Ruangan itu hening beberapa detik. Hanya ada suara pendingin ruangan dan ketukan pelan jari Sela di atas layar ponselnya. Perempuan itu sudah kembali sibuk seolah Jalen tak lagi duduk di depannya.
Jalen tak bergerak dari kursinya. Kalimat Sela barusan masih tertinggal di kepalanya. Mobil itu Bapak yang punya. Saya bisa apa? Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah. Justru karena tidak marah, kalimat itu terasa lebih tajam.
“Tangan kamu,” ujar Jalen akhirnya.
Sela tak mengangkat wajah. “Kenapa dengan tangan saya?”
“Diperban lagi.”
“Bapak bisa lihat tembus kemeja?”
“Kamu tidak memakai tangan kiri sejak saya masuk. Gelas itu kamu geser pakai tangan kanan. Ponsel juga.” Jalen menunjuk dengan dagunya. “Semalam kamu jalan berapa jauh?”
Sela akhirnya meletakkan ponsel. Ia menatap Jalen dengan raut yang sama datarnya. “Saya rasa itu bukan urusan Bapak.”
“Itu urusan saya kalau minggu depan kamu pingsan di depan dewan direksi dan saya duduk di sebelah kamu.”
Sela terdiam. Untuk sesaat ia tampak menimbang apakah kalimat itu sebuah sindiran atau sebuah fakta. Dua-duanya, mungkin.
Jalen menghela napas. Ia tak terbiasa dengan apa yang akan ia lakukan sekarang. Ia jarang sekali merasa perlu menjelaskan diri pada orang lain. Tapi ada sesuatu yang mengganjal sejak tadi pagi, sejak ia menemukan tas itu di bawah jok mobilnya. Tiga puluh panggilan tak terjawab. Pesan-pesan Geza yang makin panik.
“Semalam teman saya mobilnya mogok di jalan tol. Dia sendirian,” ujar Jalen. “Saya pergi tanpa berpikir. Itu salah saya. Saya minta maaf.”
Sela mengerjapkan mata. Ia tak menyangka akan mendengar kata maaf dari mulut pria ini. Pria yang mempermasalahkan sepuluh detik keterlambatannya.
“Sudah,” jawab Sela pendek. “Saya terima. Ada lagi?”
“Ada.” Jalen menegakkan punggung. “Hari itu di rumah sakit saya bilang saya punya syarat.”
Sela langsung waspada. Ia sudah lama menunggu ini. Ia sudah menyiapkan diri untuk permintaan apa pun. Uang, saham, akses ke proyek AMARA, atau entah apa. Orang tak pernah membantu dengan cuma-cuma. Itu pelajaran pertama yang Opa ajarkan padanya.
“Silahkan.”
“Dua hal. Pertama, selama enam bulan ini kamu boleh bersandiwara di depan siapa saja. Dewan, keluarga kamu, wartawan, terserah. Tapi jangan pernah berbohong sama saya.”
Kening Sela berkerut. “Hanya itu?”
“Saya belum selesai.” Jalen melirik tangan kiri Sela yang tersembunyi di balik lengan kemeja. “Kedua, kamu berobat sampai tuntas. Tidak ada lagi kabur dari rumah sakit. Tidak ada lagi lipstik merah buat menutupi muka pucat.”
Sela nyaris tertawa. Nyaris. “Anda bercanda.”
“Saya tidak pernah bercanda soal syarat.”
“Kesehatan saya bukan bagian dari kesepakatan kita.”
“Sekarang jadi bagian.” Jalen menyandarkan punggung. “Kalau kamu tidak setuju, saya tidak datang minggu depan.”
Tangan kanan Sela mengepal di atas meja. Pria ini benar-benar tahu cara menekan di titik yang tepat. Sela tak punya waktu mencari orang lain. Dewan sudah mendengar nama Jalen Gomez dari mulut Opa sendiri. Mengganti nama sekarang sama saja bunuh diri.
“Baik,” ucap Sela pada akhirnya. “Saya setuju.”
“Bagus.” Jalen bangkit. Ia melirik jam tangannya. “Kamu ada rapat sampai jam berapa?”
“Kenapa?”
“Jawab saja.”
Sela memeriksa layar laptopnya. “Jam dua.”
“Jam dua lewat sepuluh saya tunggu di lobi.”
“Untuk apa?”
“Rumah sakit.” Jalen sudah berjalan ke arah pintu. “Kamu baru saja setuju, Nona Sela. Jangan bikin saya menyesal.”
Pintu tertutup. Sela memandangi pintu itu cukup lama. Ia baru sadar sedang menahan napas.
