===== BAB 1: Wasiat yang Terbakar =====
Alarm merah memenuhi layar Nadya Prameswari ketika server YX-408 masih berada tujuh ribu kaki di atas Teluk Senorta. Di ruang kendali keselamatan Nusantara Holdings, puluhan kotak data berkedip, tetapi satu baris membuat darahnya membeku: pelepasan komponen kendali peluncuran disahkan atas namanya pukul dua lewat tiga belas dini hari.
Nadya tidak berada di hanggar pada jam itu. Ia tidur di apartemen, dengan ponsel yang berkali-kali menerima pesan dari tunangannya, Ilham Wisesa, tentang tempat resepsi mereka.
'YX-408 meminta prioritas pendaratan,' kata Ayu Lestari, insinyur data junior di sebelahnya. 'Indikator kendali cadangan tidak stabil. Seratus delapan puluh enam orang di dalamnya.'
'Tarik semua catatan penggantian sensor. Jangan ubah data mentah.' Nadya memaksa suaranya tetap datar. 'Siapa yang memberi izin pelepasan server?'
Ayu menelan ludah. 'Sistem mencatat kamu.'
Pintu ruang kendali terbuka. Ilham masuk bersama dua petugas keamanan. Kemeja putihnya kusut, tetapi lencana manajer perencanaan perawatan masih tergantung sempurna. Enam belas bulan pertunangan membuat Nadya mengenali caranya menghindari tatapan saat berbohong.
'Liv, serahkan kartu aksesmu,' katanya.
'Aku tidak menandatangani pelepasan itu.'
'Ini prosedur.'
'Prosedur juga mewajibkan jejak autentikasi ganda. Kau yang menyetujui jadwal perawatan semalam.'
Rahang Ilham mengeras. 'Jangan membuat keadaan lebih buruk.'
Suara operator terdengar dari pengeras komunikasi, tenang tetapi terpotong gangguan. Pesawat berbelok untuk pendekatan terakhir. Nadya menggenggam tepi meja. Tujuh belas tahun lalu, ayahnya, Kapten Seno Prameswari, menjadi nama yang paling dibenci di negeri ini setelah YX-217 keluar lantai dalam hujan. Sebelas orang meninggal, termasuk Seno. Maskapai menyalahkan keputusan operator dan menutup penyelidikan sebelum Nadya cukup dewasa untuk melawan.
Kini namanya muncul pada dokumen keselamatan lain.
'Pesawat mendarat,' seru Ayu beberapa menit kemudian. Napas lega pecah di ruangan. 'Tidak ada korban. Tim darat menuju lokasi.'
Nadya belum sempat bersyukur ketika petugas keamanan mengambil kartunya. Ilham berdiri begitu dekat hingga aroma kopi dan parfum yang dulu menenangkan justru membuatnya mual.
'Pulanglah sementara,' bisiknya. 'Aku akan mengurus ini.'
'Seperti kau mengurus nama ayahku?'
Ilham mundur seolah ditampar. Sebelum ia menjawab, seluruh layar ruang kendali berubah hitam. Lambang Nusantara Holdings muncul, disusul tulisan pembekuan akses. Seseorang sudah mengunci Nadya dari sistem.
Ia dibawa ke ruang rapat lantai dua puluh delapan. Di ujung meja menunggu Reza Dirgantara, CEO yang lebih sering terlihat di sampul majalah bisnis daripada di ruang teknis. Jas arangnya rapi, rambut hitamnya belum tersentuh kekacauan pagi. Hanya lingkar gelap di bawah matanya yang menunjukkan ia telah mengikuti krisis sejak awal.
Di sampingnya duduk Vera Dirgantara, direktur komersial sekaligus sepupunya, dan Dimas Dirgantara, komisaris yang menguasai setengah percakapan hanya dengan diam.
'Duduk, Bu Nadya,' kata Reza.
'Saya lebih suka berdiri.'
Dimas melempar salinan dokumen ke meja. 'Kunci digitalmu, kata sandimu, persetujuanmu. Regulator tiba dua jam lagi. Beri satu alasan agar kami tidak menyerahkanmu.'
'Karena tanda tangan itu palsu.'
