Mereka membuka pintu besi berangka tujuh itu pagi-pagi sekali, sebelum lonceng masuk berbunyi. Kali ini tidak ada yang mengintai dari ujung koridor, tidak ada yang menahan napas takut ketahuan. Arka memasukkan kunci asli ke gembok—gembok yang sama, tapi dibuka dengan hak yang berbeda—dan memutarnya. Bunyi klik yang dulu terasa seperti pencurian sekarang terasa seperti undangan.
Pintu menjerit di engselnya yang berkarat. Cahaya pagi masuk ke dalam, menerangi debu yang melayang seperti yang selalu melayang di ruangan itu. Tapi entah kenapa, pagi ini debu itu tidak terlihat sedih. Ia terlihat seperti debu di tempat yang akan dipakai.
"Oke," kata Wening, membuka buku catatannya. Ia sudah menyiapkan daftar pekerjaan semalaman. "Pertama, beda dari dulu. Dulu kita kerja ngumpet, jadi kita nggak boleh kelihatan rapi-rapi amat. Sekarang resmi. Jadi bengkel ini mesti benar-benar layak dilihat tim verifikasi. Bukan cuma jalan—mesti tertib."
Mereka bekerja sepanjang hari, dengan izin dispensasi dari beberapa guru yang mulai diam-diam mendukung. Jefri dan Bayu membersihkan lantai dari oli lama dan serpihan logam yang menumpuk bertahun-tahun, menyapunya ke dalam ember demi ember sampai lantai semen abu-abu itu kembali terlihat. Arka mengatur ulang posisi mesin supaya ada jalur kerja yang jelas—ruang gerak di sekeliling setiap mesin, tidak ada kabel melintang di jalan, tidak ada barang menumpuk yang bisa membuat orang tersandung. Sari, yang datang setelah jam warungnya, menata rak peralatan: kunci pas diurutkan dari kecil ke besar, mata bor dikelompokkan, semua diberi tempat tetap.
"Pak Broto bilang," Sari menjelaskan sambil menggantung kunci-kunci pada paku berlabel, "bengkel yang berantakan itu bengkel yang berbahaya. Bukan karena kotornya. Karena kalau alat nggak ada tempatnya, orang nyari sambil panik, sambil buru-buru, dan di situ kecelakaan terjadi. Tiap alat punya rumah. Selesai pakai, pulangin ke rumahnya."
Wening menempelkan daftar periksa harian di dinding dekat pintu—ditulis tangan rapi pada karton, dilaminasi seadanya dengan plastik dan selotip. Periksa pengaman sebelum mulai. Pastikan tidak ada yang kerja sendirian. Kacamata dan sarung tangan untuk pekerjaan tertentu. Matikan mesin sebelum membersihkan. Catat siapa pakai mesin apa, jam berapa. Aturan-aturan yang dulu terasa merepotkan, sekarang mereka pasang sendiri, dengan sukarela, karena mereka tahu di balik tiap aturan ada bayangan tangan Pak Tarno.
Dan papan keselamatan—papan tua yang catnya sudah pudar sampai hampir tak terbaca, yang tergantung miring di dinding sejak entah kapan—Bayu menurunkannya dengan hati-hati. Ia membersihkannya, lalu dengan kuas kecil dan cat sisa, ia menebalkan kembali huruf-huruf yang sudah hilang. UTAMAKAN KESELAMATAN. Tangannya yang dulu gemetar tiap dekat mesin ini sekarang stabil saat menebalkan tiap huruf, pelan-pelan, seolah ia sedang menebus sesuatu. Tidak ada yang menyuruhnya. Ketika ia memasang papan itu kembali—lurus kali ini, tidak miring—seluruh tim berhenti bekerja sebentar dan memandanginya.
"Pakde gue," kata Bayu pelan, tidak menoleh, "dulu kerja di bawah papan ini. Tapi papannya udah nggak kebaca. Mungkin kalau dulu kebaca, ada yang inget bacanya." Ia mundur selangkah, menatap papan yang kini jelas. "Sekarang kebaca."
Tengah hari, Pak Damar datang. Dan kali ini—untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu—ia datang lewat pintu depan. Bukan lewat pintu samping, bukan menyelinap dengan kunci cadangan, bukan menyamar jadi tukang. Ia berjalan masuk lewat koridor utama, melewati ruang guru, melewati beberapa kolega yang menatapnya—sebagian dengan canggung, sebagian dengan anggukan kecil. Statusnya memang masih dalam pemeriksaan. Secara resmi ia belum boleh mengajar. Tapi tidak ada lagi yang perlu disembunyikan tentang keberadaannya di bengkel.
Ia berhenti di ambang pintu Bengkel 7, dan untuk beberapa saat ia hanya berdiri di situ, memandang ke dalam. Lantai yang bersih. Mesin yang tertata. Rak yang rapi. Daftar periksa di dinding. Papan keselamatan yang kembali terbaca. Lima muridnya yang sibuk, berkeringat, hidup.
Arka melihat sesuatu di wajah guru tua itu yang belum pernah ia lihat. Bukan kepuasan. Lebih dalam dari itu. Seperti orang yang lama menahan sesuatu di dadanya akhirnya boleh menghela napas.
"Pak Damar," panggil Arka. "Sini, Pak. Liat. Kita atur ulang jalur kerjanya. Yang ini buat ngukur, yang sini buat ngebubut, yang sana buat ngelas. Biar nggak campur."
Pak Damar melangkah masuk. Ia berjalan pelan mengelilingi bengkel, menyentuh mesin di sana-sini, memeriksa daftar periksa Wening, mengangguk pada papan keselamatan Bayu. Lalu ia berhenti di depan mesin bubut besar di sudut—mesin yang dulu merenggut tangan Pak Tarno, yang kini berdengung halus dengan pengaman baru yang berani.
Ia meletakkan telapaknya di badan mesin itu. Lama.
"Lima belas tahun," katanya, suaranya hampir tidak terdengar di atas dengung motor. "Lima belas tahun aku nggak berani nyentuh kamu tanpa rasa bersalah." Ia tidak bicara pada mereka. Ia bicara pada mesin. "Sekarang aku sentuh kamu, dan yang aku rasain bukan dosa. Yang aku rasain... kerja. Kamu masih bisa kerja. Kita berdua masih bisa kerja."
Lalu ia menoleh ke lima muridnya, dan dengan suara yang kembali tegas—suara guru praktik yang dulu—ia berkata, "Cukup beberes. Bengkel ini bukan museum buat dipajang. Bengkel ini buat ngerjain barang. Bu Marni nungguin pesenan. Ayo. Hidupin mesinnya. Yang bener. Sesuai daftar periksa. Kita kerja."
Dan untuk pertama kali, Bengkel 7 berdengung tanpa harus berbisik—lima mesin, lima pasang tangan, dan seorang guru tua yang akhirnya pulang. Tapi di sudut pikiran Arka, satu hal masih mengganjal. Pak Damar boleh berdiri di bengkel ini, boleh menyentuh mesin, boleh mengajar. Tapi di atas kertas, namanya masih ternoda. Pemeriksaan dinas belum selesai. Dan selama itu belum selesai, guru tua ini masih berdiri dengan satu kaki di dalam dan satu kaki di luar—diterima oleh tembok bengkel, tapi belum oleh hukum.