Alana tidak tidur. Ia duduk di ruang kerja apartemennya dengan empat nama tertulis di kertas, dan menatapnya seperti seorang panglima menatap peta yang dikhianati.
Bu Lestari. Reza. Sekar. Dirinya sendiri.
Logika menyingkirkan dua nama dengan cepat. Dirinya, jelas. Reza — bila Reza pengkhianat, ia sudah punya seluruh isi kartu memori dan tak butuh permainan ini; lagipula Reza-lah yang menemukan penyadap dan foto lama, ia bisa saja menyembunyikannya. Tinggal dua: Bu Lestari, ketua audit forensik yang baru tiga minggu bekerja untuk Wijaya, dan Sekar.
Naluri Alana berteriak Sekar mustahil. Tapi naluri ayahnya juga pernah berteriak bahwa Surya sahabatnya, sebelum semuanya runtuh. Ia memutuskan untuk tidak mengandalkan naluri. Ia akan mengandalkan jebakan.
Esok paginya, Alana memanggil keduanya secara terpisah. Pada Bu Lestari, ia berkata pelan dan rahasia bahwa ada satu saksi baru yang akan bertemu dengannya — seorang mantan kurir dokumen PT Bahari — di sebuah kafe di Kelapa Gading, Kamis sore, pukul empat. Pada Sekar, ia memberi cerita berbeda: saksi yang sama, tapi di sebuah hotel di Bandung, Jumat siang. Dua umpan, dua lokasi, dua waktu. Saksi itu tidak ada. Tapi siapa pun yang membocorkan, akan membocorkan versi yang ia dengar.
Lalu Alana menempatkan orang Reza untuk mengamati kedua lokasi.
Selama dua hari menunggu, Alana hampir tidak bisa menatap Sekar tanpa rasa bersalah menggerogoti perutnya. Sekar tetap setia seperti biasa — membawakan berkas, menyaring telepon, mengingatkan jadwal, bahkan membawa obat sakit kepala saat melihat Alana memijat pelipisnya. Setiap kebaikan kecil itu terasa seperti tuduhan terbalik pada kecurigaan Alana sendiri.
Kamis sore, kafe Kelapa Gading. Orang Reza melapor: tidak ada yang datang mengintai. Tidak ada mobil mencurigakan, tidak ada orang yang berkeliaran menunggu saksi yang tak pernah muncul.
Jumat siang, hotel Bandung. Lapor berbeda. Dua orang berpakaian rapi, salah satunya dikenali dari basis data Reza sebagai operator lapangan Garda Prima, menunggu di lobi selama dua jam, lalu pergi dengan kecewa.
Bandung. Versi yang ia berikan pada Sekar.
Alana merasa lantai seolah miring. Ia duduk sangat lama di kantornya, foto pernyataan setia Sekar tiga bulan lalu masih terngiang. *Bapak Anda menyekolahkan adik saya. Saya berutang segalanya pada keluarga ini.*
Tapi sesuatu mengganjal. Alana memutar ulang setiap detail. Ia memberi tahu Sekar tentang Bandung di ruang kerjanya — di kantor yang masih disadap. Ia memberi tahu Bu Lestari tentang Kelapa Gading di ruang rapat kecil lantai 24 yang sudah disapu bersih oleh Reza minggu lalu.
Kebocoran Bandung bisa berasal dari mulut Sekar. Atau dari mikrofon di gagang teleponnya.
Alana menghela napas panjang, kelegaan dan frustrasi bercampur. Tesnya cacat. Ia telah berbicara di tempat yang tidak setara aman, dan hasilnya tak bisa menuduh siapa pun secara adil. Sekar mungkin bersih; penyadaplah yang menangkap Bandung. Atau Sekar memang berkata pada seseorang.
Ia membutuhkan tes yang lebih bersih. Dan kali ini, ia harus menyusunnya tanpa satu pun lubang — di ruangan yang benar-benar bisu, dengan informasi yang hanya bisa ditularkan oleh manusia, bukan oleh kawat tembaga.
Tapi satu hal sudah pasti sekarang, dan itu menggigit lebih dalam dari sebelumnya: pengkhianat itu nyata. Ia ada di antara mereka. Dan sampai Alana menemukannya, setiap rencana yang ia susun di gedung itu adalah rencana yang dibisikkan langsung ke telinga Surya Danuatmaja.