Lorong rumah sakit kembali dipenuhi aktivitas yang nyaris tidak pernah berhenti. Perawat berjalan cepat sambil membawa berkas pasien, beberapa dokter berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, sementara keluarga pasien memenuhi kursi-kursi di sepanjang lorong dengan wajah cemas dan lelah.
Di tengah kesibukan tersebut, Vonna berjalan bersisian dengan Althaf. Keduanya sama-sama mengenakan jas dokter, membuat keberadaan mereka cukup mudah menarik perhatian. Beberapa perawat yang berpapasan bahkan sempat menoleh, lalu buru-buru memberikan salam sebelum kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Althaf berusia tiga puluh enam tahun dan dikenal sebagai salah satu dokter bedah jantung terbaik di rumah sakit tersebut. Keahliannya membuat namanya disegani, bukan hanya oleh pasien dan keluarga mereka, tetapi juga oleh dokter-dokter lain yang sudah lebih dulu berpengalaman.
Ia tidak banyak bicara, tetapi hampir semua orang di rumah sakit mengenal reputasinya. Sementara itu, Vonna merupakan dokter bedah umum yang usianya beberapa tahun lebih muda. Kariernya juga berkembang dengan baik. Ia memiliki kemampuan yang tidak kalah mengesankan dan telah menangani cukup banyak kasus yang membuat namanya dikenal di lingkungan rumah sakit.
Keduanya sama-sama memiliki reputasi. Hanya saja, alasan orang-orang memperhatikan mereka sedikit berbeda. Althaf dikenal karena prestasi dan keahliannya. Vonna dikenal karena prestasi sekaligus kecantikannya.
“Sepertinya Haifa besok izin, Dok.” Vonna membuka percakapan setelah beberapa saat berjalan dalam diam.
Althaf tetap melangkah tanpa mengubah ekspresinya. “Saya sudah mengatakan tadi. Saya tidak akan memaksanya masuk kalau kondisinya memang tidak memungkinkan.”
Vonna tersenyum tipis. “Dia sebenarnya keras kepala.”
“Saya tahu.” Jawaban singkat itu membuat Vonna menoleh.
“Kok Dokter tahu?”
Althaf masih menatap lurus ke depan. Langkahnya tidak berubah sedikit pun. “Dia mahasiswa saya.”
Vonna tertawa kecil. “Benar juga.”
Mereka kembali berjalan dalam diam. Suara langkah kaki dan aktivitas rumah sakit terdengar mengisi ruang di antara keduanya.
Beberapa meter kemudian, Vonna kembali bertanya, “Lalu surat keterangannya?”
“Kamu siapkan saja.” Althaf akhirnya memperlambat langkah ketika mereka tiba di sebuah persimpangan lorong. Ia berhenti sejenak dan menoleh kepada Vonna. “Berikan kepada saya sebelum kalian pulang.”
Vonna mengangguk. “Baik, Dok.” Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya. Ia sudah cukup lama mengenal Althaf. Dan, seperti banyak perempuan lain di rumah sakit ini, Vonna tidak bisa menyangkal bahwa dirinya juga menyukai pria tersebut. Perasaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Namun, Vonna cukup sadar diri untuk tidak pernah mengungkapkannya secara terang-terangan.
Althaf bukan pria yang mudah didekati. Ia jarang memulai percakapan jika tidak ada kepentingan. Tidak banyak yang pernah melihatnya berbicara santai dengan seseorang di luar urusan pekerjaan. Ia juga tidak pernah terlihat sengaja mendekati perempuan mana pun. Bahkan ketika beberapa dokter perempuan berusaha menarik perhatiannya, Althaf tetap tenang seolah tidak menyadari apa pun.
Sikap tersebut justru membuatnya semakin menarik perhatian. Karena itulah, gosip mengenai kedekatan Vonna dan Althaf cukup sering terdengar di antara para staf rumah sakit. Mereka sama-sama dokter, bekerja di lingkungan yang sama, dan Vonna merupakan salah satu dari sedikit orang yang cukup sering berinteraksi dengan Althaf tanpa terlihat canggung.