...
Pukul dua lewat sebelas menit, Sela keluar dari lift VIP. Ia sengaja. Satu menit. Biar pria itu tahu rasanya menunggu.
Jalen berdiri di dekat pintu kaca lobi dengan kedua tangan di saku celana. Begitu melihat Sela, ia melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Sela.
“Satu menit,” ucapnya.
“Saya tahu.”
Sudut bibir Jalen bergerak sedikit sekali. Begitu sedikit sampai Sela tak yakin apakah itu senyum atau ia hanya salah lihat. Pria itu membukakan pintu mobil tanpa berkata apa-apa lagi.
Mobil sport kuning itu melaju meninggalkan pekarangan AMARA. Dari balik kaca, Sela bisa melihat dua resepsionis di lobi saling sikut. Besok pasti ada gosip baru di pantry lantai tiga. Biar saja. Bukankah memang itu yang ia butuhkan? Orang-orang harus percaya bahwa GM mereka sudah bersuami.
Dokter yang menangani Sela adalah dokter yang sama dengan yang melakukan prosedur tempo hari. Pria paruh baya itu menatap Sela dengan raut yang jelas sekali menahan omelan.
“Saya sudah bilang jangan dipakai bergerak dulu.” Ia membuka perban di tangan kiri Sela perlahan. Pergelangan itu bengkak dan kebiruan. Jalen yang berdiri di dekat tirai memalingkan wajah sebentar. “Ini kenapa jadi begini? Kemarin dipakai angkat apa?”
Sela diam.
“Jalan kaki jauh,” sahut Jalen. “Sambil bawa sepatu di tangan, kayaknya.”
Sela menoleh tajam. Bagaimana pria itu bisa tahu? Ia memang melepas stilettonya setengah perjalanan karena kakinya lecet. Lalu ia ingat, tumit sepatunya patah dan masih tergeletak di dekat pintu apartemennya. Tidak. Jalen tidak mungkin melihatnya. Pria itu hanya menebak.
Dan tebakannya benar. Menyebalkan sekali.
Dokter itu menghela napas. Ia memasang bidai baru dan menuliskan beberapa obat. Ia juga meminta Sela kembali untuk periksa darah minggu depan karena kadar hemoglobinnya terakhir kali masih rendah.
“Kekurangan darah?” tanya Jalen.
“Ini bukan pertama kali. Dua minggu lalu Mbak Sela juga dirawat di sini,” jawab sang dokter tanpa curiga. Jalen pasti dianggap keluarga. Bukankah di dokumen operasi tempo hari pria itu yang tanda tangan?
Sela memejamkan mata. Selesai sudah. Satu rahasia lagi bocor ke orang yang paling tak ia inginkan.
...
Perjalanan pulang berlangsung hening. Jalen menyetir dengan tenang, sesekali melirik spion. Sela memandangi jalanan yang macet di luar jendela. Kantong plastik berisi obat ada di pangkuannya.
“Dua minggu lalu,” Jalen membuka suara. “Waktu saya lihat kamu pakai infus di koridor. Itu karena ini juga?”
Sela tak langsung menjawab. Ia ingat syarat pertama. Jangan berbohong pada saya. Sela bisa saja diam. Diam bukan bohong, kan?
“Saya pingsan di kamar mandi kantor,” jawabnya akhirnya. “Rumi yang menemukan.”
“Dan kamu kabur dua hari kemudian.”
“Ada urusan penting.”
“Selalu ada urusan penting.” Jalen membelokkan mobil ke jalur apartemen Sela. “Kamu tahu apa yang paling saya tidak suka dari kamu?”
“Banyak, sepertinya.”
“Kamu memperlakukan badan kamu sendiri kayak mesin fotokopi kantor. Dipakai sampai rusak, terus marah karena rusak.”
Sela menoleh. Ia ingin membalas, tapi kalimat itu entah kenapa tak bisa ia bantah. Mobil berhenti di depan lobi apartemen. Geza belum kembali dari luar kota, jadi tak ada siapa pun yang menunggu.
“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Sela sambil membuka pintu. Ia berhenti sebentar. “Kenapa Anda peduli?”
Jalen menatap lurus ke depan. “Saya tidak peduli. Saya cuma tidak mau malu kalau istri saya pingsan di depan dewan direksi.”
Istri saya. Kata itu diucapkan begitu enteng sampai Sela lupa membalas. Ia turun dari mobil, dan mobil kuning itu langsung melaju pergi.
Sela berdiri di lobi cukup lama, memandangi kantong obat di tangannya.
***