Om datang ke ruang CEO tanpa janji, pintu terbuka lebih keras dari sopan. Di tangannya print statement dan print spekulasi lama tentang arsip. Wajahnya merah tertutup.
'Kau buka aib ayahmu,' katanya. 'Kau biarkan perempuan itu mendorong narasi kotor. Board goyah. Keluarga malu. Tarik. Diamkan dia. Damai dengan Bara.'
Gilang berdiri, tidak meninggikan suara. 'Kinara tidak mendorong aib. Bukti dan saksi mendorong kebenaran. Ayahku rumit. Itu fakta. Kau mau dusta nyaman. Saya tidak.'
'Darah!' Om mengetuk meja. 'Nama Mahesa!'
'Lebih baik aib jujur daripada istri dikurbankan,' kata Gilang. Kalimat itu keluar bersih, sudah matang di kepala sejak file cadangan hidup. 'Saya pernah mengorbankan dia. Saya berhenti. Kalau board mau ganti saya karena itu — bawa ke prosedur. Jangan lewat ancam Bara dan fitnah portal.'
Om terpaku seinci. 'Kau gila.'
'Saya waras belakangan,' kata Gilang. 'Reza, catat: Om mengusulkan tarik statement dan diamkan istri. Ditolak. Bukan topik keluarga di minutes publik — tapi internal, tercatat.'
'Reza catat.'
Om pergi dengan ancaman samar soal RUPS. Gilang tidak menyusul. Dia menelepon Kinara — tidak untuk minta usap, untuk laporkan.
'Om marah. Bilang saya buka aib ayah. Saya bilang: lebih baik aib jujur daripada istri dikurbankan. Saya tidak minta kau naik panggung. Hanya supaya kau dengar dari saya, bukan dari rumor.'
Kinara diam sebentar di sisi firma yang sepi. 'Dicatat. Kalimat itu… berat. Benar. Jangan jadikan saya poster “istri yang diselamatkan dari kurban”. Saya kerja. Saya pihak. Aib ayah — urusan Bapak dan Ibu dengan hormat. Bukan pesta saya.'
'Hafal,' kata Gilang. 'Tidak poster. Tidak pesta. Legal lanjut. Mute Om lebih dalam.'
Sore Ibu mendapat versi Om yang dipelintir. Ibu menelepon Gilang, suara serak. 'Kau bilang aib jujur?'
'Saya bilang saya tidak mengorbankan Kinara lagi untuk menjaga dusta,' kata Gilang. 'Ayah rumit. Saya tidak cuci di portal. Saya tidak diam saat istri difitnah.'
Ibu lama diam. 'Datang. Bawa dia. Saya mau lihat wajahnya tanpa tuduh hari ini. Saya belum tentu percaya semua. Saya… coba hormat.'
Gilang menyampaikan ke Kinara. Kinara berpikir, lalu setuju malam singkat — bukan sidang. Mira dapat kabar: `Ke Ibu. Hormat. Tidak akui palsu.` Mira: `Tegak. Makan dulu.`
Gilang di kantor menulis ulang sticky: aib jujur > kurban istri. Di bawahnya: jangan relapse. Om bukan imam. Bara bukan penstabil. Kinara bukan poster.
Setelah Om pergi, dua direktur datang diam-diam ke Gilang. 'Kami dengar aib jujur. Kami tidak minta kau korbankan istri. Kami minta jangan perang di media.'
'Tidak perang media,' kata Gilang. 'Statement sudah. Lanjut hukum. Ayah — internal hormat. Bara — berkas.'
Mereka mengangguk, lega seinci. Om kehilangan sebagian kor. Reza tersenyum sangat kecil.
Malam Kinara bertanya, 'Kalau RUPS benar dipakai Om?'
'Hadapi,' kata Gilang. 'Angka saya kuat. Saya tidak pakai kau sebagai pidato pembelaan. Kau tidak naik podium.'
Kinara mengangguk. 'Aib jujur — kalimat Bapak — saya tidak pesta. Saya catat sebagai rem kurban. Itu cukup.'
Gilang menulis di sticky dinding ruang kerja, kali ini boleh kelihatan Kinara: lebih baik aib jujur daripada istri dikurbankan. Kinara melihat, tidak memeluk. Hanya bilang, 'Jaga. Jangan jadi slogan kosong.'
Di board informal tea, Om mencoba ulang narasi durhaka. Gilang berdiri. 'Lebih baik aib jujur daripada istri dikurbankan. Saya ulang supaya tidak ada yang salah dengar. Agenda berikutnya — angka.'
Keheningan. Mira di tautan menunduk ke laptop, menyembunyikan anggukan. Kinara mendengar dari laporan Gilang malam itu, bukan dari video bocor.
'Saya tidak naik panggung,' tegas Kinara. 'Kalimat Bapak — untuk rem kurban, bukan untuk jadikan saya bukti tobat publik.'
'Hafal,' kata Gilang. 'Tidak jadikan kau bukti tobat. Jadikan kau orang yang tidak dikurbankan. Beda.'
Om menyebar undangan makan malam 'keluarga inti' tanpa Kinara — jebakan absen. Gilang datang membawa satu kalimat saja di kepala, menolak makan panjang, berdiri setelah kopi.
'Kalau undangan ini untuk mengisolasi istri saya dari keluarga, saya pulang. Lebih baik aib jujur daripada istri dikurbankan. Saya ulang di meja ini supaya jelas.'
Beberapa paman gelisah. Ibu menatap Om. 'Cukup. Jangan wayang.' Om kalah ruangan malam itu. Gilang pulang awal, laporkan ke Kinara tanpa meminta pujian.
Kinara: 'Bagus pulang awal. Jangan jadikan saya alasan perang saudara tiap malam. Aib jujur — pakai untuk rem kurban, bukan untuk bakar seluruh keluarga.'
Gilang: 'Rem kurban. Tidak bakar. Mute yang perlu. Hormat Ibu. Tidur.'
Reza mengumpulkan dukungan diam board cukup untuk menahan usul ceroboh Om. Gilang tidak merayakannya di rumah. Hanya bilang ke Kinara, 'RUPS takutannya turun. Aib jujur tidak saya tarik. Kurban tidak kembali.'
Kinara mencuci tangan di wastafel. 'Kalimat Bapak saya hafal. Hafalkan juga batas: jangan bakar Ibu dengan aib sebagai pisau. Pelan di rumah Ibu. Tajam ke Om dan Bara lewat legal.'
Gilang: 'Pelan ke Ibu. Tajam legal. Hafal. Tidur.'
Pagi residual setelah makan malam keluarga Om, Gilang menemukan print ancaman samar di meja kantor — tanpa nama. Reza lacak: jalur dekat Om, belum cukup ke polisi. Dicatat. Gilang tidak membawa print ke Kinara sebagai panik; dia ringkas: ada tekanan, ditangani, tidak cage.
Kinara: 'Ringkas bagus. Aib jujur tetap. Kurban tidak. Saya kerja. Bapak legal.'