BAB I Sosok Anak kecil
Pada waktu itu, aku berada di sebuah pondok pesantren yang letaknya jauh dari pemukiman warga, dan diriku adalah salah seorang santriwati yang berada dipondok tersebut. Sebut saja namaku ifah. Diriku bisa dibilang sangat berbeda dengan santri-santri lain pada umumnya, karena diriku mempunyai kelebihan yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang pada umumnya. Seperti mempunyai teman khayalan dan bisa melihat sekaligus berkomunikasi dengan mereka yang tidak terlihat. Baik komunikasi melalui batin maupun melalui mulut seperti berbicara dengan orang pada umumnya. Aku memiliki teman kamar yang sangat dekat denganku, sampai teman-teman kamar lain bilang kita saudara kandung karena saking dekatnya. Sebut saja namanya Lily. Setiap harinya, sudah tidak diragukan lagi terkadang teman kamarku tercengang. Karena ia merasa ada sesuatu yang janggal ketika melihat diriku bertingkah layaknya orang aneh yang berbicara sendiri. Ketika teman kamarku yang bernama Lily bertanya padaku dengan rasa penasarannya..
“ Fah, tadi kamu bicara sama siapa??” (bertanya sekaligus menoleh kearah ku)
Kemudian diriku menjawab...
“Tidak, aku tidak berbicara dengan siapa-siapa ly” (ujar diriku yang takut dan bercampur gemetar...)
Lily kembali bertanya kepada diriku, karena ia merasa bingung padahal disekitarnya tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya
“mana nggak ada, bukannya cuman ada aku doang??’
Diriku menjawab lagi...
“sudahlah jangan dihiraukan mari kita kembali kekamar...”
Setelah tiba dikamar, aku dan Lily pun melanjutkan untuk membereskan kamar, yang memang kondisi kamar kami berdua sedang berantakan. Tak lama kemudian, aku mendengar suara bisikan dari telinga sebelah kiriku dan disaat yang bersamaan aku melihat ada sesosok anak kecil yang lewat didepanku. Ketika aku menoleh kearah anak kecil tersebut, anak kecil tersebut berlari kearah toilet yang letaknya berada dibawah pohon sawo. Karena tingginya rasa penasaranku, kemudian aku mengikuti arah anak kecil tersebut. Ketika tiba ditempat yang ingin aku tuju, diriku hanya tercengang bercampur bingung karena diriku baru menyadari jika diriku sedang berada di toilet asrama. Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi karena ingin mengetahui kemana anak kecil tersebut pergi, aku mencoba untuk membuka satu persatu pintu toilet tersebut. Setelah membuka satu persatu pintu toilet, aku tidak menemukan apa yang aku harapkan. Dan akhirnya, aku kembali kekamarku untuk istirahat karena jam sudah menunjukan pukul 24.00 WIB atau jam 12 malam. Saat tiba dikamar, Lily menghampiriku dengan penuh penasaran dan kemudian bertanya padaku...
“Kamu tadi kenapa fah? Kok aku perhatiin kamu tadi kearah kamar mandi...” (ujar Lily dengan penuh penasaran)
“Hmmm...aku juga tadi gk sadar masa tiba-tiba aku ada di toilet asrama. Padahal aku tadi lagi beres-beres kamar sama kamu..”
“Iya tadi kan kamu lagi beres-beres kamar bareng aku..” (ujar Lily memastikan)
Dan kemudian aku menceritakan kepada Lily apa yang sebenarnya telah terjadi padaku tadi. Ada sesosok anak kecil yang mengajakku ke suatu tempat, karena rasa penasaranku semakin tinggi dan kemudian aku mengikuti kemana anak kecil tersebut pergi. Setelah aku mengikuti kemana anak kecil tersebut pergi, tak lama kemudian aku menyadari jika diriku berada di toilet asrama. Dan karena rasa penasaranku disitu sangat tinggi, aku membuka pintu toilet asrama satu persatu. Disitu aku baru menyadari jika diriku tadi telah dibawa ke dunia mereka, dan akhirnya aku kembali kekamar.
