Akhir pekan mereka mengulang perjanjian rumah di meja makan, cetakan baru, pulpen, Reza sebagai saksi administratif singkat lalu keluar. Bukan karena romansa. Karena goyang portal dan Om membuat relapse menghukum jadi godaan nyata.
Kinara membaca poin lama: jarak, hormat, tidak sabot kerja, tidak cage, tidak usir, bukti tanpa lempar, badan bukan bayar, izin nama, dua dunia, bukan umpan. Lalu menambah baris yang kini lebih tajam.
'Rem relapse menghukum = bahaya permanen,' kata Kinara. 'Artinya: kalau Bapak kembali memakai saya sebagai hukuman — sabot, cage, fitnah diam-diam, umpan, vonis dapur — itu bukan “salah kecil”. Itu putus arah. Dua pintu terbuka tanpa negosiasi panjang. Hafal?'
Gilang menelan. 'Hafal. Bahaya permanen. Tidak main-main. Saya tulis: Kinara bukan hukuman — addendum tetap. Statement dan legal tidak mengubah hak kerja dan zona.'
Kinara mengangguk. 'Kamar: opsional. Artinya saya boleh tetap terpisah. Boleh suatu hari pilih dekat — dengan izin, sadar, bukan tebus. Tidak ada kewajiban ranjang sebagai bukti damai. Tidak ada hukuman lewat badan. Hafal?'
'Hafal,' kata Gilang. 'Opsional. Izin. Bukan tebus. Saya tidak tagih.'
Mereka tanda tangan ulang. Tanggal baru. Salinan ke box Kinara, brankas Gilang, arsip Reza.
Setelah Reza keluar, Kinara bilang, 'Saya lihat Bapak berhenti di beberapa hal — sejauh ini. Percaya belum total. Coba lanjut. Perjanjian ini = lantai. Bukan karpet merah.'
Gilang: 'Lantai. Saya tidak minta dimaafkan murah. Saya minta kesempatan tidak mengulang — itu tetap. Ditambah: bahaya permanen saya terima sebagai rem yang adil.'
Kinara berdiri. 'Kamar saya malam ini — terpisah. Opsional saya pakai. Bukan hukuman ke Bapak. Disiplin saya.'
'Baik,' kata Gilang. 'Selamat tidur. Kinara.'
'Gilang.'
Minggu itu rumah lebih tenang dari minggu portal. Bukan karena dunia luar selesai — Bara masih ada, Om masih fishing — melainkan karena lantai diucap ulang dengan konsekuensi yang tidak murah. Gilang menulis di sticky dalam laci: relapse menghukum = bahaya permanen. Kinara menulis di notes: kamar opsional; cinta bukan syarat; kerja tetap.
Senin pagi dua alarm. Dua dunia. Satu perjanjian yang baru saja ditebali. Cukup untuk memulai minggu tanpa menjadikan goyang kemarin sebagai alasan kembali ke algojo.
Setelah tanda tangan ulang, Gilang membuka kalender: review perjanjian tiap bulan, bukan tiap marah. Kinara setuju. 'Marah tidak boleh jadi notaris dadakan.'
Mereka membahas kamar opsional lebih praktis: handuk, jam alarm, kunci — tetap dua. Suatu hari kalau Kinara pilih tidur di ruang yang sama, itu keputusan sadar tertulis di notes malam itu, bukan karena portal atau Om.
Gilang: 'Saya takut opsional saya baca sebagai penolakan permanen.'
Kinara: 'Boleh takut. Jangan hukum. Opsional = milik saya. Rem relapse tetap bahaya permanen — milik konsekuensi Bapak.'
Gilang mengangguk. Malam terpisah. Pagi kopi. Perjanjian di box terasa lebih berat — dan itu bagus. Berat mencegah murah.
Reza membaca poin bahaya permanen dan bersiul pelan. 'Lo setuju rem seberat itu. Bagus. Saya pegang salinan. Kalau lo relapse, saya tidak bantu nutupi.'
Gilang: 'Jangan nutupi. Itu perintah.'
Kinara mendengar dari dapur dan mengangguk ke arah pintu. Malam mereka tidak merayakan tanda tangan. Hanya mi. Jarak sofa. Kamar opsional dipakai terpisah. Perjanjian di box. Portal di luar. Lantai di dalam.
Mereka menempel salinan ringkas poin bahaya permanen di sisi dalam pintu ruang kerja — bukan untuk tamu, untuk Gilang tiap masuk. Kinara menempatkan salinannya di notes halaman pertama bulan.
Uji kecil datang saat Gilang kesal karena Bara diam resmi terlalu lama. Dia hampir menaikkan nada ke Kinara soal 'kenapa belum selesai'. Di mulut berhenti. 'Itu relapse arah. Maaf — tidak. Laporkan hampir. Salah sasaran nada.'
Kinara: 'Hampir dicatat. Bahaya permanen — ingat pintu. Tidur terpisah. Opsional saya pakai. Perjanjian hidup.'
Gilang ke kamarnya dengan sticky di kepala. Perjanjian diulang bukan formalitas. Itu tali yang dia setujui untuk mengikat tangan algojo miliknya sendiri.
Mereka uji kamar opsional dengan aturan praktis tertulis: kunci masing-masing; tidak masuk tanpa ketuk; dekat hanya dengan izin verbal jelas di siang atau malam sadar. Gilang membaca dua kali. 'Saya setuju. Saya takut. Saya tidak hukum takut.'
Kinara: 'Takut boleh. Bahaya permanen — kalau takut jadi cage atau sabot, pintu terbuka. Perjanjian diulang untuk itu. Mi? Bukan tebus.'
'Mi,' kata Gilang. Mereka makan. Tanda tangan kering. Lantai terasa. Minggu siap tanpa algojo sebagai default.
Reza menandatangani sebagai saksi administratif di halaman terakhir. 'Saya harap salinan ini berdebu karena tidak dilanggar,' katanya. Gilang: 'Saya harap sama.' Kinara: 'Saya harap Bapak takut pada baris bahaya permanen. Takut yang benar.'
Gilang menatap baris itu. 'Takut. Benar. Tidur terpisah. Opsional. Perjanjian hidup. Senin angka.'
Rumah siap. Lantai diulang. Relapse diingatkan sebagai jurang, bukan sebagai 'salah kecil yang bisa dibeli maaf murah'.
Minggu malam mereka meletakkan dua salinan di tempatnya: box dan brankas. Gilang mengunci. Kinara mengunci. Tidak ada toast. Hanya satu kalimat Kinara: 'Lantai hidup. Jangan injak sampai retak.' Gilang: 'Tidak injak. Bahaya permanen — hafal. Kamar opsional — hafal. Tidur.'
Pagi Senin alarm berdua. Perjanjian diulang kemarin masih di jari seperti tinta basah. Gilang membuka laci sticky bahaya permanen sebelum berangkat. Kinara membuka notes kamar opsional. Dua dunia. Satu lantai. Cukup.