Pit lane meluncur masuk ke samping. Bayu menurunkan gigi, menahan batas kecepatan pit, dan melihat empat sosok kru kecilnya berdiri di kotak garasi—Pak Gun, Pak Heru, Dimas, dan satu mekanik bayaran harian yang mereka sewa untuk hari itu. Bukan kru megah dengan dua puluh orang seragam mengilap. Empat orang. Mereka semua yang dimiliki tim Prakoso.
Mobil berhenti tepat di tanda. Dongkrak naik. Empat tangan bekerja pada empat roda. Pak Heru sendiri yang menangani kanan depan, roda yang membawa angka kritis sepanjang balapan, dan Bayu melihat lelaki tua itu menatap permukaan ban lama sebelum melemparnya—membaca keausan seperti dokter membaca luka.
"Rata," teriak Pak Heru di atas raungan pit lane. "Aus rata. Nggak ada yang gosong."
Ban Adikarya melewati tiga puluh lima lap tanpa satu titik leleh. Bukti yang lebih keras dari janji mana pun.
Dongkrak turun. "Go, go, go!" Bayu melepas kopling dan PR-09 menyentak keluar dari kotak, kembali ke lintasan. Pit stop mereka tidak secepat tim besar—mungkin dua detik lebih lama—tapi cukup cepat. Cukup.
"Kamu keluar di P6," lapor Pak Gun. "Tapi semua orang udah ganti ban sekarang, jadi ini lapangan adil. Lima belas lap tersisa. Ban kamu baru. Sekarang, Nak—sekarang kamu boleh lari."
Untuk pertama kali sepanjang balapan, Bayu melepas rem mentalnya bersama rem fisiknya. Ban baru menggigit aspal dengan grip yang membuatnya hampir tertawa. Ia menyerang.
Mobil di depannya tumbuh besar di kaca. Lap demi lap ia menutup jarak, menggunakan semua yang Pak Gun ajarkan di garasi gokart, di Sentul yang sepi, di malam-malam membaca data. Ia menyalip nomor 14 di Tikungan Satu, bersih, roda ke roda lalu lepas. P5.
"Suhu?"
"Lima enam, naik pelan." Bayu menyeringai di dalam helm. "Tapi dia ngomong sama saya, Pak. Ban ini ngomong. Dia bilang masih ada."
"Ban yang baik nggak mati tiba-tiba," kata Pak Gun, mengulang kalimat yang sudah jadi doa di tim ini. "Dia kasih waktu. Pakai waktunya, jangan diborosin."
Lima lap terakhir adalah lima lap terbersih yang pernah Bayu jalani. Ia tidak menyalip siapa-siapa lagi—empat mobil di depannya punya tenaga mesin lebih dan jarak terlalu jauh untuk dikejar dengan PR-09 yang tua. Tapi ia tidak perlu. Posisi kelima sudah aman, dijaga seperti harta, dengan ban yang ia baca setiap tikungan dan kaki yang ia ukur setiap pengereman.
Tikungan Tujuh, sekali lagi. Lap empat puluh sembilan. Bayu masuk full throttle, mata ke apex, dada menegang lalu mengendur seperti yang sudah ia lakukan puluhan kali hari ini. Roda kanan depan melewati titik tempat ayahnya mati lima tahun lalu, dan ban itu tidak mengkhianatinya. Ia keluar utuh, lurus, melaju.
Lap lima puluh. Garis start-finish terakhir.
"Lap terakhir, Bayu. Bawa pulang." Suara Pak Gun pecah. "Bawa dia pulang utuh."
Bendera kotak-kotak berkibar saat hidung biru pudar PR-09 melintasi garis. P5. Posisi lima. Dari dua puluh dua mobil. Tim yang dua bulan lalu tidak punya pembalap, tidak punya dana, dan mobil di bawah terpal abu-abu—finis lima besar di seri pertama Kejurnas.
Radio meledak. Dimas berteriak entah apa, Pak Heru tertawa serak, dan di antara semua itu Bayu mendengar Pak Gun, suaranya tua dan basah, mengucapkan satu nama yang tidak ada di pit hari itu.
"Hardian," kata Pak Gun pelan, seperti pada angin. "Anakmu pulang."
Bayu mengangkat satu tangan dari setir, jari mengepal lemah, dan melaju pelan di lap pendinginan. Air matanya jatuh di dalam helm dan ia membiarkannya. Lima tahun ia lari dari suara mesin ini. Hari ini suara mesin itu membawanya ke garis finis.
Di paddock, ketika ia akhirnya melepas helm, rambutnya basah keringat dan matanya merah, empat orang krunya berdiri menunggunya. Pak Gun memeluknya tanpa kata. Dimas menepuk-nepuk punggungnya sampai sakit. Pak Heru, lelaki yang jarang bicara, hanya berkata: "Bapakmu bangga, Nak."
Bukan menang. Mereka tidak menang—pemenang hari itu adalah mobil bermesin lebih besar, tim bermodal lebih tebal. Tapi P5 membawa poin. Poin pertama tim Prakoso sejak era Hardian. Angka di klasemen, sekecil apa pun, berarti tim ini bukan lelucon lagi. Berarti perjalanan menuju sepuluh besar musim—satu-satunya jalan agar rumah dan bengkel tidak disita—baru saja dimulai dengan nyata.
Bayu menatap papan klasemen sementara yang dipasang panitia. Namanya di sana. PRAKOSO. Untuk pertama kali dalam lima tahun, melihat nama itu tidak membuatnya ingin lari.