Om Mahesa datang Senin siang ke kantor — bukan Ibu, bukan teh. Senyum tipu di kursi tamu CEO. 'Gilang, kau terlalu lama diuji istri. Dengarkan Om. Dulu junior itu — Kinara — dipasang Bara sebagai orang yang mudah dikorbankan. Bara yang bersih tangan. Ayahmu… ikut main, tapi yang menunjuk junior sering Bara. Om tahu angin lama. Pakai itu. Habisi Bara. Jaga nama ayahmu sedapat mungkin. Istrimu bisa jadi saksi manis.'
Gilang tidak percaya Om penuh — Om selalu punya agenda board. Tapi nama Bara sama dengan bisik Kinara. Itu mengunci sesuatu. 'Sumber Om?'
'Orang lama. Jangan tanya di minutes,' kata Om. 'Cepat sebelum Bara kabur ke luar.'
Gilang: 'Saya simpan nama itu. Saya tidak habisi malam ini. Saya tidak pakai istri sebagai saksi manis di portal. Audit. Keluar. Bukan topik board.' Om kesal; undur. Reza masuk segera. 'Lo dapat tip Om soal Bara?' Gilang: 'Sama nama. Saya tidak percaya Om penuh. Saya simpan. Jangan spoil ke Kinara sebagai “Om membenarkanmu” — itu bisa jadi umpan Om. Saya yang bilang ke dia: nama sama; sumber beda; uji.'
Sore di mansion Gilang laporkan sempit. 'Om sebut Bara. Kinara dipasang sebagai junior mudah dikorbankan. Saya tidak percaya Om penuh. Saya simpan nama. Tidak pedang. Tidak saksi manis. Sticky: *Bara. Om agenda. uji. jangan portal. jangan pakai Kinara.*'
Kinara diam, lalu angguk. 'Nama sama dengan sumber saya. Itu penting. Om agenda — dicatat. Saya tidak jadi saksi manis. Saya jadi audit. Terima kasih tidak hunus pedang karena Om. Rem preman — masih. Kalau benar… sticky Bapak — masih?'
'Masih. Kalau benar… mual. Belum maaf. Perbaiki,' kata Gilang. 'Payung bukan tebus — masih. Sabot — tidak ulang. Cage — tidak. Kamar — terpisah. Badan — bukan bayar. Bara — trace. Cliff: saya punya dua sumber, satu takut, satu Om. Keduanya bisa dusta. Kerja.'
Kinara: 'Kerja. Saya tinggal. Tidak berdosa. Nama Bara di notes berdua — tidak di portal. Malam.' Gilang: 'Malam. Jarak.' Reza malam kirim: `Bara masih di kota. Bersih permukaan. Jangan preman.` Gilang: `Audit. Simpan nama. Fokus.` Di ruang kerja map terbuka di catatan kaki ayah; di samping sticky baru: *Bara Wijaya — simpan. jangan percaya Om penuh.* Kinara di kamar tamu menulis cliff yang sama tanpa kata outline: dua sumber; satu nama; perang belum terbuka; rem hidup. Cukup untuk menutup arc jejak pertama — nama yang disimpan, pedang yang belum dihunus, dan dusta nyaman yang semakin sulit dipakai sebagai selimut.
Pagi residual: `Trace. Angka. Zona.` Kinara: `Audit. Tidak telepon Bara. Makan.` Mira: `Nama sama Om+sumber? Hati-hati jebakan.` Kinara: `Hati-hati. Rem.` Gilang di lift mengulang: kalau benar… Bara… Kinara tidak… jangan Om. Pintu lantai tiga puluh terbuka ke angka yang tidak bisa menutupi mual di perut. Cukup — tip Om yang tidak ditelan utuh, dan nama yang menunggu bukti sebelum jadi perang.
Om mencoba fishing kedua lewat WA: `Cepat. Bara bisa hilang.` Gilang tidak balas cepat; draft ke Reza; Reza: `Jangan balas dengan perang. Simpan. Banding sumber Kinara.` Gilang laporkan ke Kinara tanpa menunjukkan chat Om penuh — ringkas. Kinara: 'Om desak = agenda. Saya desak bukti. Sama nama ≠ sama niat. Terima kasih filter.' Gilang: 'Filter. Simpan nama. Tidak saksi manis. Tidak portal. Kalau benar… dan Bara… saya harus pilih nama ayah atau kebenaran. Sticky baru: jangan pilih dusta nyaman.'
Kinara di catatan: cliff dua sumber; Om; Dika takut; BW; rem; payung bukan tebus; sabot dicatat; kamar; badan bukan bayar. Tidur. Gilang di sofa ruang kerja dengan map ayah — bukan untuk kabur, untuk tidak lupa mual. Pagi angka. Trace. Zona. Nama disimpan seperti pisau yang belum diizinkan keluar sarung. Cukup untuk tip yang tidak ditelan utuh, dan arc jejak yang siap retakkan dendam lebih dalam di batch berikutnya.
Ibu tidak dikabari tip Om. Kinara setuju filter. Om marah diam-diam; Reza kunci kanal. Bara masih di kota menurut trace. Gilang tidak kirim bunga ke makam sebagai laporan. Hanya angka dan nama tersimpan. Kinara: tinggal; tidak berdosa; audit; marah sabot sisa; payung benda; kamar; jarak.
Batch menutup di dapur air: 'Nama disimpan.' 'Disimpan.' 'Pedang?' 'Tidak.' 'Om?' 'Tidak penuh.' 'Kalau benar?' 'Masih.' Cukup. Pintu. Tidur. Besok perang lebih dalam — belum malam ini.
Selasa Om muncul di koridor board; Gilang potong sebelum kata Bara keluar di publik. 'Bukan topik. Angka.' Om mata tajam; Reza catat. Kinara dapat ringkas: 'Om fishing publik — dipotong. Nama tetap simpan. Tidak saksi manis.' Kinara: 'Bagus potong. Saya tidak ke kantor Bapak sebagai display bersih.' Malam mereka tinjau rem bersama singkat: cage tidak, sabot tidak, sita tidak, preman tidak, portal tidak, Om tidak penuh, maaf tidak murah, payung bukan tebus, badan bukan bayar, kamar terpisah, tinggal sadar, tidak berdosa, Bara disimpan. Gilang: 'Kalau benar… masih.' Kinara: 'Masih. Tidur.' Cliff batch: dua sumber, satu nama, pedang belum, dendam retak lebih dalam menunggu bab berikutnya tanpa dihunus malam ini.
Kertas dua sumber di laci Kinara. Gilang punya salinan tip Om yang tidak dibalas. Simpan. Tidur. Batch siap lanjut tanpa hunus.