Trofi P2 itu kecil, perak murahan, tapi Bu Marni meletakkannya di rak garasi seolah ia emas — di samping foto Hardian yang berdebu. Sekar menghitung hadiah uangnya dengan kalkulator: lumayan, tapi setetes saja di lautan utang lima ratus delapan puluh juta yang tetap berdiri seperti tembok.
Tapi ada satu tembok lain yang malam itu, akhirnya, mereka robohkan. Sekar membentangkan catatannya: tiga puluh juta dari pelabuhan yang sejak awal ia simpan di laci untuk bank, hadiah P2 seri tiga, dan satu sponsor kecil — bengkel sparepart langganan ayah mereka — yang ia bujuk pelan-pelan lewat telepon selama dua minggu terakhir. Dijumlahkan, pas seratus juta. "Genap, Mas," katanya, suaranya bergetar. "Tepat di hari ketiga puluh sembilan dari enam minggu itu." Esoknya Sekar menyetorkan seratus juta itu ke bank sebagai tanda itikad baik, dan tiga hari kemudian surat balasan datang — bukan amplop cokelat yang menakutkan kali ini: penilaian aset resmi ditunda sampai akhir musim, persis seperti yang dijanjikan klausul. Rumah tidak akan disita sebelum final. Mereka membeli waktu sampai garis terakhir — tepat saat Lintas Jaya akan cair, kalau mereka bertahan di sepuluh besar.
Tapi malam itu, untuk beberapa jam, garasi Prakoso terasa hidup. Pak Heru membawa nasi padang, Dimas memutar lagu lawas dari ponselnya, Pak Gun bercerita tentang era Hardian saat tim ini pernah menang. Tawa mengisi ruangan yang biasanya hanya berisi suara kunci pas.
Dua hari kemudian, Reno datang ke garasi.
Ia datang sendiri, tanpa pengawal, mobil hitamnya terparkir kikuk di gang sempit. Ia berdiri di pintu garasi seolah masuk ke dunia asing — dan memang asing. Garasi ini sepersepuluh ukuran pit tim Wijaya. Cat dindingnya mengelupas. Tapi PR-09 berdiri di tengah, biru pudar, dan Reno menatapnya lama.
"Jadi ini mobilnya," katanya. "Yang ngalahin aku tiga detik di kandangku sendiri kalau aspalnya nggak rata kayak meja biliar."
"Yang hampir ngalahin," koreksi Bayu, tapi ia tersenyum.
Pak Gun keluar, lap tangan penuh oli, dan berhenti saat melihat Reno. Ada keheningan canggung — Pak Gun adalah orang yang mengangkat tubuh Hardian dari mobil; tim Wijaya pernah memakai pemasok ban yang sama. Banyak luka tak terucap di ruangan ini.
"Pak," kata Reno, dan ia menunduk — bukan basa-basi, tapi hormat sungguhan. "Saya minta maaf. Bukan cuma soal rem. Soal cara saya selama ini. Soal hal-hal yang saya nggak tahu tapi tetap saya nikmatin."
Pak Gun menatapnya lama. Pria tua itu sudah melihat terlalu banyak untuk menyimpan dendam pada anak yang baru belajar. "Duduk," katanya akhirnya. "Kamu udah di sini. Lihat mobil ini. Bapaknya Bayu yang rakit mesinnya. V6. Tangan sendiri."
Reno duduk. Dan untuk satu jam, tiga generasi orang balap — Pak Gun yang tua, Bayu yang sembuh, Reno yang baru tersadar — bicara tentang satu hal yang mereka cintai dan satu hal yang membuat mereka takut: kecepatan, dan harga yang dimintanya.
Sebelum pulang, Reno berhenti di pintu. "Papa nggak akan berhenti," katanya pelan, menatap malam di luar. "Aku kenal dia. Dia liat kalian naik di kandangnya, di depan matanya, di depan sponsornya. Itu bukan bikin dia mundur. Itu bikin dia makin nekat."
"Aku tahu," kata Bayu.
"Aku nggak bisa lawan ayahku terang-terangan," lanjut Reno. "Dia tetap ayahku. Tapi..." Ia menatap Bayu, dan ada keputusan keras di matanya. "Apapun yang dia rencanain, aku nggak akan ikut. Dan kalau aku denger sesuatu — apapun — kamu yang pertama tahu. Itu yang bisa aku kasih."
Bukan aliansi terbuka. Bukan persahabatan yang diumumkan. Sebuah gencatan diam-diam: dua pembalap yang akan tetap saling mengalahkan di lintasan, tapi sepakat melawan satu hal yang lebih kotor dari kekalahan.
"Cukup," kata Bayu. Dan ia mengulurkan tangan.
Reno menjabatnya, lalu pergi, lampu mobilnya menghilang di gang sempit.
Pak Gun berdiri di samping Bayu, menatap kepergian itu. "Bapakmu pernah bilang," katanya, suaranya pelan, "musuh terbaik itu yang akhirnya jadi cermin. Dia tunjukin siapa kamu, dan siapa yang bisa kamu jadiin." Ia menepuk bahu Bayu. "Anak itu lagi nyari tahu siapa dia tanpa nama ayahnya. Sama kayak kamu lima tahun lalu."
Bayu mengangguk. Tapi di balik kelegaan gencatan ini, ada satu pertanyaan yang Reno tanam dan tidak bisa Bayu cabut: timku pakai pemasok ban yang sama dulu. Apa Papa juga ada hubungannya dengan itu?
Pemasok ban impor yang membunuh ayahnya. Lubang gelap yang selama lima tahun ia kira sudah tertutup dengan penjelasan Bu Ratih — suhu, desain, ketiadaan data. Kombinasi faktor.
Tapi siapa yang memilih ban impor itu? Dan apakah ketiadaan data itu kecelakaan, atau sesuatu yang sengaja disembunyikan?
Bayu menatap foto ayahnya di rak, di samping trofi perak murahan. Ia tahu, malam itu, bahwa ia tidak akan bisa tenang sampai ia menggali sampai dasar.
Besok, ia akan menelepon Bu Ratih.