Kinara bertemu mantan rekan firma di parkir basement mall yang ramai — bukan kafe terbuka, permintaan orang itu. Mira pantau dari jauh lewat chat, bukan hadir. Gilang dapat residual: `Ketemu sumber. Satu jam. Tidak media. Pantau jauh.` Balasan: `Jauh. Tidak preman.` Rem digigit.
Orang itu — sebut saja Dika — merokok pendek, mata ke CCTV, suara hampir bisik. 'Saya tidak mau nama saya di berita. Saya juga tidak mau mati karier dua kali. Tapi kamu dihancurkan kasar. Saya… pernah lihat siapa yang dorong “keputusan dari atas” saat HR panik.'
Kinara tidak merekam tanpa izin. Notes siap. 'Siapa.'
Dika menghisap, buang. 'Bara Wijaya. Dulu dekat proyek afiliasi. Suka tangan bersih. Junior mudah dikorbankan — kamu pas. Mahesa besar, ayahmu… ayahnya Gilang… ikut main angka, tapi yang menunjuk kamu sering Bara. Saya tidak punya email. Saya punya takut. Cukup?'
Kinara menelan. Nama itu jatuh seperti stempel. Kolom kosong di tabel akhirnya terisi. 'Cukup untuk jejak. Terima kasih. Saya tidak sebar namamu. Saya tidak kirim suami ke pintumu.'
Dika mengangguk, pergi dulu. Kinara duduk di mobil sewaan lima menit, menulis: *Bara Wijaya. Tangan bersih. Junior dikorbankan.* Chat Mira: `Nama ada. Bara Wijaya. Jangan ke Gilang dulu.` Mira: `Setuju. Suami mode algojo. Makan.` Kinara makan roti hambar di basement.
Pulang, Gilang di foyer seperti orang yang mencium perubahan. 'Ada nama.'
'Ada arah lebih tajam,' kata Kinara jujur setengah. 'Belum untuk Bapak. Rem preman. Kalau saya kasih sekarang, Bapak hampir keluar dengan legal sebagai pedang — atau lebih buruk. Saya gali bukti dulu. Hafal?'
Gilang rahang. 'Hafal hampir. Tangan gatal. Digigit. Reza boleh tahu?' Kinara: 'Reza — opsi. Bukan Om. Bukan Ibu. Bukan portal.' Gilang: 'Reza. Malam. Kamu hadir atau tidak?' Kinara: 'Hadir. Saya yang bilang nama. Bapak yang dengar tanpa bergerak dari kursi.'
Malam di ruang kerja: Kinara, Gilang, Reza. Kinara bilang pelan, jelas: 'Bara Wijaya. Sumber takut. Belum email. Jejak pertama.' Gilang berdiri — Reza tekan bahu. 'Duduk. Audit. Jangan preman.' Gilang duduk, tinju lutut, napas. 'Bara… saya kenal nama itu di acara lama. Bersih di permukaan. Sticky: *Bara. jangan serang malam ini. bukti. Kinara gali. Reza trace lembut.*'
Kinara: 'Saya tinggal. Tidak berdosa. Nama ini bukan kemenangan. Ini kerja. Kamar. Jarak. Badan bukan bayar — masih.' Gilang: 'Masih. Fokus. Terima kasih tidak kasih umpan mentah ke Om.' Pintu. Catatan Kinara panjang. Cliff: nama hidup; pedang belum dihunus. Cukup untuk basement yang bisik, dan suami yang digigit supaya tidak jadi badai di malam pertama nama.
Siang berikutnya Kinara tidak menelepon Bara. Dia susun pertanyaan, cari kliping, cocokkan wajah kabur perpustakaan. Reza mulai trace tanpa surat perang. Gilang kerja angka dengan tangan yang masih gatal — dilaporkan ke Kinara sore: 'Hampir menelepon Bara. Ditahan. Laporkan.' Kinara: 'Bagus. Gigit lagi besok kalau perlu.' Rem hidup. Nama Bara Wijaya sudah di meja — belum di medan perang terbuka.
Kinara tidak tidur nyenyak. Di kamar tamu dia menyusun folder kosong bertuliskan inisial BW — bukan nama penuh di kulit luar, jaga-jaga pembantu. Mira kirim artikel lama soal afiliasi; Kinara cocokkan tanggal dengan bangkrut Mahesa. Ada tumpang tindih. Belum cukup pengadilan; cukup untuk tidak merasa gila.
Gilang di ruang kerja menahan diri dari search berita Bara dengan akun perusahaan. Reza: 'Pakai jalur saya. Lo search = jejak.' Gilang patuh seinci. Sore mereka kopi terpisah. Kinara: 'Saya tidak telepon Bara. Saya tidak kirim surat perang. Saya kumpulkan. Bapak gigit — dicatat dua kali hampir.' Gilang: 'Gigit. Nama di kepala bergetar. Ayah di catatan kaki bergetar. Kalau keduanya…' Dia tidak selesai. Kinara: 'Selesaikan di uji, bukan di mulut Om. Tinggal. Tidak berdosa. Kamar. Jarak.' Gilang: 'Jarak. Badan bukan bayar. Trace.'
Rabu Dika mengirim satu chat kosong lalu blokir — takut. Kinara tidak memaksa. Jejak pertama sudah cukup mahal. Catatan ditutup: *Bara Wijaya. Bisik. Takut. Rem preman. Reza lembut. Gilang gatal — digigit.* Cukup untuk nama yang akhirnya punya huruf, dan perang yang belum boleh membuka portal.
Di tabel Kinara menambah baris: sumber Dika | takut | tidak email | BW. Reza menambah baris paralel tanpa menyalin takut Dika ke file Om. Gilang membaca baris Reza saja. Gigit. Kerja. Rumah diam dengan dua kunci dan satu nama yang bergetar.
Kamis singkat tanpa portal: Kinara cocokkan foto kabur; Gilang tolak golf Om; Reza trace alamat kantor Bara kini. Tidak datangi. Malam residual: `Tidak preman.` Kinara: `Baik. Makan. Tidur.` Nama hidup; pedang tidur.
Jumat Kinara ke toko fotokopi sendiri, gandakan kliping, simpan di box bank tambahan amplop BW. Gilang tidak ikut. Reza dapat koordinat box tanpa isi. Malam Gilang laporkan hampir search Bara dari HP pribadi — ditahan, HP ditaruh jauh. Kinara: 'Gigit bagus. Nama itu bukan tombol perang.' Mereka air di dapur. Tidak mi tebus. Tidak payung di tangan. Hanya rem dan tabel. Subuh Dika tidak muncul lagi di dunia chat; jejak pertama tetap sah tanpa saksi yang nyaman. Gilang ke kantor dengan nama di kepala dan pedang di laci yang terkunci. Kinara ke perpus lagi. Satu atap malam nanti. Dua jalur. Bara Wijaya — huruf yang sudah tidak bisa diunsee, belum bisa dituntut.
Kinara menaruh amplop BW di box; kunci di tas. Gilang tidak minta cadangan. Reza mematikan alert Om semalaman. Nama hidup; pedang tidak.