"Nggak, Pa! Livia nggak mau menikah dengan pria itu!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Livia. Tubuhnya terdorong, lalu jatuh ke lantai. Sambil memegang pipinya yang perih, ia menatap tak percaya pada ayahnya. Pandangannya berkunang-kunang; tak menyangka akan mendapat pukulan dari tangan pria yang seharusnya melindunginya.
"Kurang ajar!" bentak Johan Mahendra dengan wajah merah padam. "Kamu pikir hidupmu ini kamu biayai sendiri? Sejak kecil, aku yang membesarkanmu dengan uangku! Saat ibumu membuangmu ke panti asuhan, siapa yang menjemputmu? Aku! Dan sekarang kamu menolak membalas budiku?"
Livia menahan air mata. Tangannya gemetar menopang tubuh. Kata-kata ayahnya terasa lebih tajam daripada tamparan tadi—menusuk langsung ke jantungnya.
"Papa, aku nggak bisa... Aku bahkan nggak mengenalnya. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang belum pernah kutemui?" Suaranya bergetar penuh rasa takut.
Johan berjongkok, lalu merenggut kasar kerah kemeja Livia hingga wajah rapuh putrinya berhadapan langsung dengan wajahnya yang beringas.
"Tidak ada penolakan! Kalau kamu menolak, jangan harap bisa tinggal di rumah ini lagi!"
Livia terdiam. Kalimat itu menghantam hatinya lebih keras daripada pukulan fisik mana pun.
Padahal ia adalah anak kandung Johan, namun kenapa perlakuan ayahnya sangat berbeda jauh dengan kakak tirinya, Salsa?
Perusahaan Mahendra berada di ambang kebangkrutan. Julian Group bersedia berinvestasi asalkan Johan menikahkan salah satu anaknya dengan putra sulung mereka. Namun, rumor tentang putra sulung itu sangat mengerikan—ia disebut cacat, mengidap penyakit menular, bahkan ada yang menebak usianya sudah sangat tua.
Karena Julian Group ditolak oleh perusahaan lain, hanya Johan yang bersedia menerima tawaran itu demi uang. Namun, ia tak ingin mengorbankan anak kesayangannya, Salsa.
Ia memilih menyerahkan Livia, anak dari istri pertamanya.
"Papa..." Suara Livia parau. Air matanya mengalir membasahi pipi yang masih terasa panas. "Aku ini putrimu, Pa. Kenapa Papa tega? Aku cuma ingin menikah dengan pria yang kucintai, bukan dengan orang asing."
Johan bangkit dan terkekeh sinis. "Cinta?" Ia meludah ke samping dengan jijik. "Menikah dengan cinta tidak akan memberiku uang atau saham! Jangan naif, Livia. Tanpa aku, kamu hanyalah anak buangan yang akan membusuk di jalanan!"
Johan menyentakkan kakinya hingga pegangan Livia terlepas, lalu menunjuk wajah putrinya dengan kasar. "Kamu tidak punya hak menolak. Selama kamu hidup dengan uangku, kamu harus patuh. Keputusanku final, kamu akan menikah dengan Nico Julian!"
Di meja makan, Bella—ibu tirinya—hanya melirik sekilas sambil tersenyum puas. Di sampingnya, Salsa tertawa kecil sambil menutup mulut, menikmati tontonan itu seolah-olah Livia hanyalah hiburan murahan.
"Berdiri!" bentak Johan. Ia menyeret paksa lengan Livia menuju pintu, lalu mendorongnya hingga terhempas ke lantai teras. Lutut Livia tergores aspal.
"Jika kamu tidak mau menikah, keluar! Kembalikan semua uang yang kugunakan untuk membiayaimu sejak kecil, dua kali lipat! Pergi temui ibumu yang dulu membuangmu itu! Minta dia membayar semua utangmu padaku. Sekarang, rasakan hidup tanpa uang dariku!"
Brak! Pintu ditutup keras.
Livia mendekap wajahnya, menangis tersedu di kegelapan malam.
Selama tinggal di rumah ini, ia tak pernah dianggap sebagai anak, melainkan pembantu. Ia harus bangun pagi, menyiapkan sarapan, dan membersihkan seluruh rumah sendirian karena ayahnya enggan menyewa asisten rumah tangga selama Livia bisa dipekerjakan secara gratis.
Bahkan uang jajan pun tak pernah ia rasakan. Namun, ia tetap bersyukur karena selama ini masih bisa bersekolah.
Sayangnya, kini semua pengorbanannya justru dibalas dengan pengusiran kejam.
Langkah Livia terhuyung di sepanjang trotoar. Lampu jalan menyinari wajahnya yang sembap, sementara sepatu hak yang ia kenakan mulai menyiksa di setiap langkah.
