Acara di rumah Ibu diadakan pada Minggu siang, dan yang datang sepuluh orang.
Bukan aula. Bukan hotel. Tidak ada fotografer, tidak ada rilis, tidak ada satu pun kalimat tentang keluarga yang kembali utuh yang disiapkan untuk dibacakan. Hanya meja makan panjang di rumah lama, dengan kipas angin berdiri di sudut yang bunyinya sudah begitu sejak dulu.
Gilang menanyakannya kepada Kinara empat hari sebelumnya, dan menanyakannya dengan cara yang benar.
'Ibu mengundang. Sepuluh orang, keluarga saja. Kau boleh tidak datang, dan saya akan bilang kau tidak datang, bukan kau berhalangan.'
Kinara menimbangnya dua hari.
Yang ia timbang bukan sopan santun, melainkan hal yang lebih sederhana: apakah ia akan pulang dari sana dengan perut mengeras selama tiga hari, seperti dulu. Ia mencoba membayangkan ruangan itu, meja itu, kipas angin itu, dan mendapati bahwa bayangan itu sudah tidak membuat tangannya dingin.
Lalu ia memutuskan datang, karena ia ingin datang, bukan karena ia harus.
Di mobil, dalam perjalanan ke sana, ia menyebutkan syaratnya sekali saja.
'Kalau saya bilang pulang, kita pulang. Tanpa negosiasi, tanpa pamit panjang.'
'Tanpa negosiasi,' kata Gilang.
Di meja, Ibu menyapanya dengan namanya sendiri.
'Kinara.'
'Bu.'
Keduanya kaku, dan keduanya tahu itu, dan tidak satu pun berpura-pura tidak. Tidak ada pelukan yang dipaksakan untuk dilihat orang lain. Tidak ada permintaan maaf besar yang diucapkan di depan sepuluh orang supaya ada saksinya. Tidak ada syarat bahwa semuanya harus sudah selesai sebelum makanan boleh diambil.
Om mencoba, tentu saja. Di tengah makan ia mulai membangun kalimat tentang damai yang sudah sepenuhnya pulih, tentang keluarga yang akhirnya bersatu, dengan nada orang yang sedang mengarang paragraf untuk diunggah nanti malam.
'Bukan topik,' kata Gilang, tanpa mengangkat kepala dari piringnya. 'Makan.'
Ibu menatap Om sampai lelaki itu meraih gelasnya dan diam. Tatapan itu bertahan sedikit lebih lama dari yang diperlukan.
Seorang bibi kemudian salah memulai kalimat — kalimat lama, jenis yang dulu dilemparkan dengan ringan di meja ini tentang perempuan yang membawa masalah ke dalam keluarga — lalu berhenti sendiri di tengah, karena cuaca meja itu sudah bukan cuaca yang sama.
Kinara membiarkan jeda itu berlalu satu detik, lalu bertanya kepada siapa pun yang mau menjawab, resep sambalnya pakai terasi bakar atau tidak.
Sisa makan siang berjalan biasa. Ada yang menceritakan anaknya yang masuk kuliah. Ada yang mengeluhkan jalan yang digali lagi. Tidak ada yang menceritakan sidang, dan itu bukan karena dilarang, melainkan karena akhirnya tidak semenarik dulu.
Ada seorang anak kecil, sepupu jauh berumur enam tahun, yang memilih duduk di sebelah Kinara sepanjang makan siang karena Kinara adalah satu-satunya orang dewasa yang mau menjawab pertanyaannya tentang kenapa air jeruk ada bijinya. Itu, lebih daripada hal lain di ruangan itu, yang membuat siangnya terasa ringan.
Setelah makan, Gilang keluar ke kebun belakang dengan alasan melihat pohon jambu yang sudah miring, yang sebenarnya adalah caranya memberi ruang.
Ia berdiri cukup lama di sana. Pohon itu ditanam ayahnya, dan sudah miring sejak sebelum semua urusan ini dimulai, dan tidak pernah ditebang karena tidak ada yang tega. Gilang memegang batangnya sebentar, memeriksa tanah di bawahnya seperti orang yang tahu sedikit tentang pohon, lalu kembali ke dalam sebelum ada yang menyadari ia terlalu lama di luar.
Di teras, Ibu dan Kinara duduk dengan dua gelas teh.
'Saya masih berduka,' kata Ibu akhirnya. 'Untuk suami saya. Itu tidak akan hilang.'
'Saya tahu.'
'Dan saya tidak akan minta kau memaafkan apa pun hari ini.' Perempuan tua itu memandang halaman. 'Kau kerja. Kau memilih tinggal. Saya lihat itu. Saya tidak minta hubungan kita jadi sempurna. Cukup begini — teh, makan, sesekali.'
Kinara memegang gelasnya dengan dua tangan.
'Hormat,' katanya. 'Saya juga tidak akan pura-pura. Saya tidak berdosa, Bu. Tidak pernah. Dan saya tidak merayakan duka Ibu, tidak sekali pun.'
'Saya tahu itu sekarang.'
'Pelan-pelan saja. Itu cukup.'
'Satu hal lagi,' kata Kinara sebelum gelasnya habis. 'Kalau ada yang bertanya kepada Ibu kapan kami akan punya anak, atau kapan saya berhenti kerja, Ibu tidak perlu membela saya. Cukup jangan ikut bertanya.'
Ibu terdiam sebentar, lalu mengangguk satu kali. 'Saya tidak akan bertanya.'
'Itu sudah banyak, Bu.'
Mereka menghabiskan teh tanpa banyak bicara lagi, dan tidak ada yang menangis, dan keduanya diam-diam menganggap itu hasil yang baik.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, Kinara menyandarkan kepala ke jendela.
'Hormat dua arah,' katanya. 'Kaku. Jujur. Bukan aula.'
'Bagus,' kata Gilang. 'Tidak ada tur keliling keluarga sesudah ini. Tidak ada apa pun yang diunggah. Terima kasih sudah memilih datang.'
Reza mencabut sisa usul foto keluarga dari agenda komunikasi keesokan harinya, tanpa diminta.
Keesokan siangnya Ibu mengirim pesan kepada Kinara — pendek, tentang makanan yang tertinggal dan boleh diambil kapan saja. Kinara membalas dengan sopan, sama kakunya, dan menyimpan nomor itu tanpa mengubah apa pun di penyaringnya.
Acara kecil itu tetap menjadi acara kecil. Tidak ada yang membesarkannya menjadi kisah rehabilitasi keluarga. Om mengunggah sesuatu malam itu dan tidak ada yang menanggapinya.
Di rumah, malamnya, mereka makan mi lagi, dan payung tetap tersandar di rak dekat pintu.