Tiga minggu berlalu.
Dan tidak ada satu pun yang terjadi secara kebetulan.
Di lantai 27 sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota, sebuah nama baru mulai berbisik dari satu meja ke meja lain.
Alvena D. Kairo.
Tidak banyak yang tahu siapa dia.
Tidak ada jejak masa lalu yang jelas.
Namun dalam waktu singkat, namanya sudah muncul dalam beberapa rapat penting… termasuk satu rapat yang sangat spesial.
Rapat milik keluarga Arvand.
Lift terbuka dengan bunyi pelan.
Seorang wanita melangkah keluar.
Langkahnya tenang.
Terukur.
Sepatu hak tinggi hitam mengkilap, gaun formal yang pas di tubuhnya, dan rambut yang tertata sempurna.
Wajahnya tampak berbeda—lebih tegas, lebih tajam.
Namun matanya…
Masih sama.
Elara.
Atau sekarang—
Alvena.
Ia berjalan melewati lorong panjang tanpa ragu. Tatapan beberapa karyawan mengikutinya, sebagian kagum… sebagian penasaran.
“Dia yang itu ya?”
“Yang dari luar negeri katanya…”
“Cepat banget naiknya…”
Bisik-bisik itu tidak mengganggunya.
Justru…
Ia mengharapkannya.
Pintu ruang rapat terbuka.
Semua orang sudah ada di dalam.
Termasuk…
Dia.
Pria itu duduk di ujung meja. Jasnya rapi seperti biasa, wajahnya tetap dingin, sulit ditebak.
Di sampingnya—
Wanita itu.
Masih dengan senyum manis yang sama.
Namun kali ini… ada sesuatu yang berbeda.
Sedikit tegang.
Sedikit tidak nyaman.
Dan Elara langsung menyadarinya.
Bagus.
Sangat bagus.
“Maaf, saya terlambat.”
Suara Elara lembut.
Sopan.
Berbeda jauh dari dirinya yang dulu.
Semua mata tertuju padanya.
Pria itu mengangkat kepala.
Tatapan mereka bertemu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga—
Tidak ada reaksi.
Tidak ada pengenalan.
Tidak ada apa pun.
Dan di situlah…
Permainan dimulai.
“Silakan duduk, Nona Alvena.”
Salah satu direktur mempersilakan.
Elara mengangguk kecil.
Lalu duduk.
Tepat… berhadapan dengan pria itu.
Posisi yang sempurna.
Rapat dimulai.
Pembahasan tentang proyek besar yang selama ini menjadi targetnya.
Elara mendengarkan dengan tenang.
Mencatat.
Mengamati.
Setiap kata.
Setiap ekspresi.
Setiap celah.
Dan saat waktunya tiba—
Ia bicara.
“Saya punya sedikit masukan.”
Semua langsung terdiam.
Suara Elara tidak keras.
Namun cukup untuk menarik perhatian.
“Jika kita terus menggunakan pendekatan ini,” lanjutnya sambil menunjuk layar, “risiko kebocoran data akan meningkat 37% dalam tiga bulan ke depan.”
Ruangan itu langsung berubah.
Beberapa orang terlihat terkejut.
“Dari mana angka itu?” tanya salah satu eksekutif.
Elara tersenyum tipis.
“Simulasi.”
Ia menggeser beberapa file.
Data muncul.
Lengkap.
Rinci.
Dan… akurat.
Pria itu memperhatikannya.
Lebih serius sekarang.
“Lanjutkan,” katanya singkat.
Dan Elara melanjutkan.
Ia tidak menyerang.
Tidak terburu-buru.
Ia hanya… menanam.
Satu ide.
Satu keraguan.
Satu celah kecil.
Namun cukup.
Cukup untuk membuat sistem yang terlihat kuat… mulai retak dari dalam.
Di sisi lain meja—
Wanita itu mulai gelisah.
Tangannya mengepal di bawah meja.
Matanya sesekali melirik Elara.
Ada sesuatu yang mengganggu.
Sangat mengganggu.
