Kemarau datang seperti binatang yang lapar dan tak kenal ampun. Langit memutih, kehilangan warnanya, dan matahari menggantung tak bergerak sepanjang hari, memanggang tanah Bukit 88 sampai retak-retak seperti kulit tua. Air menjadi mata uang yang lebih berharga dari peluru. Setiap tetes diukur, dijaga, diperebutkan dalam diam.
Bara membagi jatah air dengan ketelitian seorang apoteker, dan tetap saja tak pernah cukup. Bibir anak-anak pecah-pecah dan berdarah. Lidah mereka membengkak. Pada siang yang paling panas, mereka berbaring di dasar parit seperti ikan yang terdampar, menghemat setiap gerakan, karena bergerak berarti berkeringat dan berkeringat berarti kehilangan air yang tak bisa diganti.
Tapi bukan kehausan yang paling membunuh. Itu datang kemudian, lebih senyap, lebih licik.
Mulai dari satu prajurit yang mengeluh perutnya mulas. Lalu dua. Dalam tiga hari, separuh posisi terjangkit — disentri, kata Bidin dengan wajah masam, penyakit lama yang lebih ia takuti daripada serangan musuh mana pun. Penyakit itu menyerang dari dalam, mengurasnya, mengeringkan tubuh yang sudah kering, mengubah prajurit-prajurit muda yang gagah menjadi sosok-sosok kurus dan gemetar yang tak bisa menjauh dari parit jamban yang mereka gali di ujung posisi.
Lalat datang bersama panas, dalam awan tebal yang berdengung. Mereka hinggap di makanan, di luka, di bibir, di mata. Mereka berkembang biak di bangkai-bangkai yang masih terbaring di lereng dari pertempuran tiga hari itu — tubuh-tubuh yang tak bisa mereka kuburkan karena masih dalam jangkauan tembak, yang membengkak dan menghitam dan mengisi udara dengan bau manis-busuk yang menempel di kerongkongan dan tak mau pergi.
"Kita harus bakar bangkai-bangkai itu," kata Bara pada Surya, suaranya serak. "Atau kubur. Kalau tidak, penyakit ini akan membunuh kita lebih cepat dari musuh mana pun."
Surya, yang wajahnya kini lebih kurus, yang seragam rapinya kini ternoda dan lusuh seperti yang lain, mengangguk. Sesuatu telah berubah dalam dirinya selama minggu-minggu di bukit ini — perlahan, sedikit demi sedikit. Ia masih bicara soal prosedur, tapi ia mulai mendengarkan dulu sebelum memerintah. "Lakukan apa yang perlu," katanya. "Aku akan minta lebih banyak air ke belakang. Tapi sumur terdekat di garis kita kering, dan suplai air dari Kota Garda terlambat."
Mereka mengubur apa yang bisa dijangkau pada malam hari, merangkak di bawah gelap, dan membakar sisanya, dan asap hitam yang naik ke langit putih adalah sesuatu yang takkan pernah Bara lupakan. Tapi penyakit sudah telanjur masuk. Dan air tetap tak datang.
Hari-hari berikutnya menjadi pertempuran yang lebih lambat dan lebih kejam daripada yang pernah ia kenal. Tak ada musuh untuk dilawan, tak ada serangan untuk ditangkis — hanya panas yang tak henti, dan tubuh-tubuh yang perlahan menyerah. Bara membagi jatah air dengan tangannya sendiri, sebab ia tak mempercayai siapa pun lagi untuk adil saat sekarat kehausan; setengah cangkir per orang, diukur, ditatap dengan mata-mata yang lapar. Ia melihat anak-anak menjilat embun dari logam senapan di pagi hari. Ia melihat seorang prajurit menangis tanpa air mata karena tubuhnya sudah tak punya cukup air untuk menangis. Dan ia menyimpan jatahnya sendiri, diam-diam, untuk diberikan pada yang paling lemah, sampai bibirnya sendiri pecah-pecah dan kepalanya berdenyut sepanjang waktu. Inilah, ia mulai mengerti, wajah perang yang tak pernah masuk ke dalam lagu atau cerita: bukan keberanian, bukan kepahlawanan, hanya bertahan hidup melawan hal-hal yang tak punya wajah untuk dibenci.
Marsudi jatuh sakit pada hari kelima. Bara menemukannya meringkuk di sudut parit, gemetar walau udara panas membakar, kulitnya kering dan matanya cekung. "Aku nggak apa-apa, Bang," katanya, mencoba berdiri dan gagal. "Cuma capek."
"Kau tidak capek, kau sakit." Bara berlutut, menyentuh dahinya. Panas. "Dan kau akan istirahat sekarang. Itu perintah." Ia memberi anak itu sebagian dari jatah airnya sendiri, menahan dahaga sendiri, dan duduk bersamanya, mengusap rambutnya yang basah, berbicara pelan tentang Sumberarum dan pohon mangga dan hal-hal yang hijau dan basah, apa pun untuk menjauhkan pikiran anak itu dari panas.
Tapi dua orang tak bisa ia selamatkan. Seorang prajurit muda bernama Wagiran, sebaya Wira, yang baru bergabung sebulan lalu, yang punya kebiasaan menyenandungkan lagu-lagu desa dengan suara sumbang. Penyakit menggerogotinya terlalu cepat, dan tubuhnya yang sudah kurus tak punya cadangan untuk melawan. Ia meninggal pada subuh hari ketujuh, dalam tidur yang tampak hampir damai, dan Bara menutup matanya dan mencatat namanya di buku Pak Darmo dengan tangan yang gemetar bukan hanya karena lelah.
Yang kedua adalah salah satu prajurit bala bantuan, yang bahkan tak sempat Bara kenal namanya dengan baik, dan harus bertanya pada teman-temannya untuk menuliskannya dengan benar.
Mereka tak gugur dengan heroik. Tak ada tembakan, tak ada serbuan, tak ada nama yang akan ditulis dalam laporan kemenangan. Mereka hanya meredup dan padam, dikalahkan oleh lalat dan panas dan air kotor, dan itu, dalam beberapa hal, adalah kekejaman yang paling sulit Bara terima. Mati dalam pertempuran setidaknya punya bentuk, punya cerita. Mati seperti ini hanyalah pemborosan yang hampa.
"Air, Bang," bisik Marsudi pada malam terakhir kemarau itu, dalam demam yang mulai surut. "Kalau ada air, mereka nggak akan mati. Cuma butuh air."
Bara menatap ke arah tanah tak bertuan di bawah, ke arah ladang gersang di antara dua garis, dan teringat sesuatu yang ia lihat di peta lama Jaya. Sebuah lingkaran kecil, dengan tulisan tangan tua: sumur.
"Mungkin ada," katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Marsudi. "Mungkin ada air. Tapi di tempat yang tak ada yang bisa mengambilnya tanpa membayar mahal."