Heningingan menyelimuti ruangan itu seketika, begitu kata-kata Arga selesai terucap. Satria masih memegang erat lencana perak itu di balik selimut, jari-jarinya meremas benda itu seolah itu adalah satu-satunya pegangan nyata yang ia miliki saat ini. Di hadapannya berdiri sosok yang selama ini ia anggap saudara kandung, wajahnya penuh kekhawatiran, matanya tajam dan waspada persis seperti seorang prajurit sejati yang siap melindungi komandannya. Namun, di mata Satria, setiap gerak-gerik Arga kini terasa penuh tanda tanya, penuh keraguan yang menyakitkan.
Tiara berdiri tegak di sisi ranjang, tangannya perlahan meraih lengan Satria, memberikan isyarat diam-diam yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Sebagai dokter, ia mengamati detak jantung, nada bicara, dan ekspresi wajah Arga dengan cermat. Ada sesuatu yang tidak beres. Kekhawatiran itu terlihat berlebihan, dan desakan agar mereka segera pergi terasa lebih seperti perintah daripada permintaan demi keamanan.
"Penyusup? Sejak kapan markas pusat yang dijaga ketat bisa ditembus semudah itu, Arga?" tanya Satria pelan, suaranya terdengar tenang namun penuh penekanan. Ia tidak bergerak sedikit pun dari posisinya, meski rasa sakit di lengannya masih menyayat. Matanya menatap lurus ke manik mata sahabatnya itu, berusaha menembus kedok yang mungkin sedang dipasang rapi.
Arga tidak tergagap sedikit pun. Ia justru melangkah maju selangkah, wajahnya tampak semakin tegang. "Itulah alasannya, Satria! Musuh sudah jauh lebih pintar dan lebih dekat dari yang kita duga. Mereka tahu semua celah keamanan kita, mereka tahu pola patroli kita. Bukankah kau sendiri yang bilang ada kebocoran informasi? Sekarang bahaya sudah ada di depan mata. Jangan buang waktu dengan pertanyaan, ayo kita pergi sebelum terlambat. Aku bertanggung jawab penuh atas keselamatanmu dan Ibu Tiara."
Di sudut ruangan, para prajurit yang dibawa Arga berdiri tegap, senjata sudah tergenggam erat, siap bergerak sesuai perintah. Namun, Tiara menyadari satu hal kecil yang mengerikan: posisi mereka berdiri tidak mengelilingi pintu untuk melindungi, melainkan memblokir seluruh jalan keluar lain selain arah yang ditentukan Arga. Itu bukan formasi pengawalan keamanan, itu adalah formasi pengepungan.
"Maaf, Mayor Arga," suara Tiara terdengar jelas dan tegas, memotong percakapan itu. Ia melangkah maju sedikit, berdiri sejajar dengan sisi ranjang Satria, menjadi perisai hidup bagi suaminya. "Sebagai dokter yang bertanggung jawab atas kondisi kesehatan Letnan Kolonel Satria, saya harus menyatakan bahwa beliau belum boleh dipindahkan. Keadaan beliau masih sangat lemah, tekanan darahnya belum stabil, dan risiko pendarahan ulang sangat tinggi. Jika ada ancaman, lebih baik perkuat keamanan di sini daripada memindahkan pasien kritis ke tempat yang belum tentu kondusif."
Arga menoleh ke arah Tiara, kilatan kesal sekilas melintas di matanya sebelum kembali digantikan ekspresi prihatin. "Ibu Tiara, ini soal nyawa. Bahaya di sini sudah terlalu besar. Lebih baik mengambil risiko medis daripada nyawa melayang di tangan musuh. Saya membawa tim medis lengkap, mereka akan memantau kondisi Satria sepanjang jalan. Tolong, jangan persulit keadaan."
Satria merasakan genggaman tangan Tiara di lengannya semakin erat. Ada pesan yang tersampaikan di sana: Jangan pergi. Ini jebakan.
Pikiran Satria berputar cepat. Jika Arga memang pengkhianat, maka pergi bersamanya sama saja dengan menyerahkan nyawa mereka berdua ke tangan musuh. Mereka akan dibawa ke tempat terpencil, di mana tidak ada saksi, di mana kebenaran akan dikubur selamanya. Namun, jika Arga benar-benar setia dan informasi ancaman itu nyata, menolak pergi berarti menempatkan nyawa Tiara dan dirinya dalam bahaya maut di ruangan ini yang bisa diserang kapan saja.
Di tengah kebimbangan itu, ingatan Satria kembali pada kata-kata istrinya sebelumnya. Kita bergerak seolah semua orang adalah musuh, kecuali kita berdua. Dan ada satu hal lagi yang Arga tidak tahu: Satria belum memberi tahu siapa pun, termasuk Arga, tentang penemuan rahasia besar yang berkaitan dengan lokasi tersembunyi milik keluarganya. Hanya dia dan Tiara yang tahu jalan keluar rahasia yang terhubung ke ruangan ini, sisa rancangan keamanan ayahnya dulu.
"Baiklah," jawab Satria tiba-tiba, membuat Tiara menoleh kaget ke arahnya. Ia melihat senyum tipis kemenangan tersungging di bibir Arga, senyum yang terlalu cepat dan terlalu puas. "Kau benar, Arga. Keamanan adalah yang utama. Kami akan ikut denganmu."
"Mas..." bisik Tiara bergetar, matanya membelalak tak percaya, mengira suaminya lengah atau terpaksa menyerah.
Satria menoleh, menatap istrinya dalam-dalam, lalu mengedipkan sebelah mata sekilas kode diam yang pernah mereka sepakati saat latihan evakuasi sederhana beberapa hari lalu. Percayalah padaku. Ikuti saja.