Ditambah lagi, Vonna memang memiliki kecantikan yang membuatnya mudah menjadi pusat perhatian. Rambut hitam lurusnya hampir mencapai pinggang. Mata cokelatnya bening, dengan bulu mata lentik dan kulit yang selalu tampak terawat. Ketika tersenyum, wajahnya terlihat semakin menarik. Tidak mengherankan jika banyak orang menganggap Vonna cocok berdiri di samping Althaf. Namun, Vonna sendiri tidak pernah merasa perlu menanggapi anggapan tersebut.
Ia tahu bagaimana Althaf. Pria itu tidak menyukai perhatian berlebihan, terlebih jika perhatian tersebut datang dalam bentuk gosip.
“Dok.” Suara Vonna membuat Althaf kembali menoleh. “Saya permisi. Harus kembali.”
Althaf mengangguk singkat. “Baik.”
“Surat Haifa nanti saya berikan.”
“Semoga Haifa lekas sembuh.”
Vonna sempat terdiam sepersekian detik mendengar kalimat itu. Bukan karena perkataannya aneh, melainkan karena Althaf jarang mengatakan sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan. Namun, Vonna segera tersenyum. “Terima kasih, Dok.”
Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju ruangannya.
Althaf pun melanjutkan langkah ke arah berlawanan. Seperti biasa, setiap kali berpapasan dengan dokter atau perawat, ia hanya memberikan anggukan singkat sebagai balasan atas sapaan mereka. Tidak lebih. Wajahnya tetap tenang dan sikapnya terukur. Banyak orang merasa segan berbicara langsung dengannya jika tidak memiliki keperluan. Bukan karena Althaf kasar. Justru sebaliknya, ia selalu bersikap profesional kepada siapa pun.
Hanya saja, ia memiliki batas yang sangat jelas. Tidak banyak orang yang mengetahui alasan di balik sikap tersebut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ada satu cerita yang sesekali masih menjadi bahan bisik-bisik di antara para staf rumah sakit.
Konon, pernah ada seorang dokter spesialis ortopedi yang menyukai Althaf. Perempuan itu bahkan tidak pernah bersikap berlebihan. Ia tidak mengejar Althaf, tidak memaksakan kedekatan, dan tidak pernah membuat keributan hanya untuk mendapatkan perhatian pria tersebut.
Ketika akhirnya menyatakan perasaannya, ia melakukannya secara pribadi dan dengan cara yang cukup hati-hati. Namun, sehari setelah itu, perempuan tersebut dipindahkan ke rumah sakit lain. Tidak pernah ada penjelasan resmi dan tidak ada yang tahu apakah keputusan tersebut benar-benar berkaitan dengan Althaf atau hanya sebuah kebetulan yang terjadi pada waktu yang sama.
Sejak saat itu, sebagian besar perempuan di rumah sakit memilih cara yang lebih aman. Mengagumi Althaf dari jauh. Selain karena sikapnya, ada satu hal lain yang membuat orang semakin berhati-hati.
Althaf adalah putra pemilik rumah sakit tersebut. Rumah sakit itu didirikan oleh kakeknya puluhan tahun lalu dan kemudian diteruskan oleh ayahnya. Nama keluarga Althaf sudah melekat begitu kuat dengan institusi tersebut hingga hampir semua orang mengetahui latar belakangnya. Meski begitu, Althaf tidak pernah menggunakan status keluarganya untuk bersikap semena-mena.
Ia tidak pernah memerintah seseorang hanya karena merasa memiliki kuasa. Tidak pernah pula menunjukkan bahwa dirinya menganggap orang lain lebih rendah. Namun, semua orang tetap mengetahui posisi keluarganya. Dan tidak ada yang ingin mengambil risiko.
Althaf akhirnya tiba di gedung khusus kardiovaskular.
Gedung tersebut berdiri tidak jauh dari bangunan utama rumah sakit, tetapi suasananya jauh lebih tenang. Berbeda dengan gedung utama yang menjadi pusat berbagai fasilitas, mulai dari ruang rawat inap, IGD, ruang operasi, hingga berbagai departemen lainnya, gedung kardiovaskular memang lebih difokuskan pada pelayanan dan administrasi yang berkaitan dengan sistem kardiovaskular.
Ruang kerja Althaf berada di lantai dasar. Pintu otomatis terbuka begitu ia mendekat. Althaf masuk tanpa banyak memperhatikan keadaan sekitar. Setelah melewati meja administrasi, ia berjalan menuju ruangannya. Begitu pintu tertutup, suara hiruk-pikuk dari luar terdengar jauh lebih samar.