Setelah berbincang-bincang dengan Lily cukup lama hingga satu jam, kemudian aku dan Lily pun bergegas menuju dipan kami masing-masing untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
BAB II Selembar Kertas
Keesokan harinya...
Diriku bergegas bangun dari tempat tidurku dan bersiap untuk mengikuti kegiatan yang ada dipondok. Ketika aku turun dari dipanku, aku merasa ada yang menarik kakiku dari kolong dipanku. Setelah aku lihat ke kolong dipan, terdapat sesosok anak kecil yang paras dan rupanya sama dengan yang aku lihat kemarin. Tak lama kemudian anak kecil tersebut menghilang entah kemana. Karena diriku memiliki penasaran yang tinggi, aku mencoba untuk berkomunikasi dengan sosok tersebut melalui selembar kertas dengan membuat pertanyaan yang bertanya tentang siapa dirinya dan mengapa bisa selalu mengikuti diriku disaat aku sedang sendiri, dan kemudian aku letakkan kertas dan pulpen dikolong dipanku. Setelah itu aku bersiap untuk mengikuti kegiatan belajar dipondok, tak lama kemudian temanku yang bernama sinta datang menghampiriku dan berkata...
“fah, mari kita ke kelas sudah jam 06.00..” (ujar sinta yang mengajakku bergerak sedikit cepat)
Dan akupun bergegas sedikit cepat menuju kelas bersama dengan temanku sinta. Ketika tiba dikelas, aku bergegas menuju tempat dudukku yang biasa aku tempati yang berada di paling belakang yang letaknya berada di sebelah kiri kelas. Kebetulan teman sebangku ku tidak bisa hadir dikarenakan sedang sakit, mau tidak mau diriku hanya duduk seorang diri. Ketika diriku sedang asyik membaca kitab Aqidatul Awam, diriku merasa seperti ada yang mencolek kakiku dari kolong mejaku. Setelah aku lihat ke kolong mejaku, terdapat sesosok anak kecil yang sosoknya sangat mirip dengan yang aku lihat di kolong dipanku. Karena aku tidak ingin disebut anak aneh dengan teman-teman di kelasku, aku tidak menghiraukan sosok anak kecil tersebut dan aku kembali membaca buku pelajaranku. Tak lama kemudian, diriku merasakan seperti ada selembar kertas di atas kakiku. Setelah aku lihat kearah kakiku, ternyata itu adalah selembar kertas yang tadi pagi aku letakkan di bawah dipanku. Ketika aku membaca kertas tersebut, terjawab sudah sebab sosok anak kecil tersebut yang selalu menghantuiku. Ternyata, anak kecil tersebut ingin bermain dengan diriku dan ingin diriku menjadi teman curhat bagi dirinya. Setelah aku mengetahui apa yang yang diinginkan oleh anak tersebut kepada diriku, aku kembali mengikuti pelajaran yang sedang guruku ajarkan. Tak lama kemudian, bel selesai belajar berbunyi..
KRIIINGGG.......
Kemudian aku segera merapikan buku karena bel pulang sekolah berbunyi, dan pak guru pun meminta kepada satu orang perwakilan untuk memimpin pembacaan doa selesai belajar. Setelah keluar dari kelas, aku mengajak Lily teman kamarku yang kebetulan dia juga teman sekelasku untuk kembali ke asrama bersama karena ada yang ingin aku ceritakan kejadian yang ku alami tadi. Aku menceritakan kepada Lily, jika kejadian yang ku alami dikelas ketika belajar ada kaitannya dengan sesosok anak kecil yang aku temui kemarin malam di toilet asrama. Dan sosok tersebut tentunya juga tidak beda dengan yang ku lihat di kolong dipanku.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Lily, akhirnya kami tiba dikamar. Karena rasa penasaranku semakin memuncak, kemudian aku bertanya-tanya kepada kaka kelas yang bernama Adel. Dan letak kamarnya bersebelahan dengan kamarku.
