Gilang Mahesa tidak pernah melupakan hari itu. Hari ketika ia menemukan bahwa ayahnya bangkrut dan bunuh diri karena perusahaan mereka dihancurkan oleh seorang akuntan bernama Kinara.
Gilang sedang bekerja di kantornya di lantai tiga puluh gedung Mahesa Group ketika teleponnya berdering. Ia tidak mengangkatnya pada awalnya karena ia sedang sibuk dengan laporan keuangan yang harus ia selesaikan sebelum pagi. Tapi telepon itu terus berdering, terus berdering, terus berdering, sampai Gilang akhirnya mengangkatnya dengan kesal.
'Ada apa?' tanya Gilang dengan suara yang kesal, dengan tatapan yang masih terpaku pada layar komputernya.
Suara di ujung telepon itu adalah suara yang tidak pernah Gilang inginkan untuk mendengar. Suara itu adalah suara dari rumah sakit, suara yang mengatakan bahwa ayahnya, Pak Mahesa, meninggal karena serangan jantung setelah mengetahui bahwa perusahaan mereka bangkrut karena laporan keuangan yang dimanipulasi oleh seorang akuntan bernama Kinara.
Gilang tidak bisa bernapas untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap layar komputernya tanpa benar-benar melihatnya, dengan telepon masih di tangannya, dengan kata-kata itu masih menggema di kepalanya: ayahnya meninggal. Ayahnya meninggal karena serangan jantung. Ayahnya meninggal karena mengetahui bahwa perusahaan mereka bangkrut karena laporan keuangan yang dimanipulasi oleh seorang akuntan bernama Kinara.
Gilang tidak ingat bagaimana ia sampai ke rumah sakit. Ia tidak ingat bagaimana ia melihat tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa di kamar jenazah. Ia tidak ingat bagaimana ia menangis di samping tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa, dengan tangan yang gemetar, dengan hati yang hancur.
Yang Gilang ingat adalah bahwa seorang akuntan bernama Kinara yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan mereka. Yang Gilang ingat adalah bahwa Kinara memanipulasi laporan keuangan, bahwa Kinara membuat perusahaan mereka bangkrut, bahwa Kinara membuat ayahnya meninggal karena serangan jantung.
Yang Gilang ingat adalah bahwa Kinara yang membunuh ayahnya.
Gilang tidak tidur selama tiga hari setelah pemakaman ayahnya. Ia tidak makan, tidak minum, tidak berbicara dengan siapa pun. Ia hanya duduk di kamar kerjanya di mansion besar itu, dengan foto ayahnya di tangannya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur.
Ia tidak bisa menerima bahwa ayahnya sudah tidak ada. Ia tidak bisa menerima bahwa ayahnya sudah tidak akan pernah kembali. Ia tidak bisa menerima bahwa ayahnya sudah tidak akan pernah bisa melihat kehidupan yang sudah ia bangun dengan susah payah untuknya.
Dan ia tidak bisa menerima bahwa seorang akuntan bernama Kinara yang mengambil semua itu dari ayahnya.
Gilang bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan balas dendam pada Kinara. Ia akan membuat Kinara menderita seperti ayahnya menderita. Ia akan membuat Kinara hancur seperti ayahnya hancur. Ia akan membuat Kinara membayar untuk apa yang sudah ia lakukan pada ayahnya.
Gilang tidak tahu bahwa Kinara tidak bersalah. Gilang tidak tahu bahwa Kinara tidak memanipulasi laporan keuangan. Gilang tidak tahu bahwa Kinara hanya menjadi kambing hitam untuk kebangkrutan yang sebenarnya bukan kesalahannya.
Gilang hanya tahu bahwa Kinara yang membunuh ayahnya. Dan ia akan balas dendam.
Gilang berdiri dari kursinya di kamar kerja itu dan berjalan ke jendela besar yang menghadap kota. Ia menatap keluar ke kota yang berkilau di malam hari, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar, dengan keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat.
Ia akan balas dendam pada Kinara. Dan ia tidak akan berhenti sampai Kinara hancur seperti ayahnya hancur.