Pukul dua dini hari, kantor di lantai 26 hanya diterangi layar laptop. Alana memutar ulang kartu memori ayahnya untuk kesekian kali. Reza, teknisi dari Singapura, duduk di seberang meja dengan kabel dan pembaca data berserakan di antara cangkir kopi yang sudah dingin.
"Ada folder yang sebelumnya tidak terbaca," kata Reza, mendorong laptopnya. "Terenkripsi lapis kedua. Aku pakai potongan kata sandi dari surat tulisan tangan ayahmu. Tahun perpecahan. Ternyata berhasil."
Layar memuat satu per satu berkas gambar. Foto-foto lama, butiran kasar, hasil pindai cetakan analog. Sebagian Alana kenali: ayahnya muda, Pakde Wira, gedung kantor pertama Wijaya yang dulu hanya tiga lantai. Lalu satu foto membuat napasnya tertahan.
Sebuah restoran. Meja bundar. Bramantyo muda di satu sisi, tersenyum kaku. Di sisi lain, seorang lelaki yang Alana kenali sekarang dari rambutnya yang kini perak: Surya Danuatmaja, jauh lebih muda. Dan di antara mereka, duduk seseorang yang membuat jari Alana membeku di atas trackpad.
"Itu..." Reza menyipit. "Aku kenal wajah itu."
Alana memperbesar gambar. Lelaki bertubuh tegap, kacamata tebal, garis rahang yang tiga puluh tahun kemudian melonggar tapi tak berubah. "Hendra Salim," bisik Alana. "Tahun foto ini... lihat tanggal di bawahnya."
Reza mencondongkan badan. "Tulisan tangan ayahmu di balik pindaian. 'Pertemuan vendor, kuartal dua.' Tahun sembilan puluh tujuh."
Tahun sembilan puluh tujuh. Setahun sebelum perpecahan. Selama ini cerita resmi menyatakan Hendra masuk Wijaya Group sebagai akuntan junior pada awal dua ribuan, jauh setelah Surya dibuang. Bahwa ia tak punya kaitan dengan masa lalu. Bahwa ia hanya birokrat serakah yang membesar di kursi keuangan dua dekade kemudian.
Tapi foto ini menunjukkan Hendra duduk semeja dengan Surya dan Bramantyo, di restoran yang sama, setahun sebelum semuanya runtuh.
"Mereka saling kenal sejak awal," kata Alana pelan. Otaknya menyusun ulang setiap kepingan. "Hendra bukan baru direkrut Surya belakangan ini. Mereka punya sejarah. Sebelum aku lahir."
Reza menggeser ke foto berikutnya. Sebuah dokumen difoto: notula pertemuan dengan tiga tanda tangan di bawah. Bramantyo. Surya. Dan tanda tangan ketiga yang berbelit, sulit dibaca, tapi inisialnya jelas — H.S.
"Kalau Hendra ada di ruangan saat keputusan-keputusan tahun sembilan puluh delapan dibuat," kata Reza, "dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dana yang hilang itu."
Alana menyandarkan punggung. Selama ini ia memandang papan catur dengan keliru. Surya di puncak, Hendra bawahan yang baru direkrut. Padahal mungkin Hendra adalah saksi mata satu-satunya yang masih hidup dan masih di dalam gedung ini — pria yang setiap hari naik ke lantai 25, tersenyum padanya di rapat, dan menyimpan kunci masa lalu di lipatan ingatannya.
"Kenapa Ayah menyimpan foto ini terenkripsi terpisah?" Alana lebih bertanya pada dirinya sendiri.
"Karena dia tahu nilainya," jawab Reza. "Dan mungkin karena dia belum yakin bagaimana memakainya. Atau pada siapa dia bisa percaya untuk menyimpannya."
Alana menyalin seluruh folder ke dua hard disk terenkripsi. Satu ia kunci di brankas pribadi di apartemen. Satu ia titipkan pada Reza untuk dibawa keluar negeri. Aturan pertama yang ia pelajari dari ayahnya, terlambat: bukti yang hanya ada satu salinan adalah bukti yang siap dihancurkan.
"Besok," kata Alana, menutup laptop, "aku tidak akan menjepit Hendra dengan tuduhan mark-up vendor lagi."
"Lalu?"
"Aku akan menunjukkan padanya foto ini. Dan melihat tangannya gemetar." Alana menatap pantulan dirinya di jendela kaca, kota Jakarta berkelip jauh di bawah. "Orang yang menyimpan rahasia tiga puluh tahun paling takut pada satu hal: ketahuan bahwa dia menyimpannya."
Di luar, langit masih hitam. Tapi untuk pertama kalinya sejak palu notaris itu nyaris jatuh, Alana merasa ia memegang sesuatu yang lebih tajam daripada angka di neraca. Ia memegang waktu — masa lalu yang dikira semua orang sudah terkubur.