"Tapi," tambah Satria lagi, suaranya berat dan berwibawa sebagai seorang pemimpin. "Sebelum berangkat, aku butuh menulis pesan singkat untuk komando pusat. Jika ada sesuatu terjadi, setidaknya mereka tahu ke mana arah kami pergi. Tiara, tolong ambilkan alat tulis di tasmu."
Arga tampak ragu sejenak, matanya bergerak gelisah. "Tidak perlu, Satria. Aku yang akan melapor nanti. Lebih baik kita bergegas."
"Ini perintah, Mayor," nada Satria berubah dingin dan kaku, aura komandannya kembali keluar sepenuhnya, membuat Arga terpaku di tempat. "Atau kau mulai mengatur caraku bekerja juga?"
Terperangkap dalam posisi sulit, Arga akhirnya mengangguk pasrah, meski rahangnya mengeras menahan emosi. "Baiklah. Tapi cepatlah."
Sambil pura-pura menulis pesan, Satria diam-diam mengubah posisinya, mendekatkan diri ke sisi dinding sebelah kiri, tempat rak peralatan medis besar berada. Tiara dengan sigap membantu, berdiri menghalangi pandangan para prajurit ke arah tangan kiri Satria yang bergerak menyentuh ukiran khas di dinding tombol pembuka pintu rahasia yang tersembunyi di balik rak itu.
Detik berikutnya, suara langkah kaki cepat terdengar dari koridor luar, disertai suara teriakan dan dentuman senjata yang saling beradu. Arga tersentak kaget, wajahnya memucat. Itu bukan suara pasukannya.
"Ada apa itu?!" seru Satria, berpura-pura kaget.
"Musuh! Mereka sudah masuk!" seru salah satu prajurit di depan pintu.
Arga menatap ke arah luar dengan panik. Rencananya harusnya mulus, cepat, dan tanpa keributan. Siapa yang berani menyerang di saat-saat seperti ini? Apakah pasukan penyusup yang ia sebut-sebut itu benar-benar datang, atau ada pihak lain yang ikut campur?
Kesempatan itu datang seketika. Satria langsung meraih tangan Tiara, menendang rak peralatan itu hingga bergeser, memperlihatkan celah pintu besi sempit yang terbuka.
"Masuk! Sekarang!" perintah Satria lirih namun tegas.
Tiara tidak bertanya lagi. Ia masuk lebih dulu, lalu membantu Satria yang berjalan tertatih karena lukanya. Di belakang mereka, Arga berteriak marah saat menyadari apa yang terjadi.
"Tangkap mereka! Jangan sampai lolos!"
Suara tembakan memecah udara, menghantam dinding tepat di samping kepala Satria saat ia menutup pintu rahasia itu dari dalam. Suara di luar segera teredam, berganti dengan kegelapan total dan udara lembap yang menyergap mereka berdua.
Di dalam lorong sempit dan gelap itu, hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan. Tiara meraba dinding untuk mencari pegangan, sementara Satria bersandar berat di bahu istrinya, menahan rasa sakit yang semakin menjadi akibat gerakan tadi.
"Kau tahu jalan ini ke mana, Mas?" tanya Tiara berbisik, tangannya erat menggenggam tangan suaminya, tidak berani melepaskan walau sedetik pun. Di kegelapan ini, sentuhan itu adalah satu-satunya jaminan bahwa mereka masih bersama.
"Ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa mendengar, tidak ada yang bisa mengintai, dan di mana kita bisa melihat segalanya tanpa terlihat," jawab Satria pelan, napasnya memburu namun nadanya tenang. Ia merasakan keringat dingin menetes di dahinya, bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa lega yang bercampur ketegangan. "Arga... dia benar-benar pengkhianat. Reaksinya, perintahnya, semuanya terbukti sekarang. Dia ingin membawa kita ke tempat yang tidak akan pernah ditemukan orang lain."
Tiara menghela napas panjang, meski rasa takut masih mencekik dadanya. Ia bersyukur nalarmu sebagai dokter dan insting Satria sebagai militer bekerja sama menyelamatkan nyawa mereka. Namun, pertanyaan besar kembali menghantui pikirannya.
"Mas, tapi siapa yang menyerang di luar tadi? Itu bukan pasukan Arga, dan bukan pasukanmu juga. Jika Arga bekerja sama dengan musuh, lalu siapa lagi yang ada di markas itu? Siapa yang justru menyelamatkan kita secara tidak sengaja?"
Satria terdiam. Di dalam kegelapan itu, ia bisa merasakan kebingungan yang sama melanda istrinya. Ada pihak ketiga yang bergerak. Ada sosok lain yang bermain di balik layar, yang mungkin bukan kawan, tapi juga belum tentu lawan. Atau mungkin... justru itulah dalang sesungguhnya yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang Arga dan Kirana.
Mereka terus berjalan meraba-raba di lorong bawah tanah itu, menuju cahaya remang yang mulai terlihat di ujung sana. Namun, saat mereka semakin mendekat, suara samar percakapan terdengar terbawa angin dari arah itu. Suara seseorang yang sedang berbicara melalui alat komunikasi, suara yang sangat mereka kenal suara yang selama ini dianggap korban atau saksi, bukan pelaku.
"Rencana gagal. Mereka lolos lewat jalan rahasia. Bersihkan jejak di ruangan itu sekarang juga, sebelum ada yang menemukan lencana itu. Dan awasi pergerakan mereka... karena aku punya perasaan, kunci semua rahasia ini kini ada di tangan si Dokter Cantik itu."
Jantung Tiara seakan berhenti berdetak. Suara itu adalah suara Kirana. Wanita itu tidak hanya sekadar rekan atau pengagum, dia adalah bagian utama dari permainan kotor ini.