Jam di dinding katedral sudah menunjuk tepat pukul sebelas siang. Tepat satu jam sejak jadwal seharusnya tangan calon suaminya menggenggam tangan Daisy, berjalan beriringan di lorong bunga menuju altar untuk mengucap janji setia seumur hidup. Namun, lorong itu masih kosong, dan pintu besar itu tak pernah terbuka bersama sosok yang dinantikannya masuk.
Daisy Garter duduk sendirian di kursi kayu keras ruang tunggu, gaun pengantin putihnya yang elegan berkilau di bawah cahaya jendela kaca patri. Ia menatap layar ponselnya yang dingin, lalu menekan kembali nomor Edwin untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.
Pesan-pesannya tak terbalas, seakan pria itu sudah tak lagi peduli dengan keterlambatan acara pernikahan mereka. Nada sambung terdengar berulang-ulang, nyaris terputus, hingga akhirnya suara itu terdengar.
"Halo, Daisy ..." Napas Edwin terengah-engah, tak beraturan. "Maaf, sepertinya aku tak bisa datang di pernikahan kita hari ini ... ada masalah serius yang harus kutangani!"
Dahi Daisy berkerut, hatinya mencelos. "Masalah apa? Di mana kau, Edwin? Semua orang sudah menunggu—"
Suara lain menyela, renyah dan mendesak, terdengar begitu jelas di seberang telepon. "Aahh ... Sayang ... tutup teleponnya ... uuhh ... aku nyaris sampai, sedikit lagi ... aarrrghh!"
Darah seketika mendidih di wajah Daisy, pipinya memerah padam bukan karena malu semata, melainkan karena perih yang menusuk ulu hati. Ia mengenali suara itu. Ia sudah mendengarnya dalam bisik-bisik, dalam kecurigaan yang selama ini ia tolak untuk percaya.
"Angela ..." ucapnya pelan sekaligus tegas. "Itu Angela Carrington, bukan?"
Hening sejenak di seberang sana, lalu suara Edwin terdengar terburu-buru dan kasar. "Ummhh ... yes ... sudah dulu, Daisy. Aku sedang sibuk sekarang!"
Panggilan terputus. Layar ponsel kembali gelap.
Di ruang tunggu yang sunyi itu, Daisy menurunkan ponselnya perlahan, seakan benda itu tiba-tiba menjadi seberat batu. Edwin benar-benar tidak datang. Ia justru berada di tempat lain, di pelukan wanita lain yaitu Angela Carrington. Rekan kerjanya, wanita yang selama ini menjadi rahasia tersimpan di balik senyuman dan janji-janji manis yang tak pernah ditepati.
Setetes air mata lolos dari sudut matanya, mengalir membasahi pipi, sedikit melunturkan garis eyeliner yang ia kenakan dengan teliti pagi itu. Daisy menutup matanya, menarik napas panjang yang terasa sesak di d**a.
"Apa yang harus kulakukan?" bisiknya dalam keheningan.
Ia teringat hari-hari beberapa tahun lalu saat ia menyimpan gajinya, menabung setiap sen. Daisy menolak membeli hal-hal yang diinginkannya, demi membiayai pernikahan ini. Semua ini dari gaun, bunga, katedral, jamuan, berasal dari keringatnya sendiri.
Edwin hanya melamar, lalu membiarkan ia menanggung semuanya sendirian. Dan sekarang, di detik yang paling menentukan, ia meninggalkannya.
Daisy mengusap air matanya dengan punggung tangan, menarik bahunya tegak. "Aku tak mungkin membiarkan para tamu menunggu sampai senja," ucapnya lantang, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Bukan Edwin yang akan malu hari ini. Kalau ada yang malu, itu aku ... tapi aku tak akan lari."
Ia menggenggam buket mawar putih di tangannya, mengangkat kepala, dan melangkah keluar dari ruang tunggu. Pintu katedral terbuka lebar, dan Daisy berjalan sendirian menyusuri lorong panjang itu.
Ratusan pasang mata tertuju padanya, ada yang heran, ada yang kasihan, ada yang berbisik-bisik. Ia menatap lurus ke depan, membiarkan kenangan melintas saat ia menyerahkan undangan acara ini satu per satu, tersenyum bahagia, menceritakan tentang pria yang ia cintai, tentang masa depan yang ia impikan. Semua itu kini hancur, tapi ia tetap melangkah.
Sampai di depan altar, ia menoleh kepada pendeta, lalu mengulurkan tangan meminta mikrofon. Napasnya tersendat sejenak, lalu ia berbicara dengan suara yang bergetar.
