.
Bu Endah menatap Pak Damar. "Tuduhan pertama, praktik usaha ilegal—gugur. Yang Anda lakukan adalah produksi dalam kerangka teaching factory, dengan kerja sama dunia usaha yang sah, di bawah pengawasan sekolah. Itu bukan ilegal. Itu justru model yang dianjurkan." Ia membalik halaman. "Tuduhan kedua, bengkel membahayakan murid—gugur. Bengkel ini sekarang punya sertifikat kelayakan, prosedur keselamatan tertulis, dan—" ia melirik catatan, "—saya periksa tadi, papan keselamatan terbaca jelas, jalur kerja ditandai, daftar periksa harian terisi. Saya sudah memeriksa banyak bengkel SMK. Sebagian besar tidak setertib ini."
Sesuatu di dada Arka mulai mengendur. Tapi ia tahu masih ada tuduhan ketiga, yang paling berat, yang menyangkut nama Pak Damar secara langsung.
"Tuduhan ketiga," kata Bu Endah, dan suaranya melambat. "Kelalaian dalam kecelakaan lama." Ia mengangkat laporan kerusakan yang menguning itu. "Dokumen ini menunjukkan bahwa kerusakan pengaman sudah dilaporkan jauh hari, dan laporan itu tidak sampai ke tangan Saudara Damar untuk ditindaklanjuti. Secara dokumen, ini meringankan Anda."
Pak Damar mengangkat kepalanya, untuk pertama kali.
"Tapi," Bu Endah meletakkan dokumen itu, dan tatapannya menajam, "dokumen ini hanya bercerita separuh. Laporan tertahan di meja siapa, kenapa pengaman akhirnya bisa terlepas saat kecelakaan—itu masih kabur. Dan saya tidak bisa menutup pemeriksaan dengan separuh cerita."
Ia menatap Pak Damar lurus. "Saudara Damar. Selama lima belas tahun, di catatan sekolah, Anda tercatat sebagai penanggung jawab bengkel saat kecelakaan terjadi. Tidak ada keterangan resmi yang menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Selama itu tidak ada, nama Anda tidak akan pernah benar-benar bersih—di mata dinas, di mata sekolah baru kalau merger terjadi, di mata siapa pun yang membuka arsip ini suatu hari."
Suara Bu Endah melembut, tapi isinya tetap tajam. "Saya dengar dari berkas ini bahwa ada lebih banyak yang Anda tahu daripada yang tertulis. Pengaman yang dilepas, oleh siapa, kenapa. Pejabat yang menahan laporan. Anda menyimpan kebenaran ini supaya melindungi orang lain. Saya menghormati itu sebagai manusia." Ia menutup mapnya. "Tapi sebagai pengawas, saya harus jujur: selama kebenaran itu hanya jadi cerita lisan, hanya jadi rahasia yang Anda pikul sendiri, nama Anda tidak akan pernah resmi bersih. Kalau Anda mau bebas—benar-benar bebas—kebenaran malam itu harus dibuka. Resmi. Hitam di atas putih. Bukan untuk mempermalukan siapa pun, tapi untuk menutup luka yang menganga lima belas tahun."
Ia berdiri, mengambil mapnya. "Saya beri waktu. Pemeriksaan ini saya gantung, belum saya tutup. Kalau dalam waktu dekat ada pernyataan tertulis yang menyusun kembali kronologi malam itu secara utuh—dari Anda, dari murid yang celaka, dari pejabat yang menahan laporan—maka saya bisa mencabut seluruh tuduhan dan menutup berkas ini selamanya." Ia menatap Pak Damar terakhir kali. "Tapi kalau tidak, Saudara Damar, Anda akan pensiun dengan nama yang menggantung. Pilihan ada di tangan Anda."
Setelah Bu Endah pergi, ruangan itu hening panjang. Pak Damar duduk diam, memandang dokumen tua yang menguning di hadapannya, dokumen yang bisa membebaskannya—tapi dengan harga membongkar luka yang telah ia kunci rapat selama lima belas tahun. Arka memandang gurunya, dan ia tahu bahwa pertarungan yang tersisa kini bukan lagi melawan birokrasi atau Pak Wira atau dinas. Pertarungan terakhir Pak Damar adalah melawan dirinya sendiri.