Kinara mengetuk pintu ruang kerja Gilang pagi berikutnya dengan map di tangan — bukan untuk menyerahkan, untuk menetapkan aturan. Gilang di belakang kaca, Reza di kursi tamu dengan tablet, sudah ada sebelum dipanggil seolah pencium bau krisis rumah.
'Saya mau salinan dokumen bukti disimpan aman,' kata Kinara tanpa duduk. 'Bukan di brankas Bapak. Bukan di server yang Bapak kunci. Saya usul: satu set di safety box atas nama saya, satu set fotokopi di sini yang Bapak boleh baca kapan saja tanpa menyita asli. Kalau Bapak sita — saya anggap Bapak takut kebenaran, bukan mencari kebenaran.'
Gilang menatap map seperti benda menyala. 'Aku berhak mengamankan bukti di rumahku.'
'Rumah Bapak. Badan saya. Nama saya yang diracuni,' potong Kinara. 'Sita = perang baru. Pantau = uji. Pilih.'
Reza batuk kecil. 'Lo sita = lo takut benar. Maaf masuk rumah tangga. Saya bilang karena lo bayar saya untuk rem, bukan untuk jadi algojo kertas.' Gilang melirik tajam; Reza tidak undur. 'Legal bisa saksi simpan. Bukan lo yang pegang kunci sendirian.'
Gilang jari di tepi meja, gemetar seinci, lalu dikunci. 'Baik. Pantau, bukan sita. Safety box atas nama Kinara. Fotokopi di laci saya — baca, tidak hilangkan. Reza atur legal tepercaya yang tidak Om. Melanggar — dia yang laporkan ke saya, bukan ke portal. Kinara: jangan tipu salinan. Kalau palsu — aku hancurkan sisa hidupmu dengan cara yang legal dan lebih dingin dari pernikahan ini.'
'Saya tidak palsukan. Ayah Bapak yang meninggalkan jejak di kertas,' kata Kinara datar. 'Saya sedih dia meninggal. Saya tidak cuci namanya dengan dusta. Saya cuci nama saya dengan fakta. Hafal bedanya?'
'Hafal di mulutmu. Belum di kepala saya,' kata Gilang. 'Reza, kerjakan. Keluar dulu — saya bicara sendiri.'
Reza keluar, sempat bisik ke Kinara di ambang: 'Jangan rayakan. Dia hampir sita. Hampir itu berbahaya. Tahan omelanmu tetap tajam — jangan manis.' Kinara angguk.
Sendiri, Gilang berdiri dekat jendela. 'Aku hampir mengambil map itu dari tanganmu barusan. Aku tahan. Laporkan ke dirimu: aku belum baik. Aku hanya belum lebih busuk hari ini.'
'Saya catat hampir,' kata Kinara. 'Terima kasih tahan. Itu bukan maaf. Itu rem. Saya pergi ke bank dengan legal — Bapak tidak ikut sebagai pengawal. Pantau dari jauh kalau perlu. Cage tidak.'
'Baik. Tidak ikut. Pantau jauh.' Gilang membuka laci, kosongkan ruang untuk fotokopi nanti. Tangan berhati-hati seperti orang yang takut kotor — atau takut benar. 'Jangan bilang terima kasih sebagai cinta. Ini prosedur.'
'Tidak cinta di meja ini,' kata Kinara. 'Prosedur. Tinggal. Bukti. Titik.'
Siang di bank dengan pengacara singkat yang Reza pilih — wajah netral, tidak dramatis. Safety box. Map masuk. Kinara napas pertama yang agak longgar sejak surat pergi. Chat ke nomor baru yang belum ia pakai untuk Mira: belum. Dulu daftar jejak di notes HP: *keputusan dari atas — siapa?*
Sore fotokopi sampai ke laci Gilang. Dia tidak baca penuh. Membuka satu lembar, menutup, seperti orang yang takut api. Reza: 'Lo baca atau lo pura-pura buta?' Gilang: 'Belum. Fokus angka dulu. Kalau ayahku di situ…' Dia tidak selesai. Reza: 'Kalau ayah lo di situ, lo tetap harus baca. Dendam buta = Bara versi anak — nanti. Sekarang: jangan sita.'
Malam Kinara di koridor: 'Box aman. Fotokopi di laci Bapak. Saya tinggal. Rem cage — ulang.' Gilang: 'Tidak cage. Pantau. Jangan panggil suami.' Kinara: 'Tidak panggil. Nama Gilang cukup untuk perang ini.' Pintu. Jarak. Cukup — kertas yang tidak disita, dan rem yang baru saja digigit supaya tidak jadi algojo di rumah sendiri.
Di perjalanan ke bank Kinara menolak mobil dinas. Ojek/taksi biasa + legal di samping. Gilang dapat laporan lokasi dari Reza, bukan dari tracker HP — dia menolak tracker setelah omelan cage. 'Lo belajar,' kata Reza di telepon. 'Pelan. Jangan pesta.' Gilang: 'Tidak pesta. Fotokopi sampai — kabari.'
Setelah box tertutup, Kinara duduk di toilet bank sebentar, napas, tidak menangis teater. Chat Mira belum; chat ke diri di notes: *asli aman. fotokopi ke laci suami = uji.* Pulang ke mansion, ia melewati ruang kerja; pintu terbuka seinci; Gilang tidak di dalam; laci masih kosong menunggu. Kinara tidak menyelundup tambahan. Prosedur.
Sore Reza antar fotokopi. Gilang tanda terima internal singkat. 'Kalau ini palsu, lo yang tanggung,' kata Gilang ke udara. Reza: 'Kalau ini asli dan lo buta, lo yang busuk. Baca.' Gilang buka, tutup, buka lagi halaman tengah — angka, bukan nama — tutup. 'Besok.' Reza: 'Besok jangan jadi tidak pernah.'
Malam Kinara di ambang ruang kerja dengan dua cangkir air. 'Bukan teh tebus. Air. Prosedur hari ini selesai dari sisi saya.' Gilang ambil satu, tidak bilang terima kasih sebagai suami. 'Pantau jauh. Box. Laci. Jangan media. Melanggar — perang.' Kinara: 'Hafal. Rem cage — ulang. Mobil ke muka saya — jangan.' Gilang: 'Sudah ditegur. Sticky hidup.' Mereka minum berdiri. Jarak satu meter. Cukup — salinan yang tidak disita, dan CEO yang digigit rem sebelum jadi algojo kertas.
Legal mengirim ringkas: box aktif; kunci ganda; protokol akses. Kinara simpan resi. Gilang paraf fotokopi diterima. Prosedur menang dari impuls satu malam lagi.