Pengaman baru sudah dipesan lewat Pak Broto, yang masih punya kenalan di toko spare part lama. Bantalan sudah didapat dengan harga teman. Tinggal menunggu barang datang, lalu Pak Broto akan memasangnya dan menandatangani surat kelayakan. Syarat kedua—bengkel dinyatakan aman—kini di jalur yang benar.
Maka tim berpindah ke syarat ketiga: mitra dunia usaha resmi.
Mereka berkumpul lagi di teras Wening pada Sabtu pagi. Buku Wening sudah penuh coretan, sebagian sudah dicoret tanda selesai dengan rasa puas yang aneh.
"Pak Hartono mau surat," kata Wening. "Bukan janji lisan. Surat keterangan dari pengusaha bahwa mereka kerja sama sama Bengkel 7. Pertanyaannya, siapa yang mau?"
Arka mengeluarkan secarik kertas. "Aku udah coba daftar siapa aja yang pernah kita layanin. Walau kecil-kecil."
Ia membaca. "Pak Lukas, bengkel las. Bushing yang kita bikin buat dia udah jalan setahun lebih, nggak ada masalah. Bu Yanti, yang pesen engsel-engsel pintu pagar. Bu Marni, yang lima puluh ring kemarin. Sama Pak Kasdi, yang punya usaha tahu, dulu kita betulin tuas penekan cetakannya."
"Empat," kata Sari. "Lumayan."
"Empat usaha kecil," Wening membetulkan. "Tapi justru itu yang Pak Hartono nggak ngerti waktu kasih syarat. Dia mikir mitra dunia usaha itu mesti pabrik besar. Padahal warga kecil yang pesen langsung ke kita itu... itu malah lebih jujur. Mereka pesen ke kita bukan karena gengsi, tapi karena kita beneran ngebantu mereka."
Jefri, yang biasanya sinis, mengangguk. "Bener. Pabrik besar nggak akan pesen ke bengkel SMK. Tapi tetangga yang ngerti kita murah, jujur, dan deket—mereka mau. Itu kekuatan kita. Bukan kelemahan."
Maka mereka berpencar, dua-dua, menemui para pelanggan kecil itu satu per satu.
Arka dan Sari ke bengkel las Pak Lukas. Pria berkumis tebal itu sedang mengelas pagar ketika mereka datang, dan ia mematikan tabungnya, mengangkat kaca pelindung, dan mendengarkan.
"Surat keterangan?" Pak Lukas mengusap keringat. "Buat bilang kalian pernah bikin barang buat saya?"
"Iya, Pak. Bushing yang Bapak pasang di mesin potong itu."
Pak Lukas tertawa. "Bushing itu? Astaga, itu udah jalan setahun lebih dan belum ganti sekali pun. Padahal kalau saya beli di toko, tiga bulan udah aus. Kalian mau saya tulis itu? Boleh banget. Saya tulis sekarang juga kalau ada kertas." Ia menggeleng-geleng. "Anak-anak ini ngebantu saya pas saya susah dapat barang. Masa saya nggak mau bantu balik."
Di tempat lain, Bayu dan Bayu—maksudnya Bayu dan Jefri—menemui Pak Kasdi si pengusaha tahu. Pria itu, di tengah uap panas tempat perebusan kedelai, mengingat dengan jelas tuas cetakan yang dulu mereka perbaiki. "Kalau bukan kalian, saya mesti beli mesin cetak baru. Mahal. Kalian betulin cuma sehari, ongkosnya seperlima. Saya tulis surat? Saya tulis, dan saya stempel pakai cap usaha saya. Biar resmi."
Wening sendiri menemui Bu Yanti, ibu pemilik warung kelontong yang dulu pesan engsel pagar. Awalnya Bu Yanti ragu—"Saya nggak ngerti urusan surat-surat, Neng"—tapi setelah Wening menjelaskan bahwa surat itu untuk membantu sekolah agar tidak ditutup, ibu itu mengangguk. "Kalau buat nyelametin sekolah, ya saya bantu. Anak saya juga sekolah di situ. Mau ditulisin apa?"
Menjelang sore, mereka berkumpul kembali. Empat surat keterangan—sebagian ditulis tangan di kertas bergaris, sebagian diketik anak pengusaha tahu, satu malah distempel cap usaha. Tidak rapi, tidak seragam, tidak resmi seperti dokumen perusahaan besar. Tapi nyata. Tulisan tangan warga yang benar-benar mereka layani.
Arka menatap empat lembar kertas itu, dan ada sesuatu yang menggumpal di tenggorokannya.
"Pak Wira punya mesin yang lebih bagus dari kita," katanya pelan. "Punya karyawan, punya nama. Tapi dia nggak punya ini."
"Punya apa?" tanya Sari.
Arka mengangkat empat kertas itu. "Tetangga yang mau nulis surat buat dia gratis, dari hati. Karena dia pernah ngebantu mereka pas susah. Kita mungkin lebih lambat, mesin kita lebih tua, tapi kita punya kampung di belakang kita."
Wening tersenyum dan menulis di bukunya, di lajur ketiga, dengan tanda yang sama yang ia pakai untuk hal-hal yang mulai mungkin: solidaritas kampung.
Tapi bahkan saat ia menulis, Arka merasakan sesuatu yang mengganjal. Empat surat dari warga kecil. Warga kecil yang hidupnya bergantung pada nama baik di kampung. Warga yang tidak punya banyak kuasa kalau ada orang yang lebih besar memutuskan untuk menekan mereka.
Dan ada satu orang di kawasan itu yang punya kuasa seperti itu—dan punya alasan untuk marah pada Bengkel 7.