“Maaf kak Adel, apa aku boleh nanya-nanya sesuatu?”
“Oiya boleh kok dek, emangnya kamu mau nanya apa?”
“Aku mau nanya tentang sosok anak kecil yang badannya pendek, yang suka aku lihat di kolong dipan, toilet asrama sama kolong meja aku. Sosoknya juga sama kok kak, kalo aku perhatiin ” (ujar diriku dengan rasa penasaran)
BAB III Cerita Kak Adel
Kemudian Kak Adel menceritakan semuanya kepadaku yang berkaitan dengan anak kecil tersebut. Terungkap sudah jika anak kecil tersebut adalah anak dari pemilik pondok pesantren tersebut yang meninggal karena sebab yang tidak wajar. Disebabkan oleh seorang satpam yang nekat membunuh anak dari pemilik pondok pesantren tersebut, dan arwahnya belum tenang hingga sekarang. Yang membuat sebagian para santri menjadi terganggu.
Dan satpam yang membunuh anak pemilik pondok pesantren tersebut, akhirnya dibawa ke dokter psikolog untuk diperiksa lebih lanjut kejiwaan satpam tersebut. Dan ternyata setelah dibawa ke dokter psikolog, hasilnya menyatakan jika seorang satpam tersebut mengalami gangguan jiwa yang disebabkan karena masalah rumah tangga. Sehingga menyebabkan stres dalam diri satpam tersebut. Memang sebelum terjadinya masalah di rumah tangga satpam tersebut, ia terlihat baik-baik saja. Bahkan ia terkenal sebagai satpam yang sangat ramah dengan semua santri pondok pesantren ini. Tetapi sejak satpam tersebut memiliki masalah dengan istrinya, dan akhirnya cerai. Satpam tersebut menjadi berubah drastis mulai dari sikap dan omongannya. Yang tadinya memiliki sikap yang ramah, berubah menjadi galak dan tak ramah kepada semua santri. Sehingga membuat para santri membicarakan hal ini kepada pemilik pondok pesantren. Yang membuat satpam tersebut dikeluarkan dari tempat kerjanya sebagai satpam dan dibawa ke dokter psikolog untuk dicek kondisi jiwanya.
Setelah tak ada satpam tersebut, lingkungan pondok tersebut menjadi tenang. Dan kabarnya satpam tersebut sudah agak pulih meskipun terkadang masih suka kumat. Semenjak kejadian itu, banyak santri yang terkadang kerasukan sosok anak kecil tersebut. Karena banyak santri yang pikirannya kosong dan suka melamun. Dan ada juga santri yang bisa melihat langsung karena memang sosok tersebut sengaja ingin menampakkan diri kepada kita dan ingin bermain dengan kita.
Dan setelah Kak Adel menceritakan panjang lebar tentang asal usul anak kecil tersebut, aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Kak Adel karena aku yang sebagai anak baru dipondok ini telah mengetahui siapa sebenarnya sosok anak kecil tersebut. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dan aku pun segera pamit kepada Kak Adel dan segera bergegas ke toilet asrama untuk mandi. Karena pukul 15.00 WIB, kami para santri harus sudah berada di aula untuk melaksanakan sholat ashar berjamaaah.
