Mereka berkumpul di luar pintu besi Bengkel 7 sepulang sekolah, lima orang menatap gembok baru yang mengilap dan kertas DILARANG MASUK yang sudah mulai keriting di pinggirnya. Mesin-mesin, bahan, dan lima puluh ring yang belum selesai—semuanya terkunci di dalam, di balik pelat besi yang kini bukan lagi milik mereka.
"Tiga hari," kata Wening pelan, menatap buku catatannya. "Tenggat Bu Marni tinggal tiga hari. Lima puluh ring. Dan kita nggak bisa masuk."
Jefri menendang kerikil ke arah pintu, bunyinya berdentang sepi. "Ya udah, batal. Mau gimana lagi. Bengkelnya disegel, Pak Damar dinonaktifin. Kita ini siapa, anak SMK, mau ngapain."
"Bukan soal kita siapa," sahut Sari. Ia bersandar di tembok, lengannya bersilang, wajah lelahnya keras. "Bu Marni udah bayar setengah di depan. Dia udah janji ke pelanggannya barang jadi minggu ini. Kalau kita batal, dia yang rugi, dia yang dimarahi pembelinya, dia yang nama usahanya jelek. Bu Marni itu satu dari sedikit yang masih percaya sama kita. Masa kita tinggal gitu aja."
"Terus kita kerja di mana?" Jefri membentangkan tangan ke arah pintu tergembok. "Di sini? Pake tangan kosong?"
Arka diam, otaknya bekerja. Ia tahu Jefri benar soal satu hal: menyelinap masuk ke bengkel ini, di malam hari, persis akan membuktikan tuduhan Pak Wira. Itu jalan buntu yang berbahaya. Tapi Sari juga benar. Mereka punya janji.
"Kita nggak perlu bengkel ini," kata Arka pelan, lebih ke dirinya sendiri. Semua menoleh. "Maksudku—pekerjaannya yang penting, bukan tempatnya. Ringnya tinggal dibubut, dibor, dirapikan. Itu nggak harus di sini. Kalau ada mesin lain, di luar sekolah, legal, kita bisa selesaikan di sana."
"Mesin di luar sekolah?" Bayu mengernyit. "Mesin bubut presisi itu mahal, Ka. Siapa yang punya?"
Mereka terdiam. Lalu Sari menegakkan tubuh. "Pak Lukas," katanya. "Bengkel las yang pesen bushing pertama itu. Dia punya bengkel sendiri. Memang nggak ada bubut presisi, tapi ada mesin las, ada gerinda, ada bor. Sebagian kerjaan ring bisa di sana."
"Sebagian doang," Wening menimbang. "Bubut halusnya gimana? Tanpa mesin bubut, ringnya nggak bisa jadi."
"Kita pikirin nanti," potong Arka. "Yang penting sekarang: kita nggak masuk ke bengkel terkunci. Kita kerja di tempat yang sah, di luar sekolah, biar nggak nambah masalah buat Pak Damar. Dan kita selesaikan janji ke Bu Marni. Bukan buat nyelametin sekolah—jujur aja, ngerjain di luar nggak bakal ngebantu akreditasi atau apa pun. Tapi buat nggak ngingkari orang yang udah percaya sama kita."
Ia menatap kawan-kawannya satu per satu. "Kalian tahu nggak, ini mungkin nggak ada gunanya sama sekali buat sekolah. Sekolah mungkin tetap mati. Pak Damar mungkin tetap dipecat. Tapi Bu Marni itu nyata. Pesanannya nyata. Dan kalau kita bisa kerja, kita kerja. Bukan karena untung. Karena... karena itu yang Pak Damar ajarin. Bikin barang yang dipakai orang, dan jangan ingkar."
Untuk sesaat tak ada yang bicara. Lalu Jefri, yang tadi paling pesimis, mendengus—tapi kali ini bukan mengejek. "Kamu ini, ya," katanya. "Dulu paling cepet mau cabut. Sekarang malah paling ngotot." Ia menggeleng, dan sudut bibirnya naik sedikit. "Ya udah. Aku kenal Pak Lukas, bengkelnya nggak jauh dari kontrakanku. Aku yang nemenin kamu ngomong sama dia."
Sari tersenyum tipis—senyum lelah yang jarang ia tunjukkan. "Aku bisa bantu sebelum jam kerja. Pagi sampai sore."
Wening menutup bukunya. "Aku hitung dulu, berapa yang masih bisa kita kejar dalam tiga hari kalau kerjanya pindah. Bahannya gimana, ngambilnya dari mana, soalnya bahan kita juga ada yang ketinggalan di dalam."
Bayu mengangkat tangan pelan. "Aku... aku bisa minjem bor punya tetangga kontrakan. Yang buat tukang. Lumayan."
Arka menatap mereka—lima anak yang beberapa minggu lalu masih saling curiga soal gengsi jurusan, kini berdiri di depan pintu tergembok merencanakan cara menepati janji yang bahkan tak akan menyelamatkan apa pun selain nama baik seorang ibu pemilik usaha alat dapur. Ada yang hangat dan getir sekaligus di dadanya.
Mereka berbalik dari pintu besi itu, meninggalkan gembok mengilap dan lima puluh ring yang terkunci di dalam, dan berjalan keluar gerbang sekolah menuju gang sempit tempat bengkel las Pak Lukas berada. Di belakang mereka, Bengkel 7 berdiri sunyi, gelap, terkunci—tapi untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi merasa terkunci bersamanya.