“Tidak mungkin…” bisiknya pelan.
Namun ia tidak tahu apa.
Dan itulah bagian terbaiknya.
Rapat berakhir.
Orang-orang mulai keluar.
Namun pria itu tetap duduk.
Menatap Elara.
“Alvena.”
Ia menyebut namanya.
Pertama kali.
Elara berhenti.
Lalu menoleh.
“Ya?”
Pria itu berdiri.
Melangkah mendekat.
“Data kamu… menarik.”
Nada suaranya tetap datar.
Namun ada sedikit ketertarikan di sana.
“Terima kasih.”
Jawaban Elara singkat.
Profesional.
Seolah mereka benar-benar orang asing.
Dan itu…
Menyenangkan.
“Dari mana kamu belajar?” tanya pria itu.
Elara menatapnya.
Satu detik lebih lama dari seharusnya.
“Dari kesalahan orang lain.”
Jawaban itu sederhana.
Namun penuh arti.
Pria itu terdiam sejenak.
Seolah mencoba membaca sesuatu.
Namun tidak menemukan apa pun.
Karena Elara…
Sudah belajar menutup dirinya dengan sempurna.
Di sudut lain—
Wanita itu memperhatikan semuanya.
Diam.
Namun pikirannya berputar cepat.
Instingnya berteriak.
Ada yang salah.
Sangat salah.
Hari itu berakhir.
Namun permainan baru saja dimulai.
Malamnya—
Elara kembali ke tempat persembunyiannya.
Pria misterius itu sudah menunggunya.
“Bagaimana?” tanyanya santai.
Elara meletakkan tasnya.
“Lebih mudah dari yang aku kira.”
Pria itu tersenyum.
“Tentu saja.”
Ia menuangkan minuman.
“Mereka tidak pernah membayangkan musuh mereka… duduk di depan mereka.”
Elara tidak mengambil gelas itu.
Ia hanya berdiri.
Menatap layar yang menampilkan data terbaru.
“Kita sudah masuk.”
“Dan sekarang?”
Elara menyilangkan tangan.
Senyumnya perlahan muncul.
Namun kali ini—
Lebih licik.
Lebih berbahaya.
“Kita buat mereka saling curiga.”
“Mulai dari siapa?”
Pria itu tertarik.
Elara tidak ragu.
“Wanita itu.”
Ia menunjuk layar.
Wajah wanita di samping mantan suaminya muncul.
“Elisa.”
(Nama yang akhirnya terungkap)
“Elisa punya ambisi,” lanjut Elara. “Dan orang yang ambisius… mudah dimanipulasi.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Dan pria itu?”
Elara terdiam sejenak.
Lalu—
“Kita biarkan dia percaya… bahwa semuanya masih dalam kendalinya.”
“Langkah pertama?”
Elara menatap layar.
Matanya tajam.
“Kita beri Elisa sesuatu.”
“Apa?”
Elara tersenyum.
“Sebuah kemenangan kecil.”
Keesokan harinya—
Elisa menerima kabar baik.
Sebuah keputusan penting dalam perusahaan… tiba-tiba berpihak padanya.
Ia terkejut.
Namun juga senang.
Sangat senang.
“Lihat?” katanya pada pria itu dengan senyum puas. “Aku bilang aku bisa.”
Pria itu hanya mengangguk.
Namun di dalam hatinya…
Ada sesuatu yang mengganjal.
Sementara itu—
Di tempat lain—
Elara menatap layar.
Melihat semua reaksi itu.
Satu per satu.
Dengan tenang.
Dengan sabar.
“Dia sudah menggigit umpan,” katanya pelan.
Pria di belakangnya tersenyum.
“Dan sekarang?”
Elara menatap lurus ke depan.
“Sekarang…”
Senyumnya perlahan melebar.
“…kita tarik talinya.”
Dan tanpa mereka sadari—
Kepercayaan mulai retak.
Kecurigaan mulai tumbuh.
Dan permainan yang tampak biasa…
Sedang berubah menjadi perang yang tidak terlihat.