Mobil di belakang itu bukan pengintai.
Itu pengantar.
Ia menyusul, melewati pikap, lalu mengerem melintang di tengah tol kosong, memaksa Damar membanting setir dan berhenti dengan ban berdecit. Pintunya terbuka. Seorang pria turun—bertubuh sedang, kepala plontos, dan wajah yang sangat tenang, terlalu tenang, wajah orang yang tahu persis seberapa kuat dirinya.
Damar sudah keluar dari pikap sebelum pria itu melangkah dua kali. "Sekar, bawa Lintang!"
"Enggak usah buru-buru," kata pria itu. Suaranya datar, tapi udara di sekitarnya bergetar samar, seolah seluruh dunia menahan napas dan getaran kecil itu adalah gemanya. "Kalian gak akan ke mana-mana."
"Kamu siapa?" Damar maju, telapaknya mulai berpijar. Ia merasakan kabel listrik tegangan tinggi yang membentang di atas tol—jauh, tapi terjangkau. Ia mulai menariknya pelan.
"Mereka manggil aku Gelombang." Pria itu mengangkat satu tangan. "Dan aku dibayar buat bawa kalian. Hidup lebih bagus. Tapi mati juga gak masalah."
Ia menghentakkan telapaknya ke aspal.
Tol itu bergelombang. Bukan kiasan—aspalnya benar-benar beriak, gelombang kejut merambat dari titik telapaknya seperti riak di kolam, menjalar ke arah pikap. Damar melompat, menarik energi dari kabel di atas dalam satu sentakan besar, dan menghantamkan dirinya ke aspal dengan ledakan biru yang memecah riak itu—dua gelombang bertabrakan, melemparkan pecahan aspal ke segala arah.
Ia mendarat berlutut, garis-garis biru menyala terang. "Sekar, GO!"
Pikap meraung mundur. Tapi Gelombang hanya melirik, dan dari telapaknya yang lain ia melepas pulsa kedua—bukan ke Damar, tapi ke tanah di bawah pikap. Aspal di sana retak, ban depan terperosok. Pikap macet.
Damar menyerang. Ia melepaskan ledakan terarah, gelombang energi murni. Gelombang mengangkat kedua tangan dan getaran di udara meredamnya, memecahnya, menyerap dampaknya seperti peredam kejut raksasa. Ledakan Damar yang seharusnya melempar orang menembus dinding itu hanya menggoyahkan Gelombang selangkah ke belakang.
"Getaran lawan getaran," kata Gelombang, hampir geli. "Energimu itu cuma gelombang juga, Nak. Dan gelombang—aku ahlinya."
Ia balas menyerang, dan kali ini bukan ke aspal. Ia mengarahkan resonansi langsung ke tubuh Damar. Damar merasakannya menembus dada, menggetarkan tulang, mengocok isi kepalanya. Dunia berdenging, penglihatannya pecah jadi dua. Ia jatuh berlutut, mual, telinganya bocor darah tipis.
*Dia gak nyentuh gue. Dia getarin gue dari dalam.*
Damar melakukan satu-satunya yang bisa. Ia berhenti melawan getaran—dan mulai menyerapnya.
Sama seperti distorsi ruang Lintang dulu, sama seperti baja Baja. Energi adalah energi. Getaran adalah energi. Ia membuka dirinya dan menarik resonansi itu masuk—dan untuk sesaat, berhasil. Denging di kepalanya mereda. Garis-garis birunya menyala makin terang, makin liar, ditambahi getaran yang ia curi.
Tapi getaran bukan listrik. Ia tidak diam di dalam tubuh Damar. Ia bergema, memantul, melipatgandakan dirinya dari dalam, mengguncang Damar dari sisi yang berbeda. Damar terlalu penuh dan resonansi itu mulai mengoyaknya dari dalam keluar. Ia merasakan dirinya nyaris pecah.
Dengan jeritan tertahan, Damar melepaskan semuanya sekaligus—energi curian, listrik, getaran—dalam satu ledakan tak terkendali yang menggetarkan seluruh ruas tol, menerbangkan Gelombang sepuluh meter ke belakang, menghancurkan kedua mobil, dan melemparkan Damar sendiri terbanting ke pembatas jalan.
Sunyi.
Damar terbatuk, telinga berdenging, garis-garis birunya padam jadi nyaris tak terlihat. Habis. Tinggal sisa.
Di seberang aspal yang hancur, Gelombang bangkit perlahan. Bahunya cedera, jalannya pincang, tapi ia berdiri. Ia menatap Damar dengan ekspresi baru—bukan lagi geli. Penasaran. Hampir hormat.
"Kamu nyerap getaranku," katanya, terengah. "Belum pernah ada yang bisa." Ia menyeka darah dari sudut bibirnya. "Lain kali aku gak akan main-main."
Lalu ia berbalik, dan menghilang ke gelap, pincang menuju kegelapan tol—karena ia tahu, dan Damar tahu, malam ini tak ada yang menang.
Sekar berlari menghampiri, menarik Damar bangkit. "Lo masih hidup?"
"Setengah," gumam Damar, bersandar berat padanya. Di kursi belakang pikap yang miring, Lintang menatapnya dengan mata lebar dan pucat.
Mereka pergi malam itu dengan satu pelajaran baru yang dingin: ada lawan yang tak bisa dikalahkan dengan menjadi lebih kuat. Hanya dengan menjadi lebih pintar. Dan mereka belum cukup pintar.