“Jika aku harus menjalani sepuluh ribu kehidupan … aku akan selalu memilihmu.”
Kavindra tertegun. Matanya tak berkedip menatap Aira yang tiba-tiba sudah berdiri di atas mini stage. Tadi wanita itu pamit sebentar—dia pikir hanya ke toilet. Ternyata … justru melakukan ini.
Aira memegang mikrofon yang dipinjam dari vokalis band, tepat setelah satu lagu selesai. Kalimat pembukanya bukan hanya membuat Kavindra terpaku, tapi juga menyita perhatian seluruh pengunjung restoran.
Entah apa yang akan dia lakukan, tapi Kavindra tak bisa berpaling.
“Dalam setiap versi takdir … dalam setiap kemungkinan yang semesta tawarkan … bahkan ketika dunia berkali-kali mencoba memisahkan kita …”
Aira menarik napas dalam. Senyumnya mengembang, matanya hanya tertuju pada satu orang.
Kavindra.
“Di setiap akhir