Sirkuit seri kedua bukan Sentul. Lintasannya panjang, lurusnya seperti tak ada habisnya, dan di ujung lurus itu mobil-mobil bertenaga besar melesat seperti dilempar.
Bayu merasakannya sejak lap pertama latihan bebas. PR-09 bagus di tikungan — rakitan Hardian membuatnya lincah, mau diajak menggigit apex. Tapi di lurus panjang, mobil tua itu seperti kehabisan napas. Jarum putaran mesin sudah mentok, dan mobil-mobil lain tetap menjauh.
"Top speed kita kurang sembilan kilometer per jam dari papan tengah," kata Dimas, mata tak lepas dari layar. "Mesin udah maksimal. Ini soal aerodinamika dan rasio gigi yang nggak bisa kita ubah banyak tanpa dana."
Pak Heru menyeka tangan dengan lap. "Sasis sehat. Tapi sehat nggak bikin lurus jadi pendek."
Bayu turun dari kokpit, helm masih di kepala. Keringat menetes dari dagunya ke aspal. "Berarti tiap lap saya kehilangan waktu di tempat yang nggak bisa saya lawan."
"Kamu balikin di tikungan," kata Pak Gun pelan. "Tapi—"
"Tapi nggak cukup." Bayu menyelesaikan kalimat itu sendiri.
Kualifikasi sore harinya membuktikan semua kekhawatiran. Bayu menyetir bersih, tanpa kesalahan, melewati setiap tikungan dengan garis yang nyaris sempurna. Sensor ban Adikarya menyala stabil di setir, suhu terjaga. Ia memeras PR-09 sampai batas terakhir.
Hasilnya: posisi 16 dari 22.
Angka itu terasa seperti tamparan. Di Sentul ia P12. Sekarang, dengan menyetir lebih baik, lebih berani, lebih bersih — ia justru lebih ke belakang.
Bayu memarkir mobil di pit dan duduk diam beberapa saat. Lalu ia mencabut helm dan melemparnya ke jok dengan kasar.
"P16," katanya, suara tercekat. "Saya nggak bikin satu kesalahan pun, Pak. Satu pun nggak. Dan saya tetap di barisan kedelapan."
Sekar yang baru datang dari paddock berhenti di mulut pit, tak berani masuk.
Pak Gun tidak langsung menjawab. Ia mengambil kursi lipat, menyeretnya, lalu duduk di samping Bayu. "Bapakmu pernah di trek ini," katanya akhirnya. "Tahun keempat tim. Mobilnya juga kalah lurus. Tahu dia kualifikasi di mana?"
Bayu menggeleng.
"P18." Pak Gun tersenyum tipis. "Dan dia finis P7. Bukan karena mobilnya jadi cepat. Karena dia paham: di trek yang nggak bersahabat, kamu nggak menang dari kecepatan. Kamu menang dari sabar."
"Sabar nggak nambah sembilan kilometer."
"Nggak. Tapi sabar bikin orang lain bikin kesalahan, dan kamu yang ambil." Pak Gun menepuk lutut Bayu sekali, lalu berdiri. "Reno start P2. Dia bakal ngebut habis-habisan di lurus, paksa bannya. Mobil cepat boros, Bayu. Kamu lambat tapi awet."
Malam itu di hotel murah dekat sirkuit, Bayu tak bisa tidur. Ia membuka map lusuh berisi catatan tangan Hardian yang ia temukan minggu lalu — kertas-kertas penuh angka setelan, coretan, dan di pinggir salah satu halaman, tulisan ayahnya: *"Mobil lambat menang kalau pengemudinya berpikir, bukan cuma menginjak."*
Ia menatap kalimat itu lama.
Sekar mengetuk pintu, membawa dua gelas teh. "Bu Ratih dan Pak Gun masih di lobi," katanya. "Mereka manggil. Katanya ada cara buat besok."
"Cara apa?"
Sekar mengangkat bahu. "Aku nggak ngerti semua. Tapi Pak Gun nyebut soal ban. Dan Bu Ratih senyum waktu nyebut itu — kamu tahu senyum dia, yang kayak udah ketemu jawaban."
Bayu menutup map. Untuk pertama kali sejak kualifikasi, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Kalah cepat bukan akhir. Mungkin justru di sinilah keunggulan satu-satunya tim sekarat ini bisa bicara.
Ia mengikuti Sekar turun ke lobi. Di meja sudut, Bu Ratih sudah menggelar selembar grafik suhu ban, dan Pak Gun mencondongkan badan ke depan dengan mata yang sudah lama tidak seberapi itu.
"Duduk," kata Pak Gun. "Kita nggak bisa bikin mobilmu lebih cepat. Tapi kita bisa bikin lawanmu berhenti lebih sering dari kamu."