BAB IV Sosok Lain
Pikiranku tiada hentinya memikirkan sosok satpam yang telah membunuh anak dari pemilik pondok pesantren ini. Saking stresnya bisa sampai memakan korban jiwa, dan salah satu korbannya adalah anak dari pemilik pondok pesantren ini. Ketika di perjalanan menuju toilet asrama, diriku merasa ada barang yang tertinggal dikamar. Karena rasa penasaranku sangat tinggi dengan barang yang tertinggal, aku kembali kekamar untuk memastikan barang apa yang tertinggal. Dan ternyata peralatan mandiku tertinggal diatas ember yang berada didepan kamar. Setelah mengambil peralatan mandi yang tertinggal, aku segera bergegas menuju toilet untuk mandi. Ku buka pintu toilet satu persatu mulai dari toilet paling depan hingga toilet paling pojok. Ketika aku ingin memasuki kamar mandi kedua dari pojok, aku merasa ada yang menemaniku. Dan sosok tersebut seperti seorang wanita yang memakai gamis berwarna hijau, sedang berada ditempat wudhu depan. Rasa penasaran yang terus menghantui pikiranku, dan akhirnya aku menghampiri tempat dimana sosok tersebut berada. Ketika aku berjalan kedepan menuju tempat yang ku maksud, diriku mendengar ketukan pintu dari dalam kamar mandi kelima dari pojok. Tok tok... Setelah ku buka pintunya, tidak ada siapapun didalam kamar mandi tersebut. Dan akhirnya diriku tidak terlalu memperdulikan sosok yang didalam kamar mandi tersebut, karena diriku masih sangat penasaran dengan sosok yang memakai gamis hijau yang ku lihat di tempat wudhu dekat toilet asrama. Aku pun segera menuju tempat tersebut.
Ketika tiba ditempat wudhu yang ku maksud, aku tidak melihat siapapun disana. Dan akhirnya aku segera menuju kamar mandi untuk segera mandi. Tak butuh waktu lama untuk mandi, setelah mandi diriku segera bergegas menuju kamarku dan ingin menceritakan kejadian yang ku alami tadi kepada Kak Adel setelah sholat ashar berjamaah di aula. Tak lama kemudian bel asrama berbunyi, pertanda sholat ashar berjamaah akan segera dimulai..
Kriing.....Kriinggg....
Aku segera bersiap-siap untuk segera bergegas ke aula untuk sholat berjamaah. Karena jika tidak berjamaah, kami para santri disebut melanggar peraturan yang ada dipondok pesantren. Dan akan mendapat hukuman yang sudah ditetapkan dipondok pesantren ini. Aku sendiri pun sudah kena beberapa hukuman, seperti hukuman tidak sekolah karena tidak mengikuti jamaah shubuh di aula, hukuman membawa handuk dan ember ke lapangan karena mandi saat jam belajar pesantren sedang berlangsung, dan hukuman membaca Al Quran tiga juz karena diriku tidak mengikuti hafalan pada waktu yang ditentukan.
BAB V Siapa Dia?
Setelah selesai dari aula, diriku segera bergegas untuk menuju kamar Kak Adel untuk menanyakan kejadian yang telah menimpaku di toilet asrama tadi. Karena selain Kak Adel sudah biasa merasakan hal-hal aneh di pondok pesantren ini, beliau juga memiliki indra keenam yang membuat dirinya bisa melihat mereka yang ghaib. Sama seperti halnya yang dialami oleh diriku. Ketika tiba dikamar, diriku segera membereskan barang-barangku yang berserakan dilantai.
“Kamu mau kemana fah, buru-buru amat?” (tanya Lily kepadaku dengan penuh penasaran)
“Aku mau ke kamar Kak Adel ly, ada yang mau aku tanyain”
Lily memandangku dengan penuh penasaran. Dan melihat tingkahku yang aneh karena terburu-buru. Karena diriku kasihan dengan Lily yang penuh rasa penasaran, kemudian aku mengajak dirinya menuju kamar Kak Adel untuk menanyakan hal yang ku alami tadi siang di toilet asrama.
