Jebakan kedua dirancang sempurna, tanpa kawat tembaga, tanpa celah.
Belajar dari kegagalan tes pertama, Alana membuat tiga versi informasi palsu yang berbeda, masing-masing hanya diketahui satu orang, dan disampaikan dalam ruangan yang Reza jamin bebas penyadap — di mobil yang terus bergerak, satu per satu, secara terpisah. Pada Bu Lestari, ia menyebut sebuah nomor rekening tertentu sebagai "jalur dana cadangan rahasia". Pada Reza, nomor rekening lain. Pada satu orang ketiga — yang kehadirannya di daftar mengejutkan dirinya sendiri saat ia menuliskannya — nomor rekening ketiga.
Orang ketiga itu adalah Pak Hartono, kepala bagian hukum internal Wijaya. Lelaki yang sudah dua puluh tahun di perusahaan. Yang dulu dipercaya Bramantyo. Yang selama ini Alana anggap bagian dari perabotan setia gedung itu, seperti dinding dan lantai.
Lalu Alana menunggu. Ketiga nomor rekening itu palsu, masing-masing dipantau diam-diam. Jika ada yang menyentuhnya, mengintainya, mencari tahu — Reza akan tahu rekening mana, dan dengan demikian, mulut mana yang bocor.
Tiga hari kemudian, jawabannya datang. Bukan dari rekening Bu Lestari. Bukan dari rekening Reza.
Rekening yang diberikan pada Pak Hartono ditelusuri oleh sebuah firma intelijen swasta yang, ketika Reza melacaknya balik, bermuara ke jaringan pembayaran yang sama dengan Garda Prima — yang sama dengan Sentra Abadi.
Alana duduk lama menatap laporan itu. Bukan Sekar. Tidak pernah Sekar. Kelegaan itu nyata dan menyakitkan sekaligus, karena ia harus jujur pada dirinya sendiri bahwa ia sempat meragukan perempuan yang setiap hari berdiri di sisinya. Tapi di atas kelegaan itu, ada pukulan lain: Pak Hartono. Kepala hukum. Orang yang membaca setiap kontrak, setiap surat, setiap strategi pertahanan. Selama ini, setiap rencana hukum yang Alana susun, ia susun di hadapan seorang mata-mata.
Ia tidak langsung menangkapnya. Ia mengamatinya selama dua hari, dengan tenang, mengumpulkan jejak: panggilan telepon ke nomor yang sama, transfer kecil yang masuk ke rekening keluarganya dari perusahaan cangkang, pola izin keluar kantor yang bertepatan dengan setiap kebocoran besar — termasuk hari Wibisana ditabrak, termasuk malam dokumen racun dikirim ke Bank Arta Sentosa. Semua cocok.
Saat bukti lengkap, Alana memanggil Hartono ke kantornya. Hanya berdua. Tanpa drama. Ia meletakkan map berisi seluruh jejak di atas meja dan mendorongnya pelan.
Hartono membukanya. Membaca. Dan tubuh tuanya seolah mengempis di kursi.
"Sejak kapan?" tanya Alana, suaranya datar. Bukan marah. Lebih lelah.
Lelaki itu lama tak menjawab. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Sejak sebelum ayahmu meninggal, Nak Alana."
Sesuatu di dada Alana mengeras. "Sejak sebelum Ayah meninggal."
"Mereka punya sesuatu tentang anak saya. Hutang judi, masalah hukum — saya tidak akan membela diri, itu tidak ada gunanya. Surya tahu setiap kelemahan orang sebelum dia mendekat. Dia tidak merekrut dengan uang. Dia merekrut dengan ketakutan." Hartono mengangkat wajah, mata basah. "Saya memberi mereka informasi. Tapi sumpah, Nak — saya tidak tahu mereka akan menabrak Wibisana. Saya tidak tahu sejauh itu."
Alana menatapnya lama. Ada bagian dirinya yang ingin meledak, yang ingin menyalahkannya atas mobil di jalan tol, atas malam-malam ia tidur dengan rasa curiga pada Sekar. Tapi bagian yang lebih besar, bagian yang ia warisi dari kedinginan strategis ayahnya dan dari nuraninya sendiri, melihat lebih jauh.
"Pak Hartono," katanya akhirnya, "Bapak punya dua pilihan. Saya serahkan Bapak ke polisi sekarang, dengan seluruh bukti ini, dan karier serta kebebasan Bapak berakhir hari ini juga. Atau—" ia berhenti, "Bapak tetap duduk di kursi itu. Bapak terus melapor pada Surya. Tapi mulai sekarang, apa yang Bapak laporkan adalah apa yang saya izinkan Bapak ketahui."
Hartono mengangkat wajah, tak percaya.
"Saya tidak menawarkan ini karena kasihan," kata Alana. "Saya menawarkannya karena seorang pengkhianat yang ketahuan jauh lebih berharga daripada yang dipenjara. Bapak sudah menjadi telinga Surya selama ini. Sekarang Bapak akan menjadi mulut saya yang berbicara ke telinganya. Dan ketika semua ini selesai, kesediaan Bapak bekerja sama akan saya pertimbangkan di hadapan hukum. Itu satu-satunya jalan agar anak Bapak tidak kehilangan ayahnya di penjara."
Pengkhianat itu terungkap. Bukan Sekar — tidak pernah Sekar. Dan dalam ironi yang pahit dan indah, kebocoran terbesar Alana baru saja berubah menjadi senjata paling tajamnya.