Althaf meletakkan beberapa berkas di atas meja, kemudian menarik kursinya dan duduk. Ia bersandar sejenak. Rumah sakit milik keluarganya memang sangat besar. Begitu besar sampai berpindah dari satu gedung ke gedung lain terkadang membutuhkan waktu lebih lama daripada yang seharusnya. Karena itu, jika tidak ada keperluan khusus, Althaf lebih sering menghabiskan waktunya di gedung kardiovaskular.
Di sanalah sebagian besar pekerjaannya berada. Ia hanya perlu berpindah ke gedung utama ketika ada pasien yang harus ditangani. Althaf mengambil salah satu berkas dari atas meja. Namun, baru beberapa detik membaca halaman pertama, pikirannya kembali kepada Haifa. Benjolan di dahi gadis itu, tatapan kesalnya, juga cara Haifa berusaha menyembunyikan rasa sakit seolah tidak terjadi apa-apa kembali terlintas begitu saja.
Yang paling mengganggu pikirannya adalah tatapan Haifa sebelum mereka berpisah tadi. Hanya beberapa detik, tetapi Althaf mengenal tatapan itu dengan baik. Ia tahu apa yang tidak bisa mereka katakan di depan Vonna. Ada terlalu banyak hal yang harus mereka simpan ketika berada di tempat umum, terlebih di rumah sakit tempat setiap gerak-gerik mereka mudah diperhatikan.
Hubungan mereka selama ini memang harus disimpan baik-baik. Tidak seorang pun boleh mengetahuinya, terutama keluarga mereka. Bagaimanapun juga, hubungan antara seorang dosen dan mahasiswanya masih terlalu rumit untuk diketahui banyak orang. Ada batas profesional yang harus mereka jaga, belum lagi perbedaan usia dan posisi yang membuat hubungan tersebut mudah disalahartikan.
Althaf menurunkan pandangan pada berkas di tangannya. Sebenarnya ia ingin menghubungi Haifa, sekadar memastikan gadis itu sudah pulang dengan selamat atau menanyakan apakah kepalanya masih terasa sakit. Namun, ia tahu dirinya tidak bisa melakukannya sekarang. Tidak setelah Vonna melihat mereka bersama, dan tidak ketika ia masih berada di lingkungan rumah sakit.
Althaf mengembuskan napas perlahan. Sore itu, untuk pertama kalinya, pekerjaan di hadapannya terasa lebih sulit mendapatkan seluruh perhatiannya. Matanya memang tertuju pada halaman berkas yang terbuka, tetapi tidak satu pun kalimat yang benar-benar ia pahami.
Tanpa sadar, sudut bibirnya bergerak tipis ketika kembali teringat keluhan Haifa tentang perawat yang gugup karena dirinya dan Vonna masih berada di ruang IGD. Senyum itu hanya bertahan sesaat sebelum kembali menghilang, seolah Althaf baru menyadari bahwa dirinya telah tersenyum.
Ia menyandarkan tubuh pada kursi. Haifa memang selalu seperti itu. Keras kepala, banyak mengeluh, dan memiliki cara tersendiri untuk membuat keadaan sederhana menjadi lebih ramai. Namun, entah sejak kapan, semua kebiasaan kecil itu justru menjadi sesuatu yang paling mudah ia ingat.
Dan yang lebih menyebalkan, Haifa selalu berhasil membuatnya tersenyum, bahkan ketika ia sendiri tidak berniat melakukannya. Althaf meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Jempolnya berhenti sesaat di atas layar ketika nama Haifa muncul di sana. Hanya dengan satu sentuhan, ia bisa mengirim pesan dan menanyakan keadaan gadis itu. Namun, setelah beberapa detik, Althaf mengurungkan niatnya.
Belum sekarang. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja, lalu mengambil pena. Untuk sementara, mereka harus tetap menjadi dua orang yang tidak memiliki hubungan apa pun selain dosen dan mahasiswa. Setidaknya sampai tiba waktunya bagi mereka untuk berhenti bersembunyi.
Althaf kembali menatap berkas di hadapannya. Ia belum tahu bahwa keputusan kecil untuk tidak menghubungi Haifa sore itu kelak akan menjadi salah satu hal yang paling ia sesali sebab mungkin tidak selamanya ia akan bisa melakukannya.