"Maaf sudah membuat Anda sekalian menunggu. Pernikahan ini dibatalkan. Mempelai pria tidak dapat hadir ... dan saya juga telah berubah pikiran untuk melanjutkan hubungan kami. Sekali lagi ... mohon maaf."
Suasana seketika riuh. Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Beberapa tamu tertawa sinis, beberapa menggelengkan kepala.
"Perempuan biasa bermimpi terlalu tinggi!" terdengar suara samar.
"Resepsionis takkan pernah pantas dengan seorang manajer ..."
Daisy menunduk, rasa malu membakar kulit pipinya. Ia ingin lenyap saat itu juga.
Namun tiba-tiba, sebuah suara berat dan tegas menggema di segenap ruangan, menenggelamkan keributan itu.
"Kalau begitu ... aku yang akan menjadi pengantin pria pengganti untukmu, Daisy!"
Semua mata beralih ke arah sumber suara. Daisy mendongak perlahan, matanya membelalak tak percaya. Di barisan depan, seorang pria berdiri tegak. Perawakannya jangkung, berwibawa, mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, rambut hitamnya tertata rapi, sepasang mata kelabu menatapnya lekat-lekat.
Itu adalah Ashton Kremlin, pemilik perusahaan sekaligus CEO tempat Daisy dan Edwin bekerja selama lima tahun terakhir. Pria yang tak pernah bicara berlebihan, yang berdiri jauh di atas semua orang, yang namanya saja sudah membuat segenap ruangan hening.
Langkahnya mantap menyusuri lorong bunga itu, menuju altar tempat Daisy berdiri gemetar. Ia berhenti tepat di samping gadis itu, menatapnya lembut tapi tak ada keraguan.
"Mister Ashton." Daisy tergagap, mundur selangkah. "Anda ... Anda tak perlu repot-repot begini ..."
"Namaku Ashton, Daisy. Tak perlu terlalu formal menyebutku Mister Ashton," jawabnya tegas. "Dan aku tidak mengatakannya karena kasihan. Aku mengatakannya karena sejak lama aku seharusnya berdiri di sini."
Daisy menatapnya, napasnya tertahan. Ia tak berani berharap. Mana mungkin seorang sekaya, sehebat, dan berkuasa seperti Ashton Kremlin datang menjadi pangeran penyelamat baginya. Dia gadis biasa yang hanya bekerja sebagai seorang resepsionis yang kini ditelantarkan di altar.
Namun, tatapan pria itu tulus, dalam, dan tak bisa dibohongi.
"Kau tak tahu saja, betapa seringnya aku memperhatikanmu, Daisy," bisik Ashton hanya untuk didengarnya. "Dan betapa inginnya aku berdiri di tempat Edwin sejak dulu. Biarkan hari ini menjadi awal yang benar, bukan sekadar pengganti."
Daisy menelan ludah, jantungnya berpacu kencang. Di hadapannya berdiri bukan sekadar penyelamat sesaat, melainkan seseorang yang ternyata diam-diam telah memerhatikannya.
"Anda pasti bercanda, Sir!" bisik Daisy seolah kehilangan suaranya.
Namun, Ashton menggeleng lalu berbicara ke pendeta yang masih bertugas memimpin acara pernikahan sakral itu.
"Father, tolong lanjutkan prosesi pernikahannya!" ucapnya tanpa ragu.
Maka Pendeta Bernard Callaghan menenangkan hadirin dan mulai berkata, "Sekarang kita dikumpulkan di tempat kudus ini untuk menyaksikan penyatuan sepasang kekasih untuk mengucap janji suci, setia menjalani kehidupan rumah tangga hingga nanti maut memisahkan. Bila ada yang berkeberatan, silakan bicara atau tidak sama sekali untuk selamanya."
Seisi ruangan berlangit-langit luas dengan lukisan penciptaan dunia oleh Tuhan itu sunyi senyap. Semua yang hadir hanya tamu yang terdiri dari teman-teman kantor Daisy dan beberapa kenalannya. Keluarga Edwin Lamark pun ternyata tidak ada yang hadir. Sungguh di luar dugaan Daisy, pria itu sangat tidak bertanggung jawab.
"Lanjutkan saja, Father!" Ashton menatap lurus ke pendeta. Tangannya kokoh menggenggam telapak tangan Daisy yang basah dan sedingin es. Ia berbisik, "Rileks, aku akan bertanggung jawab penuh sebagai suamimu nanti, Daisy Garter!"
Pipi gadis itu merah seperti kepiting rebus. Ini jelas di luar imajinasi terliarnya sekalipun.