Vera tersenyum tipis. 'Semua tersangka berkata begitu.'
Nadya menoleh kepadanya. Ada bekas warna lipstik Vera di kerah bagian dalam kemeja Ilham yang tadi terbuka sedikit. Warna merah anggur yang sama dengan bibir perempuan itu. Penemuan kecil tersebut terasa lebih tajam daripada tuduhan di meja.
Reza menggeser sebuah tablet. Rekaman lorong hanggar menunjukkan sosok berjaket Nadya menempelkan kartu akses ke pemindai. Wajahnya tertutup tudung.
'Itu bukan saya.'
'Saya tahu,' ujar Reza.
Ruangan mendadak sunyi.
Dimas menatap keponakannya. 'Jangan membuat kesimpulan sebelum forensik.'
'Tinggi orang itu berbeda empat sentimeter dan memakai tangan kiri.' Reza mematikan rekaman. 'Bu Nadya dominan kanan.'
Harapan kecil muncul, lalu padam saat ia melanjutkan.
'Namun bukti itu belum cukup membebaskanmu. Dewan perlu nama untuk menenangkan publik.'
'Jadi saya tetap korban yang nyaman.'
'Untuk sementara.'
Nadya mendengar langkah Ilham di luar. Pintu kaca memantulkan Vera yang cepat-cepat menyentuh ponselnya, dan pesan masuk pada layar Ilham menyala dengan nama hanya satu huruf: S.
Pertemuan ditunda ketika penyelidik regulator datang. Nadya diizinkan pulang dengan larangan menyentuh sistem perusahaan. Di lift, Ilham meraih lengannya.
'Percayalah padaku. Jangan bicara kepada pers atau polisi sebelum tim hukum menyiapkan pernyataan.'
'Mengapa Vera mengirimimu pesan dengan gambar hati?'
Wajahnya kehilangan warna. Pintu lift terbuka. Nadya melepaskan cincin tunangan, tetapi Ilham menahan tangannya.
'Bukan di sini.'
'Benar. Pengkhianatanmu memang lebih pantas dibicarakan di tempat yang tidak punya kamera.'
Ia pergi melalui lobi yang dipenuhi wartawan. Kilatan kamera menyambar saat seseorang meneriakkan namanya. Mobil hitam Reza berhenti tepat di depan pintu. Sang CEO turun, membuka pintu belakang, lalu berdiri sebagai dinding di antara Nadya dan kerumunan.
'Masuk jika kau ingin tetap bebas malam ini.'
Di dalam mobil, Reza menyerahkan map bersegel. Halaman pertama adalah salinan laporan YX-217. Pada sudutnya terdapat catatan tangan yang belum pernah dilihat Nadya: MANIFEST DIREVISI SETELAH KECELAKAAN.
'Dari mana Anda mendapatkannya?'
'Arsip keluarga.'
'Mengapa menunjukkannya sekarang?'
Reza menatap lurus, tanpa kemenangan di wajahnya. 'Karena orang yang menjebakmu memakai pola yang sama dengan orang yang mengubur kesalahan tujuh belas tahun lalu. Dan karena Senin pagi, paman saya akan mengambil kendali perusahaan jika saya tidak memenuhi syarat perwalian keluarga.'
'Apa hubungannya dengan saya?'
Mobil berhenti di bawah jalan layang yang basah oleh hujan. Reza membalik halaman terakhir. Di sana ada ketentuan yang menyebut pasangan sah CEO sebagai penandatangan pengawasan risiko independen.
Nadya membaca cap notaris dan tanggal pembaruan perwalian. Dokumen itu bukan rancangan terburu-buru; keluarga Reza telah hidup di bawah syarat tersebut selama bertahun-tahun. Artinya tawaran gila itu memiliki dasar yang sungguh dapat mengubah kendali perusahaan.
Ia menghitung empat hari yang baru saja mengubah hidupnya.
'Saya menawarkan perlindungan hukum, akses penuh ke arsip YX-217, dan kesempatan membersihkan nama ayahmu.'
Nadya menatapnya, menyadari harga itu bahkan sebelum ia mengucapkannya.
'Menikahlah denganku sebelum rapat Senin, dan aku akan membuka arsip peluncuran ayahmu.'