Namun, rasa sakit di kaki itu tak sebanding dengan hancurnya hati Livia malam ini.
Ia akhirnya berhenti di sebuah taman kota yang sepi, menengadahkan wajah ke langit malam yang buram karena air mata. Dengan jari gemetar, ia merogoh ponsel yang nyaris mati lalu menekan satu nama: Shelly. Ibunya—satu-satunya tempat pulang yang masih ia harapkan.
"Halo?" Suara di seberang menjawab malas.
"Ma... ini aku, Livia," bisik Livia bergetar.
"Oh, kamu. Ada apa telepon malam-malam?" Nada Shelly terdengar kesal.
"Ma, aku... aku diusir. Apa aku boleh menginap di rumah Mama?"
Hening sejenak. Livia menahan napas penuh harap, namun jawaban yang keluar justru menusuk jantungnya.
"Kalau mau menginap, bawa uang. Mama butuh banyak hal; uang belanja, tagihan, juga untuk suamiku. Kalau tidak punya uang, jangan harap bisa tinggal di sini!"
Dada Livia sesak. Harapan terakhirnya sirna.
Shelly berkata lagi, nada suaranya tetap terdengar ketus, "Johan tidak memberi uang sepeser pun sebelum mengusirmu?"
Livia terdiam, tangannya meremas ujung kemeja sambil menahan isak. "Ma... Papa mengusirku karena aku menolak menikah dengan orang asing."
Bukannya iba, Shelly justru mendengus keras. "Harusnya kamu terima saja! Kamu selalu keras kepala, makanya jadi begini. Lagi pula itu untuk masa depanmu juga. Kamu ini bagaimana, sih!"
"Ma..." Suara Livia akhirnya pecah. "Aku..."
Namun, Shelly tetap tidak peduli. "Aku tidak butuh alasanmu, Livia. Aku butuh uang. Minggu depan kirimkan uang, suamiku butuh biaya dan aku mau beli barang branded!"
"Tapi, Ma, aku tidak punya apa-apa..." Livia menggenggam ponselnya erat. "Papa bahkan mengusirku dan meminta mengganti semua biaya hidup yang pernah dikeluarkannya untukku."
Sejenak hening di ujung telepon. Livia sempat berharap ibunya mungkin akan luluh, namun kata-kata yang dilontarkan sang ibu justru sama menyakitkannya.
"Kalau begitu, bayar aku karena sudah melahirkanmu! Itu jauh lebih besar dari biaya hidupmu selama ini!" Shelly tertawa sinis. "Kamu terlalu bodoh, Livia! Dunia tidak butuh orang yang cuma bisa menangis. Jangan hubungi aku lagi kalau tidak ada uang!"
Tut... tut... Sambungan terputus.
Livia menatap layar ponselnya yang gelap dengan tatapan kosong. Ia benar-benar sendirian, ditolak oleh dua orang yang seharusnya melindunginya.
Tiba-tiba saja, layar ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan masuk:
[Aku Nico Julian. Malam ini, kita bertemu. Ada hal yang perlu aku bicarakan.]
Nama itu—pria yang disebut ayahnya sebagai calon suami.
Livia ragu, namun perutnya yang melilit lapar dan kenyataan bahwa ia tak punya tempat berteduh memaksanya menyerah.
Sebuah restoran mewah.
Livia melangkah masuk dengan jantung berdebar. Beberapa pengunjung melirik sinis ke arahnya. Dengan kemeja kusam, celana jeans, dan luka berdarah di lutut, ia merasa seperti gelandangan di tengah kemewahan itu.
Hingga sebuah langkah tegap mendekat. Livia mendongak dan napasnya seolah tercekat. Seorang pria berjas hitam dengan wajah dingin dan tatapan tajam berdiri di hadapannya. Wibawanya begitu menekan hingga Livia spontan menunduk.
Pria itu duduk tanpa basa-basi. "Jadi, kamu Livia Alessandra?" tanyanya datar.
"I-iya, aku Livia."
Baru saja Livia hendak bicara, pria itu menyodorkan map cokelat tebal ke meja. "Baca," titahnya singkat.
Jemari Livia gemetar membuka map tersebut. Matanya membelalak membaca judul di halaman pertama: KONTRAK PERNIKAHAN.
Nico menyandarkan tubuh, menyilangkan tangan dengan ekspresi beku. "Aku tidak tertarik dengan cinta atau omong kosong pernikahan. Aku hanya butuh syarat untuk memenuhi keinginan ayahku. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu uang dalam jumlah besar."
Livia menelan ludah, membaca halaman demi halaman dengan keterkejutan yang nyata.
"Anggap saja ini transaksi," lanjut Nico tajam. "Kamu akan jadi istriku di hadapan ayahku. Di luar itu, kita adalah orang asing. Tidak lebih."