Hujan mengubah segalanya, dan Bayu mulai mengerti aturan barunya.
Di lintasan kering, garis balap adalah satu pita sempit yang dilewati semua mobil — di situlah grip terbaik. Tapi di lintasan basah, garis itu justru jadi yang paling berbahaya. Karet dan oli yang tertinggal dari ratusan lap membuatnya licin seperti es ketika tercampur air. Grip sejati ada di tempat yang tak terduga: di pinggir, di luar garis kering, di aspal kasar yang biasanya dihindari.
"Setir saya yang ngajarin," kata Bayu di radio, melewati Tikungan Empat dengan mengambil garis yang aneh, jauh ke pinggir. "Tiap kali saya geser keluar dari garis kering, tekanan ban naik dikit. Lebih nggigit. Saya rasain di angkanya sebelum saya rasain di tangan."
"Terus ikutin angkanya," kata Pak Gun. "Mobil lain nyetir pakai feeling. Feeling bohong di hujan. Kamu nyetir pakai data."
Lap demi lap, Bayu memetakan lintasan basah seperti membaca peta yang hanya ia miliki. Di mana genangan menebal di Tikungan Sembilan — ia menghindarinya satu meter ke dalam. Di mana aspal mulai mengering di garis lurus pendek setelah pit — ia berani membuka gas lebih awal. Sensornya menjadi mata keenam, memberitahunya saat ban mulai kehilangan suhu di sektor lambat, saat ia harus sedikit menggesek rem untuk menghangatkannya kembali.
Mobil di depannya — sebuah tim papan tengah — menyetir defensif, takut, mengerem terlalu jauh sebelum tikungan karena tidak tahu di mana grip-nya. Bayu mengikutinya selama dua lap, mempelajari, menunggu. Di lap berikutnya, di luar Tikungan Enam, ia melihat angka di setirnya melonjak hijau terang — ban panas, menggigit penuh, momen sempurna. Ia membuka gas seperempat detik lebih awal dari yang berani dilakukan siapa pun, melebar ke aspal kasar di pinggir, dan menyalip di luar.
P13.
"Bersih," lapor Dimas dari pit, mengawasi telemetri. "Dia nggak ngambil risiko bodoh. Tiap susulan ada datanya."
Pak Heru, yang berdiri di belakang Pak Gun, hanya mengangguk pelan. "Anak itu lagi nyetir kayak insinyur."
P13 jadi P12 dua lap kemudian, saat mobil lain melebar di genangan yang sudah Bayu hindari sejak sepuluh lap lalu. Lalu P11. Setiap susulan terasa hampir tidak dramatis — tidak ada manuver berani roda-ke-roda, tidak ada rem terlambat yang nekat. Hanya seorang pembalap yang tahu persis di mana lintasan akan memberi dan di mana ia akan mengkhianati, sementara dua puluh mobil lain menebak-nebak dalam kabut.
Di tengah lurus panjang yang dulu jadi musuh terbesarnya, Bayu hampir tertawa di balik helm. Top speed tak berarti apa-apa sekarang. Mobil-mobil cepat itu tak berani membuka gas penuh di genangan; tenaga besar mereka justru jadi beban, roda yang terlalu kuat berputar sia-sia di air. PR-09 yang lambat tapi penurut, dengan ban yang berbicara, justru jadi senjata.
Hujan mulai mereda di lap kelima belas. Aspal perlahan menampakkan garis-garis kering. Dan di situ Bayu menghadapi keputusan pertama yang sungguh sulit: bertahan di ban slick yang basah, atau mempertahankan rencana semalam.
"Pak," katanya, "aspal mulai kering di sektor satu. Ban saya masih bagus suhunya, tapi kalau makin kering, ban kering bakal lebih cepat."
Hening sejenak di radio. Bayu bisa membayangkan Pak Gun, Bu Ratih, dan Dimas berhimpun di atas layar, menghitung.
"Tahan," akhirnya Pak Gun memutuskan. "Hujan ini belum selesai. Awan di balik bukit masih tebal, Dimas baca radar. Kalau kamu pit sekarang buat ban kering, terus hujan turun lagi, kamu mati. Tetap di rencana satu stop. Ban kamu, kamu yang baca. Percaya sama angkanya."
Bayu menelan keputusan itu. Bertahan berarti melawan godaan — beberapa tim sudah masuk pit, berjudi pada lintasan kering. Bila mereka benar, mereka akan terbang. Bila salah, mereka akan terjebak.
Ia melihat dua mobil melesat keluar pit dengan ban kering, langsung lebih cepat di garis lurus yang mengering. Hatinya menciut sebentar. Lalu, di Tikungan Tujuh sektor itu — bukan Tikungan Tujuh Sentul, tapi tikungan ketujuh sirkuit ini, yang masih tergenang di apex-nya — salah satu mobil ban kering itu kehilangan cengkeraman total dan melintir ke gravel.
Judi yang kalah.
"Kamu lihat itu?" suara Pak Gun, pelan dan puas. "Itu kenapa kita nggak nebak."
Bayu lewat tikungan basah itu dengan halus, garis yang sudah ia hafal, dan naik satu posisi lagi.
P10.
Untuk pertama kalinya di seri kedua, tim sekarat Prakoso ada di sepuluh besar — di lintasan yang menurut semua orang tidak akan pernah cocok untuk mereka.
Dan hujan, seperti yang dijanjikan radar Dimas, mulai turun lagi.