“Assalamu’alaikum Kak Adel..” (ucap diriku dan Lily saat tiba di depan kamar Kak Adel)
“Wa’alaikumsalam, sini kalian masuk!!” (jawab Kak Adel ketika melihat diriku dan Lily tiba didepan kamarnya)
Kemudian aku menyampaikan kepada Kak Adel maksud kedatanganku dan Lily. Jika maksud kedatangan aku dan Lily adalah untuk menanyakan yang tadi siang ku alami ditempat wudhu dekat toilet asrama untuk kedua kalinya. Dan aku pun mulai menceritakan apa yang tadi ku alami di tempat wudhu dekat toilet asrama, setelah Kak Adel mempersilahkanku untuk memulai cerita. Aku mulai menceritakan ketika diriku ingin memasuki kamar mandi yang jaraknya kedua dari pojok. Ketika diriku ingin memasuki kamar mandi tersebut, diriku merasa ada yang menemaniku ditempat wudhu dekat toilet asrama. Dan pada saat itu, rasa penasaranku semakin memuncak. Hingga akhirnya aku segera bergegas menuju tempat yang ku maksud. Ketika tiba ditempat wudhu yang ku maksud, aku tidak melihat siapapun disana.
Tak lama kemudian, Kak Adel menjawab pertanyaanku tentang sosok wanita di tempat wudhu dekat toilet asrama. Dan ternyata sosok tersebut adalah salah seorang santri pondok pesantren ini. Santri tersebut bunuh diri sekitar tiga tahun yang lalu. Ada salah satu santri dari pondok pesantren ini yang melihat kejadiannya. Dan sempat menahan santri yang ingin bunuh diri tersebut supaya tidak terjadi. Tetapi malah sebaliknya terjadi. Ketika jasadnya ingin segera dibawa kerumah sakit, nyawa santri tersebut tidak tertolong dan akhirnya meninggal dunia.
“Nekat banget si lagian tu orang..” (ujar diriku dalam hati dengan perasaan kesal)
Santri tersebut diduga karena mentalnya terganggu, yang disebabkan oleh teman-temannya yang suka membully dirinya. Dan ada laporan dari beberapa guru dipesantren ini, bahwa santri tersebut juga memiliki masalah keluarga yang menyebabkan santri tersebut menjadi korban Broken Home.
“Kasihan juga..” (ujar diriku dalam hati lagi)
Setelah beberapa lama Kak Adel menceritakan kronologi kejadian sosok hantu wanita di toilet asrama, aku dan Lily pun segera berterimakasih kepada kak Adel yang sudah menceritakan. Dan akhirnya aku dan Lily kembali kekamar untuk bersiap ke aula. Karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
BAB VI Jangan Ganggu Dia!!
Aku dan Lily pun segera bergegas menuju aula untuk mengikuti kegiatan sholat maghrib berjamaah, dan mengaji bersama di aula seusai sholat maghrib. Satu jam sudah terlampaui untuk mengaji bersama dan sholat isya berjamaah di aula, kemudian aku dan para santri lain segera menuruni anak tangga yang letaknya disamping aula. Untuk kembali kemar dan segera bersiap untuk mengikuti jam belajar dikelas. Setelah 2 jam lamanya diriku belajar malam dikelas, jam di dinding kelasku sudah menunjukkan pukul 21.00 atau jam 9 malam. Tak lama kemudian bel selesai belajar malam pun berbunyi. KRIIINGGG.
Aku dan teman-teman kelas segera merapikan buku untuk bergegas kembali kekamar. Ketika di perjalanan menuju kamar, diriku melihat sosok anak kecil yang suka mengajakku bermain sedang mengikuti Lily dari belakang. Dan kebetulan Lily ingin menuju toilet sekolah.
“Heii jangan ganggu dia!! (ujar diriku kepada sosok yang mengikuti Lily)
Yang akhirnya membuat Lily menengok kearahku dengan memasang wajah bingung.
