“Praja,” lirih Stevani sambil berusaha berlindung di belakang pria itu, menghindari tatapan tajam Nyonya Ayu. Telapak tangannya berkeringat dingin, jantungnya berdetak begitu kencang sampai terasa menyakitkan.
Ini pertemuan pertama mereka sejak dia tidak lagi menjadi bagian dari keluarga Dirgantara. Sesuai dugaan, dua orang yang dulu menyayanginya sebagai menantu, kini memandangnya seolah dia sesuatu yang najis. Bibir mereka mungkin tak mengucap sepatah kata, tapi mata mereka bicara lebih lantang. Dan Stevani memahaminya dengan jelas.
“Maaf aku tidak menurutimu,” ucapnya sambil menunduk. “Kupikir kalau aku bersembunyi, mereka tidak akan tahu aku ada di sini. Aku tidak mengira mami akan curiga dan berakhir menemukanku.”
“Aku yang salah karena memintamu pulang saat tahu mami dan papi seda