===== BAB 11: Nama Lahir Sang Pewaris =====
Namamu ada di log akses yang dihapus, Reza. Kau berada di server ayahku malam itu.
Reza tidak mundur dari tatapan Nadya. Di sekeliling mereka, anggota dewan berbicara bersamaan, sedangkan Dimas menuntut petugas regulator menghentikan rekaman. Rani mengetukkan tongkat dan memerintahkan pintu ruang rapat dikunci dari luar agar tak ada bukti dibawa pergi diam-diam.
'Ada sesuatu yang belum kukatakan,' ujar Reza.
Nadya menggenggam lembar karbon lebih erat. 'Klausul kejujuran sudah memberimu banyak kesempatan.'
Reza meminta Kresna mengambil salinan akta kelahirannya dari berkas perwalian. Dokumen itu mencatat nama lengkap Arya Reza Dirgantara. Sejak kembali dari Singapura setelah YX-217, keluarga menghapus nama depan Arya dari sekolah, paspor baru, dan catatan perusahaan.
Inisial A.D. bukan kesalahan pada gelang. Gelang itu memang miliknya.
Dimas menyebut perubahan nama keputusan keluarga untuk menyederhanakan identitas bisnis. Rani mengaku menandatangani permohonan ketika Reza masih dirawat. Alasannya saat itu adalah melindungi cucunya dari skandal masa muda. Ia tak diberi tahu gelang berasal dari penyintas.
Nadya meminta seluruh riwayat perubahan nama disita sebagai bukti. Reza menyetujui dan menyerahkan telepon serta kartu akses tanpa diminta. Ia juga meminta statusnya di perusahaan dibekukan sampai penyelidik menentukan apakah dirinya saksi, korban, atau pelaku.
Vera menatap ayahnya. 'Kau tahu nama itu ada pada daftar?'
Dimas tidak menjawab. Ia justru mengatakan mosi pemberhentian CEO harus dilanjutkan karena Reza menyembunyikan identitas. Nadya mengingatkan pemungutan suara saat bukti sedang diperebutkan akan memberi Dimas keuntungan langsung.
Petugas regulator, Arman Jaya, memerintahkan pita, gelang, lembar karbon, dan perangkat pemutar disegel. Satu salinan audio dibuat di hadapan pembela semua pihak. Hash dibacakan dan ditulis pada tiga berita acara.
Ayu menemukan bagian rekaman yang belum diputar. Suara pemuda menyebut membawa daftar faktur kepada Seno. Dimas memerintahkan radio darat memisahkan anak itu dari manifest, lalu suara lain memperingatkan sistem YX-217 belum layak diluncurkan.
Reza menutup mata saat mendengar dirinya berusia sembilan belas tahun. Fragmen muncul: map hitam, bau bahan bakar, dan tangan Seno mendorongnya ke kursi. Laras Hendrawan, dokter trauma yang dipanggil regulator, menghentikan pertanyaan. Ingatan yang muncul setelah rekaman tidak boleh langsung dianggap kesaksian.
Nadya setuju. Ia ingin bukti yang dapat diuji, bukan memori yang cocok dengan kebutuhan mereka.
Ilham memutus sambungan video, tetapi polisi telah menjaga klinik. Vera mencoba keluar dan dicegah pengacaranya sendiri. Dimas meminta bicara pribadi dengan Reza; permintaan ditolak sampai pemeriksaan awal selesai.
Rani menunda seluruh pemungutan suara dua puluh empat jam berdasarkan hak darurat perwalian. Selama itu, tidak ada aset, jabatan, atau server boleh dipindahkan. Ia menunjuk Maya dan seorang kustodian luar sebagai pemegang akses sementara.
Di ruang pemeriksaan terpisah, Reza menandatangani persetujuan membuka rekam medis lama. Nadya menyaksikan hanya sebagai pengawas risiko, bukan istri yang memegang kuasa medis. Kresna memastikan persetujuan dapat dibatasi pada periode terkait.
Catatan pertama yang ditemukan bukan dari Singapura. Sebuah klinik dekat kompleks mencatat pasien laki-laki sembilan belas tahun dengan kode A-19, luka kepala, bahu bergeser, dan kehilangan orientasi. Tanggalnya malam YX-217.
Kolom keluarga penjemput memuat tanda tangan Surya Dirgantara, ayah Reza. Kolom dokter hanya berisi stempel hitam tanpa nama.
Kresna meminta semua dokumen perubahan identitas disita melalui perintah pengadilan, bukan diserahkan secara informal oleh keluarga. Catatan sipil menunjukkan akta Arya Reza dinyatakan salah ketik, lalu nama tengahnya dijadikan nama depan. Petugas yang memproses perubahan menerima promosi di anak perusahaan Nusantara sebulan kemudian.
Rani mengakui dirinya menandatangani permohonan ketika Reza belum pulih. Ia mengatakan Surya meyakinkannya bahwa nama baru melindungi penyintas dari penculik. Nadya mencatat bahwa perlindungan seharusnya memiliki batas waktu, pengawasan, dan jalan untuk mengembalikan identitas; semua itu tidak ada.
Ahli trauma menjelaskan bahwa kesulitan Reza mengingat tidak membuktikan ia tak pernah mengetahui pergantian nama. Karena itu pemeriksaan memisahkan kapasitas medis, tanda tangan wali, dan manfaat ekonomi yang diterima keluarga. Setiap bagian membutuhkan bukti sendiri.
Reza memberi izin terbatas untuk membuka arsip sekolah serta rumah sakit. Ia menolak publikasi diagnosis yang tak berkaitan dengan perkara. Regulator menyetujui penyaringan oleh hakim sehingga transparansi tidak berubah menjadi tontonan atas kondisi kesehatannya.
Ayu menemukan kedua identitas pernah aktif bersamaan selama enam hari. A.D. mengakses server lama, sementara R.D. tercatat terbang ke Singapura. Ketidakmungkinan itu menunjukkan seseorang membangun alibi digital sebelum nama lahir dihapus.
Jejak akses A.D. berasal dari terminal pemulihan Bagas. Namun satu sesi lebih awal memakai pola ketik Reza dan membuka folder faktur. Temuan itu mendukung keberadaannya di server tanpa menyamakan semua aktivitas berikutnya sebagai perbuatannya.
Nadya meminta tim membuat garis waktu dengan warna berbeda: fakta fisik, catatan administratif, kesaksian, serta ingatan. Pada dinding, warna-warna itu tidak selalu bertemu. Ruang kosong dibiarkan kosong, bukan diisi dugaan yang terasa nyaman.
Maya menyerahkan salinan kontrak pernikahan kepada penyelidik konflik. Klausulnya tidak memberi Nadya hak atas saham atau arsip keluarga. Pernikahan mereka tetap dapat memengaruhi persepsi, sehingga Nadya setuju tidak ikut menentukan kustodi bukti.
Menjelang pemeriksaan berakhir, Reza menulis nama lengkapnya sendiri untuk sampel. Tangannya gemetar pada kata Arya. Ia tidak meminta Nadya menerima penjelasan malam itu. Ia hanya menandatangani pelepasan dokumen dan duduk menunggu keputusan yang tak dapat ia beli.
Nadya memandang Reza. Nama lahir menjelaskan inisial, tetapi membuka kebohongan yang lebih besar.
Arya Reza Dirgantara pernah dicatat sebagai pasien tanpa nama.