“Kamu kenapa fah??” (ujar Lily kepadaku dengan penuh rasa penasaran)
“Hmmmm..nggk kok aku gpp!!” (ujar diriku dengan perasaan panik karena Lily melihat kearahku)
Lily pun melanjutkan perjalanannya menuju toilet sekolah yang jaraknya sekitar 30 m dari kamar. Aku segera bergegas untuk kembali kekamar untuk menaruh buku yang ku pegang. Setelah tiba dikamar, diriku segera merapikan buku untuk besok sekolah, dan segera bersiap untuk tidur. Tak lama kemudian, Lily tiba dikamar dan segera bertanya kepadaku yang sebenarnya terjadi kepada diriku. Dan diriku mulai menceritakan kejadian yang tadi ku lihat dengan mata kepalaku. Aku menceritakan ketika diriku melihat sosok anak dibelakang Lily. Dan ingin mengganggu dirinya.
“Ah kamu nakut-nakutin aku aja..” (ujar Lily dengan paniknya)
“Bener Ly, ngapain banget aku nakut-nakutin kamu..” (ujar diriku memastikan)
Dan akhirnya aku dan Lily segera menuju tempat tidurku untuk segera beristirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 22.00 atau jam 10 malam. Setelah sekian lamanya kita saling bercerita tentang keanehan yang terjadi pada diriku tadi.
BAB VII Nasehat Kak Adel
Keesokan harinya...
Diriku segera bergegas bangun dari tempat tidurku dan segera membangunkan Lily. Karena jam sudah menunjukan pukul 04.45, dan kami harus segera melaksanakan sholat shubuh berjamaah di aula. Setelah selesai sholat shubuh berjamaah di aula, tiba-tiba muncul kembali dalam pikiranku untuk menanyakan kejadian yang ku lihat tadi malam. Aku segera bergegas untuk kembali kekamar menaruh mukena dan cepat-cepat menuju kamar Kak Adel untuk menanyakan kejadian tadi malam.
Ketika didepan kamar Kak Adel, aku segera mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Tok..tok..tok..Assalamualaikum Kak Adel”
“Waalaikumsalam, iya fah ada perlu apa??”
“Aku mau nanya tentang sosok anak kecil yang waktu itu pernah aku ceritain ke kk. Kenapa ya kak, sosok itu udah nggak ganggu aku lagi tapi sekarang jadi ganggu temen aku?”
Dan kemudian Kak Adel menceritakan yang sebenarnya. Bahwa sosok tersebut memang masih belum tenang karena waktu itu meninggal dalam keadaan tidak wajar. Meskipun dia suka menampakkan diri, dan ingin mengajak kita main. Tetapi sosok tersebut tidak pernah iseng sedikitpun kepada kita. Kita sebagai orang yang bisa melihat hal-hal seperti itu harus bisa bersikap biasa saja, seperti seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Karena Kak Adel sangat tidak tega dengan diriku yang berulang kali sering melihat hal-hal yang aneh, kemudian Kak Adel mengajak aku dan teman-teman kamar lain untuk mendoakan sosok yang sering ku lihat. Supaya arwah mereka tenang.
Setelah semua teman-temanku terkumpul di kamar Kak Adel, kami memulai untuk membacakan doa kepada mereka yang sudah mendahului kita tetapi belum tenang dialamnya. Dan kami pun memulai pembacaan doanya, yang berlangsung sekitar 1 jam. Setelah selesai pembacaan doa, aku dan teman-teman berterimakasih kepada Kak Adel, dan segera kembali kekamar masing-masing untuk bersiap pergi ke sekolah. Karna jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Semenjak Kak Adel mengajak aku dan teman-temanku untuk melakukan doa bersama, sudah tidak ada lagi hal-hal yang mengganggu diriku. Baik kejadian disaat aku sendiri maupun sedang bersama teman-temanku. Dan diriku juga sudah tidak dianggap seperti orang aneh dan aku menjalani hari-hariku dengan tenang dan tidak merasa terganggu seperti teman-temanku yang lain.
-Tamat-