Ruang steward di belakang menara kontrol sirkuit itu sempit, ber-AC terlalu dingin, dan berbau kopi instan. Bayu duduk di satu sisi meja panjang, masih mengenakan wearpack yang berkeringat, helm di pangkuan. Pak Gun di sampingnya, tenang seperti biasa, tapi rahangnya mengeras. Di seberang meja duduk tiga panitia steward—dan di ujung, Adit, dengan map tebal dan laptop terbuka.
Reno Wijaya masuk paling akhir, ditemani seorang pria berjas yang jelas pengacara tim. Reno tidak melihat ke arah Bayu. Ia duduk, melepas sarung tangan satu per satu dengan tenang, seolah ini cuma formalitas yang mengganggu jadwalnya.
"Kita mulai," kata steward kepala, perempuan paruh baya bersuara datar. "Insiden lap tiga puluh tujuh, keluar Tikungan Empat. Mobil nomor tujuh, Reno Wijaya, dituduh melakukan kontak yang memaksa mobil nomor sembilan, Bayu Prakoso, keluar lintasan. Protes diajukan tim Prakoso. Kita lihat rekamannya."
Adit memutar video di layar dinding. Dari kamera onboard mobil Bayu, semuanya jelas: PR-09 sudah setengah bodi di depan saat keluar tikungan. Lalu mobil putih-emas Reno datang dari dalam, tidak mengangkat gas, dan menyenggol roda belakang kiri Bayu. PR-09 melintir ke kerikil, kehilangan empat posisi, nyaris menghantam pembatas beton.
Ruangan hening. Bayu merasakan tangannya berkeringat di atas helm. Bukan ketakutan—kemarahan yang ditahan.
"Itu balapan biasa," kata pengacara Reno cepat. "Dua mobil berebut garis. Kontak ringan. Risiko balap."
"Ringan?" Pak Gun bicara untuk pertama kalinya, suaranya rendah tapi tajam. "Putar lagi yang frame terakhir. Lihat setir mobil tujuh. Dia nggak coba menghindar. Dia malah belok masuk."
Steward kepala memberi isyarat. Adit memundurkan video, memperlambatnya. Dan benar—di frame sebelum kontak, setir Reno bergerak ke dalam, ke arah Bayu, bukan menjauh.
Reno akhirnya bicara, suaranya tenang dan dingin. "Saya nggak lihat dia. Blind spot."
"Kamu lihat saya, Reno," kata Bayu pelan. Pertama kali ia bersuara di ruangan itu. Semua mata menoleh padanya. "Aku setengah mobil di depan kamu. Kamu lihat helm aku di spion kamu. Kamu pilih masuk."
Mata mereka bertemu di seberang meja. Untuk sepersekian detik, sesuatu melintas di wajah Reno—bukan penyesalan, tapi pengakuan. Lalu ia memalingkan pandang.
Steward berunding pelan, kepala saling mendekat. Adit melirik Bayu sekilas, ekspresinya sulit dibaca. Setelah beberapa menit, steward kepala menegakkan punggung.
"Keputusan. Mobil nomor tujuh terbukti melakukan kontak yang dapat dihindari. Penalti: penambahan lima detik pada waktu finis balapan ini, dan satu poin penalti lisensi." Ia menutup map. "Sidang selesai."
Lima detik. Bayu menahan dengusan. Reno finis cukup jauh di depan; lima detik tidak mengubah posisinya sama sekali. Satu poin lisensi pun hanya akan jadi masalah kalau Reno mengumpulkan banyak. Ini hukuman yang ditulis untuk tidak menyakiti.
Di luar ruangan, di koridor menara kontrol, Pak Gun menggeram. "Lima detik. Mereka tahu itu nggak ngaruh ke dia. Uang Wijaya bicara, Mas. Bahkan di ruang steward."
"Aku tahu," kata Bayu. Tapi ia tidak semarah yang ia kira. Ia menatap punggung Reno yang menjauh bersama pengacaranya. "Tapi semua orang di ruangan itu lihat rekamannya, Pak. Mereka tahu apa yang Reno lakuin. Penalti boleh ringan. Tapi reputasi dia retak hari ini."
Adit menyusul keluar, berdiri di samping mereka, menurunkan suara. "Off the record, Mas Bayu. Saya juga nggak puas sama keputusan tadi. Tapi steward butuh bukti niat, dan video itu... ambigu di mata mereka." Ia ragu. "Hati-hati. Tim Wijaya nggak suka kalah, bahkan urusan kecil. Kalau kamu mulai jadi ancaman beneran di klasemen, mereka nggak akan main di lintasan aja."
Kalimat itu menggantung di udara dingin koridor. Bayu menatap Adit. "Maksud kamu apa?"
Adit hanya menepuk bahunya dan pergi, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab. Pak Gun dan Bayu bertukar pandang. Di luar, melalui kaca menara, mereka bisa melihat truk transporter raksasa tim Wijaya, belasan kru berseragam, dan di antara mereka, sosok yang tidak pernah turun ke pit tim manapun—pria berambut perak, berjas mahal, mengawasi semuanya dengan tangan di saku.
"Itu ayahnya Reno," gumam Pak Gun. "Pemilik Wijaya Group. Dia jarang datang ke seri tengah musim."
Bayu menatap pria itu lama. Dan untuk pertama kali sejak musim dimulai, ia merasa bahwa rival sebenarnya mungkin bukan pemuda dua puluh empat tahun di balik kemudi—tapi sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih dingin yang berdiri di balik kaca.