Pak Hartono menerima mereka di ruangannya pada jam istirahat, di antara dua rapat. Ruang kepala sekolah itu pengap oleh tumpukan map dan bau kopi instan yang sudah dingin. Di dinding tergantung foto-foto kelulusan angkatan-angkatan lama, sebagian sudah pudar, dengan barisan murid yang tersenyum di depan gedung yang dulu masih bercat segar.
Arka dan Wening masuk. Arka memegang map plastik berwarna biru di tangannya, dan ia sadar tangannya sedikit berkeringat di permukaan map itu.
"Mau apa lagi kalian," kata Pak Hartono. Bukan bentakan—lebih seperti orang yang terlalu lelah untuk marah. Ia melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidung. "Kalau soal Pak Damar, sudah saya bilang. Pemeriksaan berjalan. Saya nggak bisa apa-apa."
"Bukan, Pak," kata Arka. "Kami nggak datang minta apa-apa hari ini."
Pak Hartono mengangkat alis, sedikit terkejut. Ia memasang lagi kacamatanya. "Lalu?"
Wening yang menjawab, suaranya tenang dan tertata, seperti orang membaca daftar yang sudah dihafalnya. "Kami datang nawarin sesuatu, Pak. Boleh kami jelasin sebentar? Lima menit. Habis itu kalau Bapak bilang nggak, kami pulang dan nggak ganggu lagi."
Kepala sekolah itu menatap mereka berdua lama. Mungkin yang membuatnya tidak langsung mengusir adalah kata nawarin—kata yang tidak biasa keluar dari mulut murid yang biasanya datang untuk mengeluh atau memohon. Ia menghela napas dan menunjuk dua kursi di depan mejanya. "Lima menit."
Arka membuka map biru itu dan meletakkan isinya di meja. Bukan tumpukan tebal—hanya beberapa lembar. Tapi rapi, diketik di rental komputer dekat pasar dengan uang patungan mereka berlima. Di lembar paling atas tertulis satu istilah yang membuat Pak Hartono mengernyit: Usulan Penghidupan Bengkel 7 sebagai Unit Teaching Factory.
"Teaching factory," Pak Hartono membaca pelan. "Kalian tahu dari mana istilah ini?"
"Wening yang nemu, Pak," kata Arka. "Itu model yang justru dianjurkan buat SMK. Murid kerja beneran, ngerjain pesanan dunia usaha, di sekolah, tapi resmi dan diawasi. Yang Pak Damar lakuin diam-diam selama ini—itu bukan barang asing, Pak. Cuma caranya yang salah. Dia sembunyi. Padahal kalau dibikin terang, ini justru bisa jadi nilai buat sekolah pas verifikasi."
Pak Hartono membalik lembaran itu, membaca cepat dengan mata seorang birokrat yang sudah membaca ribuan dokumen seumur hidupnya. Wajahnya tidak berubah, tapi ia membaca. Itu sendiri sudah lebih dari yang Arka harapkan.
"Kalian pikir ini gampang," katanya akhirnya, meletakkan kertas. "Kalian masih anak-anak. Ngomong teaching factory kayak ngomong beli gorengan. Kalian tahu apa yang dipertaruhkan kalau ini gagal? Bukan kalian. Saya. Nama saya. Saya yang tanda tangan. Kalau dinas datang dan nemu bengkel itu dibuka lagi tanpa izin yang bener, tanpa mesin yang aman, saya bisa kena sanksi pribadi. Bukan cuma sekolah digabung—saya bisa dicopot dengan catatan buruk. Di umur saya. Setahun lagi pensiun."
Ruangan hening. Di luar jendela, anak-anak berlarian di lapangan yang retak.
"Saya tahu kalian punya semangat," lanjut Pak Hartono, suaranya melembut sedikit, dan justru itu yang lebih menyakitkan daripada amarah. "Tapi semangat nggak nutup biaya. Nggak nutup risiko. Saya sudah lima belas tahun di sini. Saya yang nutup bengkel itu, atas perintah dinas waktu itu, supaya nggak ada anak lain yang celaka. Sekarang kalian mau saya buka lagi? Dengan tanggung jawab di pundak saya kalau ada apa-apa?"
Arka membuka mulut, tapi Wening menyentuh lengannya pelan. Biar aku.
"Pak," kata Wening. "Bapak bener. Semangat nggak nutup risiko. Makanya kami nggak datang bawa semangat. Kami datang bawa rencana. Kami tahu syaratnya berat. Justru kami mau Bapak yang nentuin syaratnya. Bapak bilang apa yang harus kami penuhi biar Bapak berani tanda tangan. Apa pun itu. Biar kami yang ngejar. Bukan Bapak."
Pak Hartono menatapnya. Lama. Ada sesuatu di mata gadis itu yang membuatnya berhenti—bukan kenekatan, bukan rengekan, tapi semacam ketenangan yang aneh untuk seusianya.
Kepala sekolah itu bersandar di kursinya yang berderit. Ia memandang map biru di mejanya, lalu memandang foto-foto kelulusan di dinding, deretan wajah anak-anak yang dulu ia luluskan ketika sekolah ini masih punya harapan.
"Baik," katanya pelan. "Kalian mau syarat? Saya kasih syarat. Tapi jangan salahkan saya kalau ini terdengar mustahil."
Ia mengangkat satu jari. "Satu. Bengkel itu harus dinyatakan aman. Bukan kata kalian. Bukan kata Pak Damar. Tapi kata orang bersertifikat, hitam di atas putih, yang berani tanda tangan kalau ada apa-apa dia ikut tanggung jawab."
Dua jari. "Dua. Harus ada mitra dunia usaha resmi. Bukan janji lisan. Surat. Tanda tangan. Stempel kalau perlu. Pengusaha yang berani nyatain dia kerja sama sama bengkel sekolah ini."
Ia menurunkan tangannya. "Dan ketiga. Semuanya sebelum tim verifikasi datang. Yang saya denger, paling lama dua bulan lagi. Bisa lebih cepat. Kalau lewat sehari, semua sia-sia, dan saya nggak mau dengar lagi soal bengkel itu seumur hidup. Sanggup?"
Arka menelan ludah. Tiga syarat itu persis seperti yang ada di buku Wening, tapi terdengar jauh lebih berat ketika keluar dari mulut orang yang berkuasa membatalkan semuanya.
Ia menatap Wening. Wening menatapnya. Lalu Arka memandang Pak Hartono lurus.
"Sanggup, Pak."
Pak Hartono tertawa kecil—tawa lelah, tanpa kemenangan, tanpa ejekan. Tawa orang yang sudah lama tidak melihat anak muda berani mengucapkan kata itu di ruangan ini. "Kalian sadar nggak, anak-anak," katanya, mendorong map biru itu kembali ke arah Arka, "saya kasih syarat mustahil supaya kalian nyerah baik-baik. Tapi entah kenapa, saya malah ngarep kalian nggak nyerah."
Ia menunduk kembali ke berkasnya, tanda pertemuan usai. Tapi sebelum mereka keluar, ia berkata, tanpa mengangkat kepala, "Kalau mesin itu nanti diperiksa... periksa yang besar di sudut. Yang itu. Jangan dihindari. Kalau yang itu aman, baru saya percaya kalian serius."
Arka berhenti di ambang pintu. "Itu yang pertama mau kami buka, Pak."
Pak Hartono tidak menjawab. Tapi pena di tangannya berhenti bergerak sejenak di atas kertas.