Pengaman baru itu datang dibungkus koran bekas, diikat karet gelang, dititipkan lewat tukang ojek dari toko spare part di kota. Pak Broto membukanya di bangku Bengkel 7 dengan tangan yang bergetar pelan—bukan karena gugup, tapi karena memang begitulah tangan lelaki tua yang jantungnya tidak lagi kuat. Ia memeriksa setiap komponen di bawah lampu, memutar, menimbang di telapak, mendekatkannya ke mata yang sudah berkacamata tebal.
"Ini yang bener," gumamnya. "Yang lama itu cuma plat tipis, gampang dicongkel. Yang ini ada interlock-nya. Mesin nggak mau jalan kalau penutupnya kebuka. Mau dipaksa kayak apa juga, nggak bisa."
Arka, Jefri, dan Bayu mengelilinginya. Pak Damar berdiri sedikit di belakang, mengawasi tanpa ikut campur. Sudah dua hari ini Pak Broto datang pagi-pagi, dijemput Arka pakai motor pinjaman, dan pulang sebelum siang karena tidak kuat lama-lama di tempat berdebu. Setiap hari ia memeriksa satu hal: bantalan, kelistrikan, rem darurat, dudukan mesin. Setiap hari ia mencatat di buku tulis bergaris yang dibawanya, dengan tulisan tangan miring orang tua yang dulu terbiasa mengisi lembar kerja pabrik.
Hari ini adalah hari pemasangan. Pak Broto menyuruh Jefri yang memasang, sementara ia membimbing dengan suara. "Jangan kamu yang ngebut. Tangan kamu masih muda, gampang ceroboh. Pelan. Baut ini sampai bunyi 'klik', berhenti. Jangan dipaksa terus, nanti dratnya rusak."
Jefri, yang biasanya tidak suka diatur, kali ini menurut tanpa membantah. Sejak insiden dengan Pak Wira, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia mengencangkan baut sampai berbunyi klik, lalu berhenti, lalu melihat ke arah Pak Broto untuk persetujuan. Pak Broto mengangguk.
Setelah semua terpasang, Pak Broto meminta mesin dihidupkan. Ruangan menahan napas. Bayu yang berdiri paling dekat dengan sakelar—Bayu yang dulu paling takut pada mesin ini, mesin yang merenggut tangan pakdenya—dengan ragu menekan tombol. Motor mendengung, spindle berputar, dan suaranya halus, rata, tanpa decit aneh yang dulu mengganggu.
Pak Broto mendekat, lalu sengaja membuka penutup pengaman saat mesin berjalan. Seketika mesin berhenti sendiri. Berhenti total. Spindle melambat dan diam.
"Nah," kata Pak Broto, dan untuk pertama kali sejak datang, ia tersenyum. "Ini yang namanya pengaman. Kalau yang dulu kayak gini, nggak ada anak yang kehilangan tangan."
Kalimat itu jatuh di ruangan seperti batu di air tenang. Bayu menunduk. Pak Damar, di belakang, menutup matanya sebentar. Tidak ada yang bicara. Pak Broto sendiri menyadari ucapannya, lalu menambahkan dengan suara lebih lembut, "Maaf. Aku nggak maksud nyenggol. Aku cuma... aku udah lama nggak ngajarin keselamatan ke anak muda. Dulu di pabrik, tiap minggu aku yang ngajar. Terus pabrik tutup, dan ilmu kayak gini nggak ada yang mau lagi." Ia menepuk dudukan mesin. "Aku seneng masih kepake."
Siang itu, sebelum pulang, Pak Broto duduk di bangku panjang dan meminta map yang sudah disiapkan tim. Di dalamnya ada formulir keterangan kelayakan yang dirancang Wening—meniru format dokumen resmi sebisanya, dengan kolom untuk jenis mesin, hasil pemeriksaan, catatan, dan tanda tangan. Pak Broto membaca seluruhnya, lalu menggeleng.
"Ini kurang," katanya. Arka tegang seketika. Tapi Pak Broto melanjutkan, "Kurang lengkap. Kalian tulis 'mesin layak'. Itu nggak cukup. Tim dinas, kalau dia ahli, dia bakal nanya: layak menurut standar apa? Aku mesti tulis nomor standarnya, tanggal periksanya, apa yang aku ganti, apa yang masih aku saranin diperbaikin nanti. Kalau cuma 'layak' tok, itu kayak surat dokter yang nulis 'sehat' tanpa tensi, tanpa apa-apa. Nggak ada yang percaya."
Ia meminta pulpen, lalu menulis sendiri di kertas kosong—lambat, kadang berhenti untuk menarik napas, kadang minta Arka menyebutkan ulang nama bagian yang ia lupa istilahnya. Ia menulis bantalan apa yang diganti, pengaman jenis apa yang dipasang, rem darurat yang masih ia sarankan diperiksa enam bulan lagi. Ia menulis bahwa mesin ini layak dioperasikan dengan syarat: ada pengawas bersertifikat saat dipakai, tidak boleh dijalankan satu orang saja, dan penutup pengaman tidak boleh dimodifikasi.
"Syarat-syarat ini penting," kata Pak Broto sambil terus menulis. "Bukan buat nyusahin kalian. Buat ngelindungin kalian. Kalau besok-besok ada apa-apa, surat ini bilang aku udah ngingetin. Dan kalian udah dikasih tahu. Jadi nggak ada yang bisa nyalahin sembarangan—nggak kalian, nggak Pak Damar, nggak sekolah."
Lalu, di bawah semua tulisan itu, ia menorehkan tanda tangannya. Tangan tuanya bergetar, tapi tanda tangan itu jelas dan utuh. Di bawahnya ia tulis nomor sertifikat teknisinya yang lama, yang ia hapal di luar kepala meski pabriknya sudah lima belas tahun tutup, dan tanggal hari ini.
Arka memegang surat itu. Tintanya masih basah di beberapa bagian. Ia meniupnya pelan. Surat ini—dua lembar tulisan tangan miring seorang lelaki tua yang berjalan saja sudah ngos-ngosan—adalah hal yang selama berminggu-minggu mereka kira mustahil didapat. Bengkel dinyatakan aman oleh orang bersertifikat. Hitam di atas putih, dengan nomor, dengan tanggal, dengan tanda tangan yang berani.
"Pak," kata Arka pelan, "kenapa Bapak mau tanda tangan? Bapak kan bisa kena kalau ternyata ada apa-apa."
Pak Broto melepas kacamatanya, mengusap matanya yang lelah. "Justru itu aku tanda tangan," katanya. "Kalau aku takut kena, aku nggak bakal sebut syarat-syaratnya tadi. Tukang yang nggak berani tanggung jawab, dia nggak mau periksa beneran—dia cuma mau dibayar terus pergi. Aku ini udah tua, Nak. Jantungku udah ngajak ngomong tiap malam. Yang aku punya tinggal nama dan ilmu. Kalau aku tanda tangan asal-asalan, ilmuku jadi nggak ada harganya. Aku tanda tangan yang bener, biar pas aku mati, ada satu mesin di dunia ini yang aman karena aku."
Ia berdiri perlahan, ditopang Arka, dan melangkah ke pintu. Di ambang, ia berhenti dan menoleh ke mesin bubut besar yang kini berdengung halus, aman, di sudut bengkel.
"Jaga dia baik-baik," katanya. "Mesin tua itu kayak orang tua. Dia masih bisa kerja keras, asal kamu dengerin tabiatnya, dan kamu nggak maksa dia jadi yang dia bukan."