Pagi dapur. Kinara yang membuka topik, bukan untuk dramatisasi, melainkan untuk kontrak lanjutan yang jujur.
'Kemarin Bapak bilang saya bukan hukuman. Saya dicatat. Rem masih. Percaya belum total. Coba.'
Gilang berhenti mengaduk kopi. 'Coba. Apa batasnya?'
'Batasnya sama,' kata Kinara. 'Perjanjian rumah. Dua dunia. Tidak sabot. Tidak cage. Tidak umpan. Tidak maaf murah. Tidak tes dekat tiap hujan. Legal jalan. Saya waspada. Kalau Bapak relapse ke mode menghukum — saya tidak wajib menanggung. Dua pintu masih ada, meski sekarang saya pilih tinggal dan mencoba.'
'Hafal,' kata Gilang. 'Coba. Tidak minta percaya total. Percaya total yang dipaksa = cage baru.'
Kinara hampir tersenyum. 'Bagus paham. Saya juga coba: tidak membaca setiap diam Bapak sebagai vonis. Tidak setiap lembut sebagai tipu. Berat. Saya latihan.'
Mereka menyusun daftar coba yang praktis, bukan puisi. Gilang: laporkan hampir. Kinara: laporkan gangguan ke kerja. Gilang: izin sebelum statement bernama Kinara. Kinara: tidak mengaku dosa palsu demi menenangkan siapa pun. Gilang: tidak hunus. Kinara: tidak pesta di duka Ibu.
Reza dipanggil singkat ke rumah sore itu hanya untuk mendengar ringkas — bukan mengawasi. 'Lo berdua lagi buat aturan,' katanya. 'Bagus. Saya catat yang nyentuh keamanan dan legal. Sisanya bukan urusan saya.'
Setelah Reza pergi, Kinara bilang, 'Coba juga berarti saya tidak membalas dendam ke Bapak dengan diam yang kejam. Saya tajam. Bukan kejam.'
Gilang: 'Tajam saya terima. Kejam — rem. Saya pernah kejam. Saya tidak minta giliran dibalas.'
Malam mereka kerja di meja yang sama lagi: Gilang baca draf legal, Kinara baca worksheet firma di laptop yang menghadap lawan arah. Dua dunia, satu meja, jarak sadar. Sesekali Kinara bertanya soal kata hukum yang asing; Gilang menjelaskan tanpa mengambil alih nadanya.
Sebelum tidur Kinara mengetuk kusen pintu Gilang — tidak masuk. 'Coba. Mulai hari ini. Jangan rayakan. Jangan love. Tidur.'
'Coba,' sahut Gilang dari dalam. 'Tidur. Kinara.'
'Gilang.'
Pagi-pagi Mira menelepon. 'Masih waspada?'
'Masih,' kata Kinara. 'Tapi saya bilang coba. Bedanya ada.'
'Bedanya dijaga,' kata Mira. 'Kerja. Makan. Jangan baca portal tentang diri.'
Kinara masuk kerja. Gilang masuk board. Om diam lebih panjang dari biasa — mencurigakan, tapi mute tetap mute. Sore legal mengirim jadwal: langkah awal ke Bara minggu ini. Gilang teruskan ke Kinara. Kinara: `Dicatat. Coba lanjut. Rem masih.`
Di rumah malam, Gilang hampir bertanya apakah “coba” termasuk duduk lebih dekat di sofa. Dia tidak bertanya. Dia ingat belum dan izin. Coba bukan celah untuk mencuri.
Kinara menontonnya dari sudut mata dan menghargai pertanyaan yang tidak jadi. Dia menulis di notes: `Percaya belum total. Coba. Rem masih.` Lalu menutup buku. Percaya yang belum total bukan penghinaan. Itu kejujuran yang membuat “coba” berarti sesuatu.
Mereka menguji “coba” di hal kecil dulu. Gilang hampir menunda jemput karena rapat molor — dulu dia akan memerintah Kinara menunggu di lobi tanpa pilihan. Sekarang dia kirim pesan: terlambat, opsi taksi protokol atau tunggu lima belas. Kinara pilih taksi. Gilang tidak marah.
Kinara hampir menyimpan gangguan email anonim sendirian. Dia ingat coba juga kewajiban laporkan. Dia teruskan ke Reza. Reza: ditangani. Gilang: terima kasih laporkan, bukan dimarahi kenapa ada gangguan.
Malam minggu mereka memasak telur dan sayur. Tidak romantis. Praktis. Kinara bilang, 'Coba hari ini lulus kecil. Jangan nilai besar.'
Gilang: 'Tidak nilai. Lanjut. Rem masih. Percaya belum total — saya terima sebagai cuaca, bukan sebagai hinaan.'
Kinara mencuci piring. 'Cuaca. Bagus. Besok bisa mendung lagi. Tetap coba.'
Minggu “coba” diuji Om sekali lagi dengan undangan teh keluarga mendadak. Gilang tolak. Kinara tidak diseret. Ibu dihubungi terpisah oleh Gilang: hormat, bukan wayang. Ibu setuju tidak datang ke teh Om.
Kinara mendengar dan bilang, 'Coba hari ini: Bapak tidak menjual saya ke panggung keluarga. Centang.'
Gilang: 'Centang. Rem masih. Saya hampir setuju teh demi redakan Om — dicabut. Laporkan hampir.'
'Dicatat,' kata Kinara. 'Hampir yang dicabut lebih berharga dari teh.'
Mereka makan malam tanpa topik Om. Hanya jam kerja besok dan cuaca. Percaya belum total duduk di meja seperti garam — ada, tidak diglamorkan.
Kinara menulis di notes daftar 'coba minggu ini' dengan kotak kosong: laporkan hampir, hormati dua dunia, tidak baca portal, makan, tidur. Dia mencentang makan dan tidur lebih dulu karena Mira omeli.
Gilang punya daftar paralel: tidak hunus, izin nama, laporkan hampir, mute Om, tidak tes dekat. Reza meninjau daftar itu seperti checklist operasi. 'Bagus operasional. Kurang puisi. Saya suka.'
Malam mereka saling baca daftar tanpa menyatu. 'Coba,' kata Kinara. 'Rem masih. Percaya belum total.'
'Coba,' sahut Gilang. 'Saya tidak minta total. Saya minta ruang tidak mengulang algojo.'
Di perjalanan ke firma Kinara mengulang kata coba seperti orang mengulang alamat. Bukan mantra. Batas. Di sore hari Gilang mengulang rem masih saat jari hampir membalas Om. Dicabut. Dilaporkan. Kinara mencentang di notes tanpa pesta. Percaya belum total — tetap. Coba — tetap.
Sebelum lampu mati Kinara bilang dari ambang, 'Coba bukan diskon. Coba mahal. Bayar dengan rem.' Gilang dari kamarnya menjawab, 'Bayar. Tidak tagih cinta. Tidur.' Dua pintu. Satu arah yang sedang dicoba.