Tawaran itu datang lewat amplop tebal, bukan telepon.
Seorang utusan berjas mengantarnya ke garasi sendiri, menyerahkannya ke tangan Bayu dengan senyum yang terlalu rapi, lalu pergi tanpa menunggu jawaban. Di dalamnya: kop surat sebuah tim besar Kejurnas — bukan Wijaya, tapi salah satu rival papan atas mereka — dan sebuah penawaran yang membuat tangan Bayu sedikit dingin saat membacanya.
Kursi pembalap. Musim depan. Gaji tetap. Mobil yang menang. Dan angka di bawahnya cukup, lebih dari cukup, untuk—
"Itu hampir nutup utang kita," kata Sekar pelan, membaca dari balik bahunya. Suaranya tercekat. "Mas. Satu musim gaji kamu di tim itu... hampir nutup lima ratus delapan puluh juta."
Garasi terasa berbeda setelah itu. Lebih sunyi. Bayu meletakkan surat itu di meja kerja, di antara kunci-kunci dan catatan tangan ayahnya, dan tidak ada yang menyentuhnya selama dua hari.
Karena tawaran itu masuk akal. Itulah yang menyiksa. Bukan tawaran jahat, bukan jebakan. Tawaran tulus dari tim yang melihat klip wawancaranya dan podium hujannya dan memutuskan: anak ini berbakat, kami mau dia. Bila Bayu menerima, utang nyaris lunas. Rumah aman. Bu Marni tak perlu lagi membuka surat bank dengan tangan gemetar. Dan ia akan menyetir mobil yang benar-benar bisa menang, bukan PR-09 tua yang kalah top speed di setiap lurus.
Yang harus ia korbankan hanyalah... ini. Semua ini.
"Ambil," kata Pak Gun, mengejutkannya, pada malam kedua.
Bayu mendongak. "Apa?"
"Saya bilang ambil." Pak Gun tidak menatapnya. Ia sedang mengelap kunci pas yang sudah bersih, gerakan tangannya pelan, tua. "Itu uang yang nyelametin rumah kalian. Nyelametin ibumu. Bapakmu nggak bakal mau kamu nolak itu cuma demi mobil tua dan tiga orang kakek-kakek di garasi."
"Pak Gun—"
"Saya serius, Bayu." Sekarang ia menatap, dan mata tuanya keras. "Saya udah lihat satu Prakoso mati demi tim ini. Saya nggak mau lihat keluarganya kehilangan rumah demi tim ini juga. Kalau kamu ambil tawaran itu, kami semua ngerti. Saya yang paling ngerti."
Bayu berdiri dan berjalan ke PR-09. Ia meletakkan tangan di bodi biru pudar itu, merasakan dingin logamnya. Di kokpit, tulisan kecil ayahnya. Di kap mesin, hasil kerja Pak Heru dan Dimas berminggu-minggu tanpa upah. Di pinggir bodi, logo Adikarya — taruhan reputasi Bu Ratih.
"Kalau saya pergi," katanya pelan, "tim ini bubar."
Pak Gun tidak menyangkal.
"Lisensi hangus akhir musim ini kalau saya nggak nyelesaiin. Sponsor Lintas Jaya batal. Bu Ratih kehilangan bukti bannya. Dimas, Pak Heru, kalian semua—" Bayu menelan. "Saya ambil uangnya, saya nyelametin rumah saya. Tapi saya ngubur tim Bapak buat kedua kalinya. Kali ini pakai tangan saya sendiri."
"Rumah lebih penting dari tim," kata Pak Gun, tapi suaranya sudah kehilangan keyakinannya.
"Buat saya, rumah itu termasuk tim ini." Bayu berbalik. "Bapak mati buat ini, Pak Gun. Bukan biar saya jual diri ke tim lain pas tim ini akhirnya mulai hidup lagi. Kalau saya pergi sekarang — pas kita udah P3, pas orang mulai inget nama Prakoso lagi — saya bukan nyelametin keluarga. Saya kabur. Lagi."
Kata itu — kabur — menggantung di antara mereka. Itu kata yang dipakai Reno di gerbang sirkuit gokart berbulan lalu. *Anak Pak Hardian yang kabur dari balap.* Bayu sudah menghabiskan seluruh musim ini untuk menghapusnya.
Pak Gun memejamkan mata sebentar. Lalu, perlahan, sesuatu di bahunya yang tua melonggar. "Ibumu harus tahu soal tawaran ini," katanya akhirnya. "Keputusan ini bukan cuma punya kamu."
Bayu mengangguk. "Saya tahu."
Malam berikutnya ia menelepon rumah. Ia menceritakan semuanya pada Bu Marni — angkanya, utangnya, apa artinya menerima, apa artinya menolak. Ia menawarkan jalan keluar yang aman pada ibunya, dan menahan napas.
Hening lama di ujung telepon. Lalu suara Bu Marni, tenang, dengan beban bertahun di baliknya:
"Bayu. Bapakmu pernah ditawarin hal yang sama. Dua puluh tahun lalu. Tim besar, gaji besar, mobil menang. Dia tolak. Aku marah waktu itu — kita lagi susah, dan dia tolak uang demi mobil rakitannya sendiri." Ibunya berhenti. "Aku nyesel marah, Nak. Sampai sekarang. Karena dia bilang satu hal yang aku baru ngerti pelan-pelan: 'Kalau aku menang pakai mobil orang lain, yang menang bukan aku. Aku cuma sopirnya.'"
Bayu menutup mata.
"Rumah ini," lanjut Bu Marni, "udah lima tahun cuma tembok dan kenangan. Kamu yang bikin dia hidup lagi. Kalau jalan buat nyelametin rumah ini malah ngosongin isinya — buat apa rumahnya selamat?" Suaranya melembut. "Aku cuma minta satu hal dari dulu, dan masih sama. Pulang utuh. Itu aja. Soal uang... kita cari jalan lain. Kita Prakoso. Kita selalu kalah dana dan nggak pernah kalah jalan."
Pagi harinya, Bayu menulis surat penolakan dengan tangannya sendiri. Singkat, sopan, berterima kasih. Lalu ia menaruhnya di amplop, dan menaruh amplop itu di tangan Sekar untuk dikirim.
"Yakin?" tanya Sekar.
Bayu menatap PR-09 di bawah lampu pagi. "Nggak," katanya jujur, lalu tersenyum tipis. "Tapi saya jalan terus."