Kota seberang itu butuh dua jam naik bus. Arka pergi sendiri pada hari Minggu, ketika tidak ada sekolah dan ketika ia bisa beralasan pada bapaknya bahwa ia membantu seorang teman. Ia membawa fotokopi halaman buku agenda itu—Wening yang menyalinnya di rental, hati-hati supaya yang asli tetap aman—dilipat di saku dalam tasnya. Alamat Pak Sungkono ia dapat dari Pak Damar, yang menghubungi seorang kenalan lama dari dinas yang masih ingat ke mana pensiunan itu pindah.
Rumah Pak Sungkono ada di perumahan tua di pinggir kota, rumah-rumah pegawai negeri zaman dulu yang sekarang kusam dan ditumbuhi lumut. Arka berhenti di depan nomor yang ia cari, jantungnya berdebar. Ia tidak tahu bagaimana memulai. Bagaimana caranya seorang anak SMK enam belas tahun datang ke rumah orang asing tua dan berkata, lima belas tahun lalu, Bapak menahan sebuah laporan, dan seorang lelaki kehilangan tangannya?
Ia mengetuk. Seorang perempuan tua—istri Pak Sungkono, ternyata—membuka pintu, menatapnya curiga. Arka menjelaskan bahwa ia murid dari SMK Wijaya Karya Nusantara, dan ia ingin bertemu Pak Sungkono soal sesuatu dari sekolah. Nama sekolah itu membuat sesuatu berubah di wajah perempuan tua itu—semacam kewaspadaan, atau mungkin pengenalan akan sesuatu yang lama dipendam. Ia menyuruh Arka menunggu, masuk, dan beberapa menit kemudian, seorang lelaki tua keluar dengan langkah pelan dibantu tongkat.
Pak Sungkono jauh lebih ringkih dari yang Arka bayangkan. Tubuhnya bungkuk, kulitnya tipis dan berbintik-bintik usia, tapi matanya masih tajam. Ia duduk di kursi rotan di teras dan menatap Arka lama sebelum bicara.
"SMK Wijaya," katanya, suaranya serak. "Udah lama nggak ada yang nyebut nama itu ke aku. Kamu mau apa, Nak?"
Arka duduk di kursi seberang. Ia memutuskan tidak akan berputar-putar. Pak Damar bilang yang akan ia temui bukan penjahat, dan ia merasa orang ini pantas mendapat kejujuran, bukan jebakan. Ia mengeluarkan fotokopi itu, membuka lipatannya, dan meletakkannya di meja kecil di antara mereka.
"Pak," katanya pelan. "Saya nemu ini di arsip sekolah. Laporan kerusakan pengaman mesin bubut Bengkel 7. Dilaporin sama Pak Tarno, teknisi praktik. Diterusin ke Bapak. Ada tanda tangan Bapak di sini." Ia menunjuk. "Tapi nggak ada tindak lanjutnya. Pengamannya nggak pernah dibetulin. Dan beberapa bulan kemudian, Pak Tarno kecelakaan di mesin itu. Dia kehilangan tangan kanannya."
Lelaki tua itu menatap fotokopi itu lama. Tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh kertas, menelusuri tanda tangannya sendiri yang ditorehkan lima belas tahun lalu. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tidak menunjukkan penyangkalan. Yang muncul, perlahan, adalah sesuatu yang jauh lebih menyakitkan untuk dilihat: pengakuan, dan di belakangnya, penyesalan yang sudah terlalu lama dipendam sampai berlumut seperti rumah ini.
"Tarno," bisik Pak Sungkono. "Tangannya." Ia menutup matanya. "Aku dengar dia celaka. Tapi aku nggak pernah tahu... aku nggak pernah berani tahu separah apa."
"Bapak inget laporan ini?" tanya Arka.
Lelaki tua itu mengangguk pelan, matanya masih tertutup. "Aku inget. Aku selalu inget, sebenernya. Aku cuma berusaha lupa, dan nggak pernah bisa." Ia membuka matanya, menatap Arka dengan kejujuran yang membuat Arka tidak nyaman. "Kamu mau tahu kenapa aku nggak nindaklanjutin? Kamu pikir aku jahat, ya. Kamu pikir aku sengaja biarin anak orang celaka."
"Saya cuma mau tahu yang sebenernya, Pak."
