Pagi balapan, langit Sentul mendung tipis—tidak hujan, tapi cukup untuk membuat suhu aspal tak terduga. Pak Gun memantau termometer trek dengan cemas.
"Aspal naik turun," lapornya. "Sekarang lima puluh dua. Tapi kalau matahari nembus awan, bisa lompat ke enam puluh dalam sepuluh menit. Kamu pantau sensor ban terus, Bayu. Tiap lap. Jangan sampai lengah."
Bayu mengangguk, mengencangkan sarung tangan. Di dadanya, nama PRAKOSO tersulam di jaket ayahnya, yang ia kenakan di balik wearpack.
Dua puluh dua mobil berbaris di grid. Bayu di posisi dua belas, baris keenam. Jauh di depan, Reno Wijaya di pole, mobil putih-emasnya berkilau. Mesin-mesin meraung, panas membayang di atas aspal, dan kerumunan tribun menahan napas.
Lampu start menyala. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima merah.
Bayu menatap lampu, kakinya menahan kopling, putaran mesin di titik sempurna seperti yang dilatih Pak Gun ribuan kali di kepalanya.
Lampu padam.
Dua puluh dua mobil melesat bersamaan dalam ledakan suara dan asap. Bayu melepas kopling pada momen tepat—PR-09 melompat maju, dan dalam tiga ratus meter pertama ia menyalip dua mobil. Posisi sepuluh. Tikungan Satu menjadi kekacauan ban berdesakan, asap, dan logam yang nyaris bersentuhan. Bayu menahan garisnya, sabar, dan keluar dari tikungan di posisi sembilan.
"Bagus! Bagus!" teriak Pak Gun di radio. "Sabar, balapan masih panjang. Jaga ban!"
Lap demi lap berlalu. Bayu membaca sensornya seperti membaca napas sendiri. Ia tidak mengejar gila-gilaan; ia menjaga ritme, mengintai, menunggu. Pembalap di depannya mulai melemah, ban mereka aus karena memaksa terlalu awal. Di lap kesepuluh, Bayu menyalip lagi. Posisi delapan. Lalu tujuh.
Di pit, Sekar mencengkeram lengan ibunya. "Mas Bayu posisi tujuh, Bu! Tujuh!"
Tapi kemudian matahari menembus awan.
Pak Gun melihat termometer melonjak dan jantungnya mencelos. "Bayu, aspal naik cepat! Lima puluh enam... lima puluh delapan! Pantau ban kanan depan, itu yang paling kerja keras di sirkuit ini!"
Bayu melirik layar. Tiga ban di zona hijau. Tapi kanan depan—angkanya merangkak naik. Lima puluh sembilan. Enam puluh satu. Mendekati ambang batas yang Pak Gun tetapkan dalam tes.
Persis suhu yang membunuh ayahnya.
Untuk sesaat, teror lama mencengkeram tenggorokan Bayu. Memori Tikungan Tujuh, suara radio, ban yang pecah. Tangannya mulai mengencang di setir.
Lalu ia mendengar suara Pak Gun, tenang, tegas, nyata di telinganya. "Kamu nggak buta, Bayu. Kamu lihat datanya. Ban masih ngasih peringatan, belum gagal. Ini bukan lima tahun lalu. Kamu punya yang Bapakmu nggak punya. Lapor ke aku, kita atur."
Bayu menelan teror itu. Ia bukan ayahnya. Ini bukan ban itu. Ia punya mata, punya data, punya peringatan.
"Kanan depan enam puluh dua dan naik," lapor Bayu, suaranya mantap. "Saya turunin pace atau pit?"
Hening sepersekian detik di radio. Di pit, Pak Gun menatap layar strategi, menghitung cepat: jarak ke pembalap di belakang, sisa lap, waktu pit stop. Keputusan ini bisa menyelamatkan balapan—atau membuang segalanya.
Di depan, di Tikungan Tujuh yang sama, mobil Reno Wijaya tiba-tiba oleng. Asap putih mengepul dari roda kanan depannya. Ban Reno—ban mahal tanpa sensor—mulai gagal di suhu yang sama, dan ia tidak tahu sampai terlambat.
"PAK GUN!" teriak Bayu di radio, melihat mobil pole leader itu melintir tepat di depannya, di tikungan tempat ayahnya mati. "RENO HILANG KENDALI DI TIKUNGAN TUJUH—"
Dan radio jatuh sunyi.