Kadang… yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan.
Tapi pilihan.
Siapa yang kamu pilih.
Dan siapa yang kamu tinggalkan.
Hari itu—
Langit kota tampak sama.
Namun tidak dengan mereka yang berada di dalamnya.
Nama Elara masih memenuhi media.
Wajahnya masih terpampang di mana-mana.
Namun sekarang—
Ia tidak lagi bersembunyi.
Dan itu…
Mengubah segalanya.
Di depan gedung utama—
Kerumunan kembali berkumpul.
Lebih besar.
Lebih liar.
Namun kali ini—
Ada sesuatu yang berbeda.
Saat Elara melangkah keluar—
Ia tidak sendirian.
Pria itu berjalan di sampingnya.
Langkahnya mantap.
Tatapannya dingin.
Dan dalam satu momen itu—
Semua kamera menangkapnya.
Bisikan berubah menjadi teriakan.
“Dia membelanya!”
“CEO berdiri di sisi wanita itu!”
“Ini konfirmasi?!”
Flash menyambar tanpa henti.
Namun pria itu tidak berhenti.
Ia melangkah ke depan.
Menarik Elara sedikit ke belakangnya.
Gerakan sederhana.
Namun jelas.
Melindungi.
Hening sejenak—
Lalu dunia meledak.
“Apakah Anda mengakui hubungan Anda dengan wanita itu?!”
“Apakah ini benar balas dendam yang melibatkan Anda juga?!”
Pria itu menatap lurus ke depan.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia tidak menghindar.
“Ya.”
Satu kata.
Namun cukup untuk menghancurkan segalanya.
Ia melanjutkan.
“Dia adalah bagian dari masa laluku.”
Tatapannya berubah.
Lebih dalam.
“Dan apa yang terjadi saat itu…”
Ia berhenti.
“…adalah kesalahanku.”
Hening.
Kalimat itu—
Lebih keras dari pengakuan apa pun.
Di belakangnya—
Elara membeku.
Ia tidak menyangka.
Tidak seperti ini.
Namun sebelum ia bisa bereaksi—
Pria itu berbicara lagi.
“Dan kali ini…”
Ia menoleh sedikit.
Tatapannya bertemu dengannya.
“…aku tidak akan membuat kesalahan yang sama.”
Dunia terasa berhenti.
Dan untuk satu detik—
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang.
Hanya mereka berdua.
Dan semua yang belum selesai.
Di tempat lain—
Elisa menonton semuanya.
Tangannya gemetar.
Namun bukan karena lemah.
Melainkan—
Karena marah.
“Dia memilihnya…”
Bisiknya pelan.
Matanya memerah.
“Di depan semua orang…”
Tablet di tangannya hampir jatuh.
Namun ia menahannya.
Napasnya berat.
“Baik…”
Suaranya berubah.
Lebih rendah.
Lebih gelap.
“Kalau itu pilihanmu…”
Senyumnya perlahan muncul.
“…aku akan membuatmu menyesal.”
Kembali ke luar gedung—
Kerumunan mulai tak terkendali.
Namun pria itu sudah membawa Elara masuk ke dalam.
Pintu tertutup.
Dan dunia luar—
Tertinggal.
Di dalam—
Hening.
Berat.
Elara berdiri diam.
“Kenapa…”
Suaranya pelan.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatapnya.
Lama.
Karena jawaban itu…
Tidak sederhana.
“Karena aku lelah.”
Akhirnya ia bicara.
“Lelah pura-pura tidak tahu.”
Ia melangkah mendekat.
“Lelah melihatmu…”
Ia berhenti.
“…dan berpura-pura kamu orang lain.”
Jantung Elara berdetak cepat.
“Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.”
Suaranya sedikit bergetar.
Namun pria itu menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatapnya dalam.
“Justru sekarang… aku mulai tahu.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya—
Jarak di antara mereka…
Tidak terasa seperti perang.
Melainkan sesuatu yang lebih berbahaya.
Perasaan.
Namun—
Elara mundur selangkah.
“Jangan.”
Suaranya berubah.
Lebih dingin.
“Kamu tidak berhak.”
Kalimat itu tajam.
Namun pria itu tidak mundur.
“Kalau begitu…”
Ia melangkah lebih dekat.
“Kenapa kamu kembali?”
Hening.
Pertanyaan itu—
Tidak bisa dihindari lagi.
“Untuk menghancurkanmu.”
Jawaban Elara langsung.
Tanpa ragu.
Namun—
Mata mereka tidak berbohong.
Dan mereka berdua tahu itu.
Pria itu tersenyum tipis.
“Kalau itu tujuanmu…”
Ia mendekat.
Terlalu dekat.
“…kenapa kamu masih terlihat seperti seseorang yang terluka?”
Hening.
Dan di situlah—
Semua pertahanan Elara hampir runtuh.
Namun—
Ia menahannya.
Seperti biasa.
“Aku tidak terluka.”
Jawaban itu pelan.
Namun kosong.
Dan itu—
Lebih menyakitkan dari tangisan.
Tiba-tiba—
Pintu terbuka keras.
Elisa masuk.
Tanpa izin.
Tanpa ragu.
Tatapannya langsung tertuju pada mereka.
Dekat.
Terlalu dekat.
“Indah sekali.”
Suaranya dingin.
“Reuni yang mengharukan.”
Hening.
Namun kali ini—
Tidak ada yang mundur.
Karena sekarang—
Semua sudah terlalu jauh.
Dan perang ini—
Tidak bisa dihentikan lagi.