Malam itu Bayu tidak bisa tidur. Ia duduk di garasi, di samping PR-09, menatap tulisan tangan ayahnya di kokpit sampai matahari hampir terbit. Sekar menemukannya di sana, masih dengan baju kemarin.
"Kak," kata Sekar pelan, duduk di lantai garasi di sampingnya. "Aku denger semua dari Bu Ratih. Soal Pak Sugianto. Soal lembar spesifikasi." Ia menarik napas. "Kak Bayu... selama lima tahun Kakak nyalahin diri sendiri. Pace bagus, Pak, pertahankan. Kakak kira itu yang bunuh Bapak."
Bayu tidak menjawab. Tapi tangannya, di pangkuan, mengepal.
"Itu nggak pernah benar," kata Sekar, suaranya bergetar. "Aku masih lima belas waktu itu. Tapi aku inget. Aku inget Kakak pulang dari sirkuit dan nggak ngomong tiga hari. Aku inget Kakak berhenti balapan, jual semua peralatan, lari sejauh mungkin dari mesin. Aku liat Kakak ngehukum diri sendiri tiap hari selama lima tahun." Air mata jatuh di pipinya. "Dan ternyata bukan Kakak. Nggak pernah Kakak."
Bayu menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya berguncang. Lima tahun beban itu, beban yang ia pikul sendirian, yang membuatnya tidak bisa mendengar suara mesin tanpa panik, yang membuatnya menutup mobil ayahnya dengan terpal abu-abu dan tidak menyentuhnya — lima tahun itu dibangun di atas dusta yang sengaja ditanam orang lain.
"Aku di radio," kata Bayu akhirnya, suaranya tercekik. "Aku yang bilang pertahankan pace. Lima detik sebelum bannya pecah. Sekar, aku denger semuanya. Aku denger Bapak—" Ia tidak bisa melanjutkan.
"Kak." Sekar memegang lengannya erat. "Pace bagus bukan yang bunuh ban. Suhu yang bunuh ban. Ban yang salah, di suhu yang salah, dengan informasi yang sengaja disembunyiin. Kakak nggak tahu ban Bapak maksimal lima puluh dua derajat. Bapak juga— " Ia berhenti. "Atau Bapak tahu, dan tetap jalan. Dan kalau itu masalahnya, Kak, itu keputusan Bapak. Bukan kata-kata Kakak."
Pagi datang. Bu Ratih menelepon, suaranya datar penuh angka seperti biasa, tapi ada kelembutan di baliknya. "Bayu. Aku udah analisa ulang telemetri lama yang masih ada. Dengar baik-baik, karena ini penting." Ia berhenti. "Pada momen kamu bilang 'pertahankan pace', ban kanan depan Bapakmu udah lima puluh tujuh derajat. Udah di luar ambang. Ban itu udah sekarat sebelum kamu ngomong sepatah kata pun. Kalaupun kamu teriak 'pelan-pelan' detik itu juga, secara fisika ban itu udah lewat titik balik. Nggak ada yang bisa kamu lakukan dari radio yang mengubah hasilnya."
Bayu mencengkeram ponsel. "Bu Ratih yakin?"
"Aku insinyur ban, Bayu. Aku nggak ngomong soal perasaan. Aku ngomong soal angka. Ban itu udah mati sebelum kata-katamu sampai ke telinga Bapakmu. Kamu cuma anak dua puluh satu tahun yang ngeliat data pace yang bagus dan ngasih semangat ke ayahnya. Itu yang setiap anak bakal lakuin." Suaranya melembut, hampir tidak terdengar lagi seperti insinyur. "Bukan salahmu, Bayu. Secara teknis, secara fisika, secara apapun yang aku ngerti — bukan salahmu. Nggak pernah."
Bayu menutup telepon. Ia berdiri di garasi, di tengah cahaya pagi yang masuk lewat pintu yang terbuka separuh, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia membiarkan dirinya menangis tanpa menahan apapun. Bukan tangis bersalah. Tangis pembebasan.
Sekar memeluknya. Pak Gun, yang baru tiba untuk kerja pagi, berdiri di pintu garasi dan tidak masuk — ia hanya menatap, dan matanya yang tua basah, karena ia tahu apa yang sedang dilepas anak ini dari pundaknya.
Ketika tangisnya reda, Bayu mengusap wajahnya dan menatap PR-09. Bukan lagi monumen rasa bersalah. Hanya mobil ayahnya. Mobil yang ayahnya rakit dengan tangan sendiri, dengan cinta.
"Aku harus ngomong sama Ibu," kata Bayu pelan. "Pak Sugianto bilang cuma Ibu yang tahu kenapa Bapak tetap balap. Kalau lembar spesifikasi itu ada di pit hari itu..." Ia menelan ludah. "Aku harus tahu yang terakhir, Sekar. Yang Ibu simpen lima tahun ini."
Sekar mengangguk pelan, wajahnya cemas. "Ibu nggak pernah cerita soal hari itu. Sekalipun. Setiap aku tanya, dia diam."
Bayu menatap pintu rumah, di mana ibunya pasti sedang menyiapkan teh seperti tiap pagi. Lima tahun keheningan menunggu di balik pintu itu.
"Sekarang waktunya dia cerita," kata Bayu.