Pak Sungkono menarik napas, panjang dan berat, suara dada tua yang lelah. "Waktu itu aku setahun lagi pensiun. Anggaran sekolah seret—seperti sekarang, mungkin lebih parah. Perbaikan pengaman mesin itu butuh dana yang nggak ada di pos. Aku mesti ngajuin anggaran khusus, ngurus ke dinas, dan itu ribet, lama, dan—aku jujur sama kamu—aku males. Aku capek. Aku mikir, ah, mesin itu udah jalan bertahun-tahun, pengamannya rusak dikit, nanti-nanti aja dibetulin pas ada dana. Aku tunda. Aku taruh laporan itu di tumpukan 'nanti'. Dan tumpukan 'nanti' itu nggak pernah kebuka lagi sampai aku pensiun." Suaranya pecah. "Aku nggak sengaja mau celakain siapa-siapa, Nak. Tapi aku malas, dan aku nunda, dan kemalasan aku itu... yang bayar orang lain. Tarno yang bayar. Pakai tangannya."
Mata lelaki tua itu basah sekarang. Bukan tangis dramatis—air mata yang merembes pelan dari mata yang sudah terlalu tua untuk menahannya, jenis air mata yang keluar dari sesuatu yang terlalu lama disimpan.
"Tahu nggak yang paling nyakitin?" katanya. "Selama bertahun-tahun setelah aku pensiun, aku dengar kabar samar-samar bahwa yang disalahin malah Pak Damar. Guru praktik itu. Aku tahu dia nggak salah—dia bahkan nggak pernah terima laporan itu, aku yang nahan. Tapi aku diem. Aku biarin dia mikul. Karena kalau aku ngomong, aku mesti ngaku aku yang nunda. Dan aku terlalu pengecut. Jadi aku nambah satu dosa di atas dosa pertama—aku biarin orang yang nggak salah dihukum, biar aku tetep aman. Dua kali aku pengecut, Nak. Dua kali."
Arka tidak tahu harus berkata apa. Ia datang menyiapkan diri untuk berhadapan dengan orang yang membela diri, mengelak, menyangkal. Ia tidak siap menghadapi orang yang sudah menghukum dirinya sendiri selama lima belas tahun, dan kini menjatuhkan seluruh beban itu di hadapan seorang anak yang baru ia kenal sepuluh menit.
"Pak," kata Arka akhirnya, pelan. "Pak Damar sampai sekarang masih ternoda namanya. Dia dinonaktifkan dari sekolah. Pemeriksaan dinas belum selesai. Dan sekolah kami terancam digabung—kalau bengkel kami nggak bisa buktiin diri, ratusan murid pindah jauh, guru-guru honorer kehilangan kerja." Ia menelan ludah. "Saya nggak ke sini buat mempermalukan Bapak. Sumpah. Tapi saya butuh kebenaran ini dibuka—resmi. Biar nama Pak Damar bersih. Biar Pak Tarno juga jelas posisinya. Biar semua beban yang salah ditaruh, ditaruh di tempat yang bener."
Lelaki tua itu menatapnya lama. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia mengambil fotokopi itu dan memandanginya sekali lagi.
"Kamu tahu apa yang bakal terjadi kalau aku ngaku?" katanya. "Orang-orang bakal tahu wakil kepala sekolah dulu, yang dihormati, yang pensiun terhormat—ternyata pengecut yang biarin anak orang celaka karena males ngurus anggaran. Anak cucuku bakal malu. Sisa hidupku yang dikit ini bakal jadi sisa hidup orang yang ketahuan dosanya di ujung jalan." Ia menatap Arka. "Tapi kamu tahu apa yang lebih berat dari itu? Lima belas tahun nyimpen ini sendirian. Tiap malam. Tiap kali aku liat tanganku sendiri masih utuh, aku inget tangan Tarno yang enggak."
Ia meletakkan fotokopi itu di pangkuannya, dan untuk pertama kali, sesuatu yang menyerupai kelegaan—kelegaan yang menyakitkan—muncul di wajahnya yang keriput.
"Aku bikin pernyataan," katanya. "Tertulis. Tanda tangan. Apa pun yang kalian butuh. Aku udah terlalu tua buat takut malu, Nak. Yang aku takutin sekarang cuma satu: mati sebelum aku sempet betulin satu hal yang bisa aku betulin." Ia menatap Arka, matanya basah tapi tegas. "Kamu dateng telat lima belas tahun. Tapi kamu dateng. Itu lebih dari yang pernah aku berani lakuin sendiri."