Malam itu hujan turun tipis di Jakarta. Bayu hampir sampai hotel murah dekat sirkuit ketika ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.
"Aku di parkiran belakang hotelmu," kata suara di seberang. "Lima menit. Sendiri."
Reno.
Bayu menemukannya berdiri di bawah atap seng yang bocor, menyandar pada mobil sport hitam yang harganya bisa membeli tiga PR-09. Tudung jaketnya basah. Ia tidak menatap Bayu; ia menatap genangan air yang memantulkan lampu jalan.
"Aku nggak tahu," kata Reno tanpa basa-basi. "Soal rem. Soal vendor catering. Soal semuanya. Kamu boleh percaya atau nggak, tapi aku nggak tahu."
"Aku percaya," kata Bayu. Dan ia benar-benar percaya. Ia sudah melihat wajah Reno di ruangan itu — wajah orang yang dunianya retak.
Reno tertawa pahit, suara tanpa kegembiraan. "Lucu, ya. Seumur hidup aku bangga jadi yang tercepat. Tim terbaik, mobil termahal, insinyur terhebat. Aku ngira aku menang karena aku hebat." Ia menendang genangan air. "Ternyata ada tangan lain yang bersihin jalanku diam-diam. Aku bahkan nggak tahu seberapa banyak kemenanganku yang... beneran punyaku."
Bayu diam. Ia tahu kapan kata-kata cuma akan merusak.
"Bapakmu," kata Reno tiba-tiba. "Yang mati di Tikungan Tujuh. Ban impor itu... timku pakai pemasok yang sama dulu, kan? Papa pernah cerita sambil lalu." Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya menatap Bayu langsung. "Apa Papa juga ada hubungannya dengan itu?"
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti batu di air tenang. Bayu merasakan dadanya mengencang. Lima tahun ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya. Bu Ratih sudah menjelaskan: ban impor, suhu lima puluh delapan derajat melebihi desain lima puluh dua, ketiadaan data. Kombinasi faktor. Tapi siapa yang memilih ban impor itu — itu masih lubang gelap.
"Aku nggak tahu," jawab Bayu jujur. "Belum tahu."
"Kalau kamu cari tahu," kata Reno, suaranya rendah, "aku mau tahu juga. Sekalipun jawabannya bikin aku malu seumur hidup."
Hujan menebal. Mereka berdiri di bawah atap seng yang bocor, dua pembalap dari dua dunia yang tak pernah bertemu kecuali di lintasan.
"Kamu tahu apa yang paling bikin aku marah?" lanjut Reno, suaranya datar sekarang. "Bukan soal rem itu doang. Tapi kalau Papa sanggup gergaji rem mobilmu sekarang, dia sanggup ngapain lima tahun lalu? Ke ban bapakmu?" Ia mengusap wajahnya yang basah. "Aku nggak bisa tidur mikirin itu, Bayu. Aku tidur di atas semua yang dia bangun, dan aku nggak tahu berapa banyak yang dibangun di atas mayat orang."
"Jangan disimpulin dulu," kata Bayu, meski pertanyaan yang sama menggerogotinya. "Aku belum tahu apa-apa soal ban Bapak. Cuma satu hal yang aku yakin: aku nggak akan berhenti sampai aku tahu."
"Kalau kamu tahu," kata Reno, mengulang janjinya dari kantor, "aku mau tahu juga."
"Hari Minggu," kata Reno akhirnya, menegakkan badan. "Kandangku. Tribun bakal teriakin namaku, benci kamu. Aku nggak akan ngalah. Aku mau ngalahin kamu karena aku lebih cepat. Beneran lebih cepat, kali ini. Tanpa tangan kotor di belakang." Ia mengulurkan tangan. "Tapi aku nggak akan main kayak Papa. Itu janjiku. Kamu start, kamu pulang utuh. Sumpah."
Bayu menatap tangan itu sejenak. Lalu menjabatnya. Erat. Jabat tangan dua orang yang besok akan saling mengalahkan, tapi malam ini sepakat soal satu hal: ada garis yang tidak akan mereka lewati.
"Lebih cepat," kata Bayu. "Kita lihat."
Reno tersenyum miring — senyum lama yang sombong, tapi kali ini tanpa racun di dalamnya. Ia masuk ke mobil hitamnya, menyalakan mesin yang meraung halus, dan menghilang di tikungan jalan basah.
Bayu berdiri sendiri di parkiran. Hujan membasahi bahunya, tapi ia tidak bergerak. Ada sesuatu yang berubah malam ini, dan ia belum tahu apakah itu untuk lebih baik atau lebih buruk. Yang ia tahu: untuk pertama kalinya, ia tidak sendiri menghadapi nama Wijaya.
Di kamar hotel, Pak Gun sudah tertidur di kursi dengan catatan setelan PR-09 di pangkuan. Sekar mengirim pesan: bank kirim surat lagi, tapi jangan dipikir sekarang, fokus balapan. Bu Marni mengirim satu kalimat yang selalu sama: pulang utuh, Nak.
Bayu menatap langit-langit hotel yang retak. Besok pagi, kualifikasi. Lusa, balapan di kandang lawan. Ia memejamkan mata dan, untuk pertama kalinya sejak konfrontasi di lantai delapan belas, ia merasa garis start sudah tergambar jelas di depannya.