Pagi setelah Sinta mulai dirawat, Rangga datang membawa tas yang semalam belum sempat dibongkar. Ia ingin segera masuk, tetapi petugas memintanya menunggu karena Sinta sedang beristirahat. Untuk beberapa saat Rangga tetap berdiri, seolah menyebut dirinya kakak akan membuat pintu itu dibukakan lebih cepat.
Dimas menarik kursi di sebelahnya. 'Duduk dulu, Mas. Kita datang bukan untuk menguji siapa yang paling dekat dengan Sinta.'
Rangga meletakkan tas. Di dalamnya ada pakaian, sisir dan sandal rumah. Ia sudah beberapa kali memeriksa isinya di mobil. Mengurus benda-benda itu membuatnya merasa dapat melakukan sesuatu, tetapi tidak menjawab ketakutan yang muncul setiap kali mengingat adiknya menunggu Aldo di halaman kosong.
Mita datang tidak lama kemudian. Ia membawa kantong berisi pakaian yang diminta petugas, sedangkan tas kerjanya tetap berada di bahu. Rangga melihat meteran kain menyembul dari saku depan dan langsung bertanya apakah ia hendak ke butik setelah ini.
'Ada pelanggan yang perlu ditemui. Aku sudah memberi tahu Dimas jam berapa aku bisa mendampingi,' jawab Mita.
'Bukannya bisa ditunda?'
'Kita bicarakan setelah mendengar penjelasan dokter. Sekarang jangan membuat janji atas waktu orang lain dulu.'
Rangga tidak menjawab. Dokter kemudian menemui mereka bersama seorang petugas yang menangani ruang perawatan. Mereka mendengarkan apa yang telah diamati sejak malam sebelumnya, apa yang masih perlu dinilai, dan informasi dari keluarga yang membantu memahami keadaan Sinta. Dimas menyampaikan kejadian secara berurutan, termasuk hilangnya kehamilan seminggu sebelum dirawat.
Ketika Rangga hendak menambahkan bahwa Sinta dahulu pernah berpura-pura pingsan, Mita menoleh kepadanya. 'Sebutkan waktunya dengan benar. Itu bertahun-tahun lalu. Jangan sampai terdengar seperti kejadian kemarin.'
Dokter meminta mereka menjelaskan riwayat tersebut tanpa menganggapnya jawaban bagi semua gejala sekarang. Rangga mengangguk. Ia mengatakan apa yang diketahuinya, kemudian berhenti ketika tidak yakin. Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa cerita keluarga dapat menyesatkan kalau bagian yang paling membuat mereka marah justru menutupi urutan kejadian.
Lina tiba bersama Rusman ketika percakapan hampir selesai. Ia segera menanyakan berapa hari sampai Sinta dapat pulang. Jawaban yang diterimanya tidak berupa tanggal pasti. Keadaan Sinta harus ditinjau, dan keputusan pulang akan dibicarakan ketika perawatannya memungkinkan.
'Kalau saya di sini terus, mungkin dia lebih cepat tenang,' ujar Lina.
'Kehadiran keluarga bisa membantu, Bu. Tetapi kita juga melihat bagaimana Sinta merespons. Tidak semua kunjungan panjang membuat pasien lebih nyaman.'
Lina memegang tasnya lebih erat. Ia terbiasa merasa dibutuhkan ketika dapat menentukan apa yang harus dilakukan anak-anaknya. Menunggu arahan orang lain membuatnya gelisah. Rusman mengingatkan bahwa ia juga perlu menjaga kondisi tubuh, lalu menawarkan mengambil giliran untuk mengurus kebutuhan yang tidak mengharuskan mereka masuk kamar.
Pada waktu kunjungan yang diberikan, Mita dipersilakan menemui Sinta sebentar. Adik iparnya duduk di tepi ranjang, memandang sandal rumah yang baru diserahkan petugas. Ia menatap Mita, lalu bertanya apakah Aldo tahu ia dipindahkan dari rumah sakit sebelumnya.
