Surat itu datang Senin pagi, diantar kurir bank dengan amplop cokelat resmi yang membuat Bu Marni langsung pucat sebelum membukanya.
Bayu sedang di garasi mengkalibrasi rem bersama Dimas saat ibunya berjalan masuk, kertas itu di tangan, langkahnya goyah. Ia menyerahkannya tanpa kata.
Bayu membacanya. Lalu membacanya lagi, lebih lambat, berharap ia salah baca.
"Mereka mempercepat tenggat," katanya akhirnya, suaranya tercekat. "Dari akhir musim... jadi enam minggu dari sekarang."
Pak Gun mengambil surat itu, membaca lewat kacamatanya. "Klausul percepatan," gumamnya. "Bank punya hak mempercepat penagihan kalau mereka nilai risiko gagal bayar naik. Kemungkinan mereka lihat tim ini mulai keluar uang lagi buat balapan—biaya transport, sewa sirkuit, hotel. Mereka pikir kita ngabisin sisa aset, bukan nambah." Ia melepas kacamata, memijat pangkal hidungnya. "Ironis. Kita naik klasemen, mereka malah panik kita boros."
Enam minggu. Bayu menghitung cepat di kepalanya. Seri ketiga ada dalam tiga minggu. Seri keempat sebulan lagi. Seri kelima—final yang menentukan—di luar jangkauan enam minggu itu. Sponsor Lintas Jaya baru cair di akhir musim, setelah seri kelima, kalau mereka finis sepuluh besar.
Artinya, bahkan kalau semuanya berjalan sempurna, uang penyelamat itu datang terlambat. Rumah akan disita sebelum mereka sempat membuktikan apa pun.
Bu Marni duduk di bangku kerja, tangannya menutup wajah. "Ibu yang harusnya jaga ini," bisiknya. "Bapakmu titipkan rumah ini, bengkel ini, sama Ibu. Dan Ibu malah—"
"Bu." Bayu berlutut di depannya, menggenggam tangannya, persis seperti tiga bulan lalu saat semua ini bermula. "Ini bukan salah Ibu. Utang ini dari investasi Bapak buat tim, dari sebelum Bapak meninggal. Ibu nggak buat utang ini. Ibu cuma yang ditinggalin nanggung."
Sekar masuk, mendengar bagian terakhir, langsung mengerti dari wajah-wajah di ruangan itu. Ia mengambil surat, membacanya, dan rahangnya mengeras dengan cara yang mirip sekali dengan kakaknya.
"Enam minggu," katanya. "Berapa yang harus kita bayar biar nggak disita?"
Pak Gun menjawab pelan. "Mereka nggak minta lunas. Mereka minta pembayaran sebagian, tanda itikad baik, biar penyitaan ditunda sampai akhir musim. Di surat tertulis..." Ia menunjuk satu baris. "Seratus juta. Dalam enam minggu. Kalau itu masuk, mereka tunda sampai musim selesai. Kalau nggak, penilaian aset jalan terus."
Seratus juta. Dalam enam minggu. Bayu menelan. Hadiah finis P5 dan P3 hampir habis untuk biaya operasional dua seri berikutnya. Kas tim, sekali lagi, tipis.
"Aku akan cari pinjaman," kata Bayu.
"Bank mana yang mau minjemin tim balap sekarat?" Sekar menggeleng. "Mas, kita udah di ujung. Nggak ada bank yang—"
"Bukan bank." Bayu berdiri, menatap mobil ayahnya. Otaknya bekerja cepat, dingin, mencari celah seperti mencari garis balap di tikungan buta. "Pak Gun. Di luar Kejurnas, masih ada event balap, kan? Balap berhadiah. Eksibisi, time attack, balap independen."
Pak Gun menatapnya curiga. "Ada. Tapi—"
"Berapa hadiahnya?"
"Tergantung. Yang resmi kecil. Yang besar..." Pak Gun ragu, dan ekspresinya berubah, seperti tidak suka ke mana arah ini. "Yang hadiahnya besar itu yang nggak resmi, Mas. Balap liar yang dikemas eksibisi. Penonton bayar, taruhan jalan di belakang layar. Hadiahnya bisa puluhan juta sekali menang. Tapi itu bukan dunia kita. Itu dunia tanpa steward, tanpa marshal, tanpa aturan keselamatan."
Ruangan itu hening. Bu Marni mengangkat wajah, matanya tajam ketakutan. "Bayu. Jangan."
Bayu tidak menjawab langsung. Ia menatap angka di surat bank itu. Seratus juta. Enam minggu. Lalu ia menatap ibunya, adiknya, mekanik-mekanik tua yang bekerja gratis demi nama ayahnya, rumah yang akan dijual ke orang yang tidak peduli.
"Aku nggak bilang aku akan ikut," kata Bayu pelan. "Aku cuma bilang... aku perlu tahu semua pilihan yang ada. Sama seperti soal ban dulu. Kita timbang dengan data. Baru kita putuskan."
Tapi di dalam dadanya, Bayu sudah tahu. Ia melihat jalan keluar itu, gelap dan berbahaya, dan ia tahu ia akan menyusurinya kalau memang tak ada jalan lain. Karena ada hal-hal yang tidak bisa dibayar dengan harga diri, dan rumah ibunya adalah salah satunya.