Hujan turun setelah seminggu gerah. Rumah berbau tanah basah. Gilang selesai panggilan legal, meletakkan ponsel, lalu berdiri di depan pintu kamar Kinara terlalu lama sebelum mengetuk.
'Masuk,' kata Kinara. Dia duduk di kursi baca, bukan di tempat tidur. Jarak disiapkan.
Gilang berdiri di ambang. 'Aku hampir bilang maaf.'
Kinara menatapnya. 'Hampir?'
'Aku mau bilang maaf,' koreksinya. 'Untuk menikahimu sebagai hukuman. Untuk sabot. Untuk cage. Untuk tidak baca. Untuk hampir menghapus file. Untuk hampir memakai kau sebagai umpan di kepala.'
Kinara menarik napas. 'Daftar itu benar. Tapi jangan murah.'
Gilang mengerut. 'Maksud?'
'Jangan murah,' ulang Kinara pelan, tajam. 'Maaf satu malam yang minta aku langsung bilang “sudah, aku maafkan” — itu murah. Itu minta keringanan. Saya tidak jual keringanan. Perbaiki.'
Kata itu jatuh di antara mereka seperti stempel.
'Perbaiki bagaimana?' tanya Gilang, suara serak.
'Lanjut audit tanpa preman. Hormati kerja saya. Jangan sabot. Jangan cage. Jangan Om sebagai imam dendam. Lindungi nama saya di legal tanpa menjadikan saya boneka statement. Hadapi Ibu tanpa menyuruh saya berlutut. Hadapi Bara tanpa menjadikan saya umpan. Tiap hari. Lama. Bukan pidato.'
Gilang mengangguk pelan. 'Perbaiki. Tidak tagih maaf balik. Tidak tagih cinta. Tidak tagih badan sebagai stempel tobat.'
'Bagus,' kata Kinara. 'Badan bukan bayar — masih. Cinta — belum jadi topik yang aman. Percaya — bertahap. Rem — hidup.'
Gilang menelan. 'Aku hampir masuk dan bilang maaf supaya dadaku ringan. Itu juga murah.'
'Ya,' kata Kinara. 'Dadamu ringan bukan urusan saya. Urusan saya: nama saya, hidup saya, perjanjian.'
Dia berdiri, menjaga jarak dua langkah. 'Bapak boleh bilang: saya sedang memperbaiki. Itu lebih jujur dari maaf teater.'
Gilang menatap matanya. 'Saya sedang memperbaiki. Belum selesai. Kalau saya gagal… kau punya dua pintu yang dulu kau kasih.'
'Hafal,' kata Kinara. 'Sekarang pergi. Tidur. Besok angka. Jangan kirim bunga sebagai ganti perbaikan.'
Gilang hampir tertawa kecil — pahit, singkat. 'Tidak bunga.'
Dia keluar. Di koridor, Reza kebetulan lewat dengan map, melihat muka Gilang, dan hanya bilang, 'Lo tidak minta maaf murah, kan?'
'Tidak,' kata Gilang. 'Disuruh perbaiki.'
'Reza suka itu,' kata sekretaris. 'Lebih mahal. Lebih nyata.'
Di kamar, Kinara menulis di notes: `Jangan murah. Perbaiki.` Dia garis bawahi. Mira dapat pesan ringkas: `Hari ini saya tidak jual maaf.` Mira balas: `Bagus. Makan. Tidur.`
Kinara makan roti yang tersisa, minum air, tidur. Di kamar lain, Gilang membuka daftar perbaikan di tablet: legal, audit, protokol tamu, mute Om, bukan umpan, bukan hapus, bukan sabot. Dia mencentang yang sudah jalan, membiarkan yang belum tetap terbuka.
Hujan tinggal rintik. File hidup di brankas dan di legal. Ancaman Bara hidup di luar. Maaf murah ditolak di ambang pintu. Yang tersisa adalah kerja — mahal, pelan, tanpa confetti.
Pagi residual di dapur: kopi dua cangkir, jarak di meja, kalimat singkat.
'Perbaiki,' kata Kinara tanpa menoleh, seperti pengingat cuaca.
'Sedang,' jawab Gilang. 'Tidak murah.'
Cukup untuk memulai hari tanpa menjual pengampunan.
Pagi setelah 'jangan murah', Gilang tidak membawa hadiah. Dia membawa jadwal: jam audit, jam legal, jam board yang dibersihkan dari agenda istri, jam kosong yang tidak diisi kontrol.
Kinara membaca jadwal di dapur. 'Ini lebih mirip perbaikan daripada bunga.'
'Itu maksudnya,' kata Gilang.
Mereka membahas satu poin yang kemarin belum sempat: bagaimana kalau Ibu meminta Kinara 'menjelaskan' lagi dalam marah.
'Saya bisa hadir,' kata Kinara. 'Saya tidak akan mengaku dosa palsu supaya Ibu tenang. Kalau Bapak minta saya mengaku — itu murah dan kejam.'
'Tidak minta,' kata Gilang cepat. 'Ibu — waktu. Kau — tidak mengaku palsu. Saya — hadapi.'
Kinara mencentang di notes. 'Bagus.'
Siang di kantor Gilang menolak usul PR yang ingin framing 'suami-istri saling memaafkan' sebagai penutup isu portal. 'Tidak ada kampanye maaf,' katanya. 'Ada proses hukum dan audit. Titik.'
Reza tersenyum sangat kecil. 'Lo mahal hari ini. Bagus.'
Sore Kinara pulang dengan Mira sebentar di mobil sewa — zona. Mira bilang, 'Jangan kasih diskon pengampunan.' Kinara: 'Sudah saya bilang. Perbaiki.'
Malam Gilang mengetuk lagi, lebih singkat. 'Bukan maaf. Laporan: legal maju, Bara di-trace, Om mute, Ibu tidak diganggu, jadwal tidak sabot. Satu hampir relapse cage — dicabut.'
Kinara mengangguk. 'Laporan diterima. Lanjut. Jangan minta nilai.'
Gilang pergi sebelum meminta nilai. Di kamar dia menulis di tablet bawah daftar: jangan murah — diulang sebagai header. Hujan sudah reda. Perbaikan tidak reda. Itu yang dia bawa tidur, bukan keringanan yang ditolak di ambang.
Minggu singkat ditutup tanpa bunga, tanpa kampanye maaf, tanpa Om. Hanya daftar perbaikan dengan beberapa centang dan banyak baris kosong yang masih harus diisi dengan hari.
Kinara menutup notes. 'Mahal itu bagus. Murah itu racun.'
Gilang mengangguk. 'Saya pilih mahal. Tidur.'
Dua pintu kamar tertutup. Hujan habis. Perbaikan belum.
Reza menyalin header 'jangan murah' ke catatan pribadinya — bukan untuk mengejek, untuk mengingatkan bosnya di siang yang sibuk. Saat Gilang hampir menyetujui draft PR manis, Reza mengetuk meja.
'Murah,' kata Reza hanya satu kata.
Gilang mencoret draft. 'Mahal. Audit. Hukum.'
Kinara, malam itu, mendengar ringkas laporan itu dan hanya bilang, 'Bagus. Lanjut besok.' Pintu. Jarak. Perbaikan tanpa diskon.