Mereka menyewa Sirkuit Sentul untuk satu sesi latihan—biaya terbesar yang berani mereka keluarkan, hanya mungkin karena Pak Gun memohon diskon kepada pengelola lama yang menghormati nama Hardian.
Bayu berdiri di tepi pit lane, menatap aspal yang membentang. Sentul. Tempat yang sama. Ia bisa melihat dari kejauhan, di ujung lintasan, lengkungan yang dulu menjadi Tikungan Tujuh.
Ayahnya mati di sana, sekitar tiga ratus meter dari tempat Bayu berdiri sekarang.
"Kita nggak harus mulai hari ini," kata Pak Gun di sampingnya, seakan membaca pikirannya. "Kalau kamu butuh waktu—"
"Hari ini, Pak." Bayu mengenakan sarung tangan balap. Tangannya tetap, atau ia memaksanya tetap. "Kalau saya nunggu sampai siap, saya nggak akan pernah siap."
PR-09 sudah dipanaskan. Mesin V6 rakitan ayahnya mendengung dalam, berbeda jauh dari gokart—suara yang dalam, mengancam, hidup. Bayu masuk ke kokpit yang sempit dan pas di tubuhnya. Pak Gun mengencangkan sabuk enam titik di dadanya, memeriksa HANS device di lehernya, lalu menatap mata Bayu lewat celah helm.
"Dengar baik-baik," kata Pak Gun. "Aku nggak peduli waktumu hari ini. Aku peduli kamu balik ke pit dalam keadaan utuh. Pelan di tiga lap pertama. Rasain mobilnya. Jangan pikirin apa-apa selain garis lintasan. Mengerti?"
Bayu mengangguk. Pak Gun menepuk helmnya dua kali, kode lama: aman, berangkat.
Mobil itu meluncur keluar dari pit.
Tiga ratus meter pertama terasa seperti tenggelam. Tenaga PR-09 jauh melampaui apa pun yang diingat tubuh Bayu. Gas sedikit saja, mobil melompat. Setir terasa berat dan tajam. Anginnya menggebuk helm. Dan suara mesin—suara itu—menjalar ke seluruh tubuhnya, ke memori yang tak ingin ia sentuh.
Tikungan Satu mendekat. Bayu mengerem terlalu keras, mobil melambat berlebihan, dan ia kehilangan momentum. Tapi ia melewatinya. Tikungan Dua, Tiga, Empat. Setiap tikungan ia terlalu hati-hati, terlalu lambat, garisnya berantakan. Tapi roda terus berputar.
Lalu, di kejauhan, Tikungan Tujuh muncul.
Napas Bayu memendek. Dunianya kembali menyempit jadi terowongan. Di telinganya, suara radio lama menggema: "Pace bagus, Pak, pertahankan." Tangannya mulai gemetar di setir. Kakinya kaku di pedal.
Suara Pak Gun masuk lewat radio, tenang dan tegas. "Bayu. Aku di sini. Lihat apex. Cuma tikungan. Aspal, beton, rambu. Cuma itu."
Bayu menggigit bibir sampai terasa logam. Ia memaksa matanya fokus ke titik apex tikungan, bukan ke bayangan di kepalanya. Ia mengangkat gas. Mengerem. Memutar setir.
Mobil melewati Tikungan Tujuh.
Tidak ada yang meledak. Tidak ada asap. Tidak ada keheningan radio. Hanya aspal di bawah ban dan langit di atas, dan suara napasnya sendiri yang tersengal di dalam helm.
Bayu menyelesaikan satu lap. Lalu lap kedua. Lap ketiga. Di lap keempat, untuk pertama kalinya, ia berani sedikit lebih cepat di Tikungan Satu. Di lap kelima, tangannya berhenti gemetar.
Saat ia masuk pit, Pak Gun melihat angka di layar dan mengernyit. "Waktumu lambat. Empat detik lebih lambat dari pembalap papan tengah."
Bayu melepas helm, napas masih memburu. "Saya tahu."
"Tapi," Pak Gun tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyumnya lega, bukan cuma menghibur, "kamu lewat Tikungan Tujuh lima kali. Dan kamu balik utuh. Empat detik itu—itu cuma teknik. Teknik bisa diajarin." Ia menepuk bahu Bayu. "Yang barusan kamu kalahin, itu yang nggak bisa diajarin."