Tidak ada perang…
tanpa korban.
Dan malam itu—
Akhirnya, seseorang harus membayar.
Langit masih gelap.
Hujan belum berhenti.
Seolah kota ini menolak untuk tenang.
Namun yang benar-benar kacau—
Bukan di luar.
Melainkan di dalam.
Setelah pertemuan itu—
Tidak ada yang sama lagi.
Elara berdiri di balkon apartemennya.
Diam.
Tidak bergerak.
Namun pikirannya—
Tidak berhenti.
“Elisa tidak akan berhenti…”
Bisiknya pelan.
Dan ia benar.
Karena di tempat lain—
Elisa sudah bergerak.
Bukan dengan emosi.
Tapi dengan sesuatu yang lebih berbahaya.
Perhitungan.
Sebuah mobil melaju cepat di jalan kosong.
Di dalamnya—
Pria itu duduk diam.
Tangannya masih mengepal sejak tadi.
Ia tahu semuanya sudah keluar dari kendali.
Namun satu hal—
Masih jelas.
“Elara dalam bahaya.”
Dan kali ini—
Ia tidak akan terlambat.
Sementara itu—
Di sebuah rumah kecil di pinggir kota—
Lampu masih menyala.
Tempat itu sederhana.
Tenang.
Tempat yang seharusnya aman.
Namun malam itu—
Tidak lagi.
Pintu terbuka perlahan.
Seseorang masuk.
Langkahnya ringan.
Namun tujuannya jelas.
Di dalam—
Orang yang tadi diselamatkan oleh Elara…
Sedang duduk lemah.
Belum sepenuhnya pulih.
Dan tidak menyadari—
Bahwa bahaya belum selesai.
“Sayang sekali…”
Suara itu pelan.
Namun cukup untuk membuat tubuhnya menegang.
Elisa.
Ia berdiri di sana.
Senyumnya kembali.
Namun kali ini—
Lebih gelap dari sebelumnya.
“Kamu seharusnya tidak diselamatkan.”
Di saat yang sama—
Elara menerima pesan.
Satu foto.
Dan dalam satu detik—
Dunia berhenti.
Foto itu—
Menunjukkan orang itu.
Tergeletak.
Darah.
Dan satu pesan di bawahnya—
“Aku bilang aku tidak akan berhenti.”
Tangannya langsung gemetar.
“Tidak…”
Untuk pertama kalinya—
Suara itu pecah.
Bukan dingin.
Bukan terkontrol.
Tapi—
Penuh rasa takut.
Mobil berhenti mendadak.
Elara keluar tanpa menunggu.
Hujan langsung membasahinya.
Namun ia tidak peduli.
Ia berlari.
Tanpa ragu.
Tanpa pikir panjang.
Karena sekarang—
Ini bukan lagi tentang balas dendam.
Ini tentang—
Kehilangan.
Saat ia sampai—
Pintu sudah terbuka.
Dan di dalam—
Sunyi.
Terlalu sunyi.
“Elara…”
Suara lemah terdengar.
Ia langsung masuk.
Dan melihatnya.
Tubuh itu—
Terbaring.
Tidak bergerak.
Darah masih ada.
Namun—
Masih bernapas.
Sedikit.
Sangat sedikit.
“Tidak… tidak… tidak…”
Elara jatuh berlutut.
Tangannya gemetar saat menyentuhnya.
“Bertahan…”
Suaranya bergetar.
“Jangan pergi…”
Namun yang ia dapat—
Hanya napas lemah.
Dan itu—
Menghancurkannya.
Di pintu—
Seseorang berdiri.
Elisa.
Menonton.
Tanpa emosi.
“Indah, bukan?”
Suaranya pelan.
“Elara yang akhirnya merasa kehilangan.”
Namun kali ini—
Elara tidak membeku.
Ia berdiri.
Perlahan.
Dan saat ia menoleh—
Tidak ada lagi sisa manusia.
Hanya…
Kemarahan.
Murni.
“Pergi.”
Suaranya pelan.
Namun berbahaya.
Elisa tersenyum.
“Atau apa?”
Kesalahan.
Karena dalam satu detik—
Elara sudah di depannya.
Tangannya mencengkeram leher Elisa.
Keras.
Mendorongnya ke dinding.
Suara benturan terdengar.
Elisa terkejut
Untuk pertama kalinya—
Benar-benar terkejut.
“Kamu pikir ini permainan…”
Bisik Elara di dekat telinganya.
Suaranya dingin.
Namun penuh emosi.
“Sekarang lihat apa yang kamu lakukan.”
Tekanannya bertambah.
“Elara—”
Namun sebelum sesuatu terjadi—
Seseorang menariknya.
Pria itu.
“Cukup!”
Suaranya keras.
Untuk pertama kalinya—
Benar-benar kehilangan kendali.
Elara berhenti.
Namun matanya—
Masih terkunci pada Elisa.
Jika bukan karena dia—
Malam itu…
Akan berakhir berbeda.
Elisa terbatuk.
Namun—
Ia tetap tersenyum.
Meski lemah.
“Lihat…”
Bisiknya pelan.
“Akhirnya kamu hancur.”
Dan itu—
Lebih menyakitkan dari apa pun.
Elara mundur.
Namun bukan karena kalah.
Melainkan karena—
Jika ia tetap di sana—
Tidak akan ada jalan kembali.
Pria itu menatapnya.
“Elara…”
Namun ia tidak menjawab.
Ia hanya menatap orang di lantai.
Dan di situlah—
Sesuatu berubah.
Bukan lagi sekadar balas dendam.
Tapi—
Perang pribadi yang tidak bisa dihentikan.
Dan malam itu—
Untuk pertama kalinya—
Korban benar-benar jatuh.
Dan tidak ada yang tahu—
Apakah semuanya masih bisa diselamatkan…
Atau—
Semua sudah terlambat.