Mita duduk setelah petugas menunjukkan kursi. 'Aku tahu kamu masih mencarinya, Sin. Sekarang kamu sedang dirawat di sini. Ada petugas yang mendampingi.'
'Aku tidak mau kamar ini. Kamar di rumah ada jendelanya.'
Mita melihat ke arah yang ditunjuk Sinta. Ada jendela di kamar itu, tetapi bukan jendela yang dikenalnya di rumah. Ia tidak berdebat tentang siapa yang melihat dengan benar. Ia bertanya apakah Sinta ingin kursinya digeser sedikit agar tidak tepat di depan pintu. Setelah Sinta mengangguk, petugas membantu mengatur tempat duduk.
Beberapa menit mereka hanya diam. Kemudian Sinta bertanya mengapa Mita membawa tas besar. Mita menjelaskan bahwa ia perlu bekerja sesudah kunjungan. Ia akan datang pada waktu yang telah dibicarakan, sementara anggota keluarga lain tetap dapat dihubungi.
'Kamu pergi karena aku menyusahkan?'
'Aku pergi karena ada pekerjaan yang harus diurus. Itu tidak berarti kamu ditinggalkan. Aku tidak akan mengatakan sanggup berada di sini sepanjang waktu kalau sebenarnya tidak bisa.'
Sinta memandang tas itu, lalu menunduk. Mita tidak menambahkan daftar semua orang yang telah berkorban. Ia hanya menunggu sampai petugas memberi tahu bahwa Sinta perlu kembali beristirahat. Sebelum keluar, ia mengatakan akan berpamitan kepada keluarga di lorong, bukan diam-diam menghilang.
Lina mendapat giliran sesudahnya. Ia masuk dengan tekad untuk tidak menangis, tetapi air matanya turun ketika Sinta menanyakan tempat bayi disimpan. Petugas mendampinginya mengakhiri kunjungan ketika pembicaraan mulai membuat Sinta sangat gelisah. Lina keluar dengan perasaan gagal.
'Aku malah membuat dia menangis,' katanya kepada Rusman.
'Kita tidak diminta selalu berhasil menenangkan. Kita diminta tidak menambah sesuatu yang belum kita pahami,' jawab suaminya.
Di ruang tunggu, Dimas membuka jadwal restoran dan mengatur siapa yang dapat dihubungi selama ia berada di rumah sakit. Rusman mencatat keperluan pakaian, sedangkan Rangga menerima penjelasan mengenai waktu keluarga dapat memberi kabar. Tugas-tugas itu harus dibagi tanpa menjadikan satu orang bertanggung jawab atas seluruh kesedihan mereka.
Rangga lalu menghubungi kantornya. Ada laporan yang semestinya diserahkan siang itu dan belum diselesaikan. Ia meminta izin menyesuaikan waktu, menyampaikan bagian yang telah siap kepada rekan, serta berjanji mengirim sisanya pada jam yang benar-benar dapat dipenuhi. Sesudah menutup telepon, ia mengakui kepada Dimas bahwa ia hampir meminta Mita mengetikkan laporan itu juga. Dimas menggeleng dan menunjuk tas kerja kakak iparnya. Rangga menyimpan catatannya sendiri. Ia tidak dapat membagi tanggung jawab hanya dengan mencari orang yang paling sulit menolak.
Mita berdiri ketika waktunya berangkat. Rangga kembali tampak hendak menahannya, tetapi Dimas lebih dahulu mengatakan bahwa ia akan tinggal sampai urusan siang selesai. Mita menyerahkan kantong kosong kepada suaminya untuk dibawa pulang, lalu meninggalkan lorong.
Di tempat parkir, ia menghubungi Wanda dan memastikan pelanggan masih bersedia menunggu. Pintu perawatan tetap berada di belakangnya. Ia membawa kekhawatiran itu ke dalam mobil, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak membiarkannya menjadi alasan untuk menghapus semua bagian hidup yang juga membutuhkan kehadirannya.